Banjir Palembang: Drainase Menyempit, Sampah di Saluran
Gambar atau konten salah?
banjir di Palembang sering menjadi sorotan, namun menurut Akhdam Bastari, Asisten III Pemkot, penyebabnya tidak semata-mata hujan. Ia menegaskan bahwa hujan hanyalah pemicu, sedangkan masalah utama terletak pada drainase yang menyempit, lahan yang beralih fungsi, dan kebiasaan masyarakat membuang sampah di saluran air.
“ Saya tidak ingin menyebutkan bahwa banjir disebabkan oleh hujan. Daya dukung alam kita sudah tidak mampu lagi menerima air dari hujan. Drainase kita sudah beralih fungsi, drainase kita sudah menyempit, lahan kita sudah beralih fungsi,” ujarnya, Kamis 07 Mei 2026.
“ Ditambah lagi, ada tangan-tangan kita juga yang membuang sampah di tempat penampungan air, di atas drainase,” sambungnya. Bastari menegaskan bahwa infrastruktur pengendali banjir tidak akan efektif tanpa perawatan yang konsisten.
“Saya sudah sampaikan ke teman-teman PU, jangan lagi kita membangun kalau kita tidak bisa merawatnya. Kita jangan membangun pompa kalau kita tidak bisa merawatnya,” tegasnya. Ia menyoroti bahwa pembangunan tidak boleh hanya menjadi tanggung jawab pemerintah; perawatan saluran air memerlukan keterlibatan masyarakat.
“Sarana di suatu jalan dibangun oleh pemerintah, operasi maintenance-nya oleh pemerintah, tapi ini tidak bisa hanya pemerintah. Mulai dari kita yang di depan rumah itu, pembersihan di depan rumah, harus kita rawat bersama-sama,” ujarnya. Bastari menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan warga dalam menjaga kebersihan saluran.
Ia juga mengemukakan beberapa pendekatan yang perlu segera dilaksanakan. Mulai dari pembangunan infrastruktur penampung air, pembenahan tata ruang, hingga peningkatan kekompakan dan responsivitas antara pemerintah dan masyarakat. “Kalau kita selalu tidak kompak, tidak responsif, maka hasilnya tidak akan maksimal seperti manapun program yang dibuat,” katanya.
Dalam penutupnya, Bastari menolak sikap saling menyalahkan. Ia mengajak semua pihak untuk bergerak lebih cepat dan lebih kompak. “Kita jangan mencari siapa yang salah, tapi kita mencari siapa yang siap. Siap bekerja, dan siap berkolaborasi. Kita tidak bisa bekerja biasa-biasa saja. Kita harus lebih cepat dan kita harus lebih kompak,” tuturnya.
Perubahan struktur drainase, pengelolaan sampah, dan partisipasi aktif masyarakat menjadi kunci dalam mengurangi frekuensi banjir di Palembang. Tanpa kerja sama antara pemerintah dan warga, upaya pembangunan infrastruktur akan tetap terbatas.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Progres Sekolah Rakyat Bengkulu Capai 96,91 Persen
Gubernur Jambi Minta Guru dan Kiai Bentengi Anak dari Narkoba
Tiga Pabrik Tahu di Palembang Ditutup karena Limbah
BKSDA Selidiki Jejak Diduga Harimau di Muratara
BMKG Pantau Muka Air Laut Akibat Erupsi Gunung Anak Krakatau
Penumpang Wanita 18 Tahun Diduga Lompat dari KMP Batumandi
Berita Terbaru
Romário Minta Ancelotti Dipecat Usai Brasil Tersingkir
BMKG: Bandung Cerah Jumat, 12-28 Derajat
Surabaya Cerah Hari Ini, Suhu Capai 32 Derajat
Sukra Pon Medangsia: Panduan Lengkap Hari Baik 10 Juli 2026
Prancis vs Maroko: Duel Perempat Final Piala Dunia 2026
KONI Jakarta Jadi Guru Besar Kepelatihan Panahan
Prediksi Martin: Spanyol Vs Norwegia di Final Piala Dunia
Jadwal Sholat Bandung 10 Juli 2026 Lengkap