Banjir 80 cm di Sayung: Warga Naik Rakit, Sekolah Toleran
Gambar atau konten salah?
Di RT 2 RW 3 Dusun Sayung Kidul, Desa Sayung, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, banjir telah memaksa warga, termasuk pelajar, menggunakan rakit untuk pergi ke sekolah dan pulang. Satu hari, setelah menaruh sepeda motor di depan kampung yang belum terendam, seorang pelajar berusia 15 tahun, Muhammad Ziddan Kafi Ibrahim, melepas sepatu dan celana sekolahnya. Dengan cepat, ia melompat dari satu rakit ke rakit lain. Setelah sampai di rakitnya, dengan tenaga yang tersisa, Ziddan mengayuh menggunakan bambu panjang menuju rumah.
“Anak sekolah di sini ada sekitar 20, naik getek biar nggak basah karena banjir ketinggian sekitar 50‑80 sentimeter,” kata Ziddan sambil mengayuh. Ia menambahkan, “Sejak kurang lebih enam bulan naik getek, banjirnya memang sudah selama itu nggak surut.”
Sejak enam bulan lalu, banjir di kampungnya tidak kunjung reda. Akibatnya, Ziddan terkadang harus membolos sekolah. “Pernah bolos, mengungsi ke rumah saudara di Semarang soalnya banjirnya sudah tinggi. Alhamdulillah sekolah juga mengerti kalau yang kena banjir itu ndak papa kalau misal ndak bisa berangkat,” ungkapnya.
Ziddan, yang masih remaja, tidak tahu mengapa banjir berlangsung lama di kampungnya. Ia hanya berharap genangan air itu cepat surut agar bisa berangkat sekolah tanpa lelah. “Pengennya cepat surut, karena kalau seperti ini terus berangkat sekolah harus lebih pagi, tenaga juga sudah habis gara‑gara bawa getek, di sekolah ngantuk,” pungkasnya.
Menurut Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (Dinputaru) Demak, Naning Prih Hatiningrum, wilayah Sayung termasuk wilayah cekungan. Hal ini membuat air di sana bertahan lebih lama. “Nemang posisi Sayung atau kalau kita lihat secara geografis di peta itu cekungan ya, termasuk wilayah yang terdalam dibandingkan lokasi yang ada di kanan kirinya,” jelas Naning lewat sambungan telepon.
“Oleh karenanya memang ketika terjadi hujan atau debit air yang tinggi pasti di situ akan menjadi cukup lama air akan bertahan di situ, genangan yang cukup lama,” tambahnya. Untuk mengatasi banjir di Sayung Kidul dan Lengkong, Pemkab Demak melakukan pompanisasi, yaitu memompa air dari permukiman ke sungai.
Naning juga menyebutkan adanya sedimentasi di sungai. “Setuju dan itu memang faktanya, itu yang seperti yang panjenengan lihat dan apa yang disampaikan oleh warga, memang ada sedimentasi yang cukup tinggi karena memang daerah muara nggih menjadi muaranya sedimentasi juga tapi ada upaya‑upaya yang kita lakukan salah satunya adalah normalisasi,” ungkapnya. Ia menegaskan bahwa meski kewenangan tersebut tidak sepenuhnya berada di kabupaten, pemkab tetap melakukan normalisasi sungai-sungai yang masuk ke Sayung atau melewati wilayah tersebut.
Rakit menjadi alat transportasi utama bagi warga. Mereka harus naik getek setiap kali berangkat atau pulang sekolah. Banjir ketinggian 50‑80 sentimeter membuat jalan biasa tidak dapat dilewati. Kegiatan ini memaksa pelajar seperti Ziddan untuk mengatur jadwal lebih awal, sehingga seringkali mereka kelelahan sebelum berdiri di bangku sekolah.
Di sisi lain, sekolah di SMP Negeri 1 Karangtengah menunjukkan pengertian. Menurut Ziddan, pihak sekolah tidak menolak siswa yang tidak dapat hadir karena banjir. “Sekolah juga mengerti kalau yang kena banjir itu ndak papa kalau misal ndak bisa berangkat,” ia menegaskan.
Upaya pemkab, seperti pompanisasi dan normalisasi sungai, masih dalam tahap berlangsung. Namun, warga menantikan hasil yang lebih cepat. Mereka berharap banjir dapat segera surut agar kehidupan sehari‑hari, termasuk pendidikan, dapat berjalan normal tanpa harus bergantung pada rakit.
Dengan kondisi geografis cekungan, air di Sayung memang cenderung menahan diri lebih lama. Hal ini menjadi tantangan bagi pemkab dalam menurunkan risiko banjir. Meski begitu, langkah-langkah yang diambil menunjukkan adanya komitmen untuk mengatasi masalah. Di tengah kondisi ini, warga tetap berusaha menyesuaikan diri, memastikan anak-anak tetap dapat menuntut ilmu meski harus naik getek.
Kesimpulannya, banjir di Sayung Kidul telah memaksa warga, terutama pelajar, menggunakan rakit untuk berangkat dan pulang sekolah. Meskipun pemkab Demak sudah melakukan pompanisasi dan normalisasi sungai, kondisi geografis cekungan membuat air bertahan lama. Sekolah menunjukkan pengertian terhadap siswa yang tidak dapat hadir karena banjir. Warga berharap banjir cepat surut agar kehidupan sehari‑hari, termasuk pendidikan, dapat kembali normal.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Ossy Dermawan: Solusi Lahan Sawah di Jawa Tengah 2026
Seleksi PPPK Guru Sekolah Rakyat 2026 Buka 3-15 Juni: Lulusan PPG
Jembatan Batang A: Lalu Lintas Satu Lajur, Rute Alternatif
Gubernur Jateng Atur Ulang Anggaran 2026 untuk Perbaikan Jalan
SPMB Jateng 2026: Pendaftaran Murid Baru Buka Resmi
Kobra Jawa Didampingi Relawan Dilepas dari Rumah di Klaten
