BEI Rilis Daftar Saham HSC, Bukan Vonis Kualitas Emiten

Mira T. · 3 min baca · 44 menit lalu · 19 dibaca
Bisik.id
BEI Rilis Daftar Saham HSC, Bukan Vonis Kualitas Emiten

Gambar atau konten salah?

Konsentrasi kepemilikan saham yang tinggi, atau yang dikenal dengan High Shareholding Concentration (HSC), tidak selalu berarti buruk. Fenomena di mana saham dikuasai oleh segelintir pihak justru bisa menunjukkan loyalitas pemiliknya terhadap perusahaan.

Pengamat pasar modal, Hans Kwee, punya pandangan sendiri soal ini. Menurutnya, pemegang saham pengendali biasanya sangat yakin dengan prospek bisnis perusahaan yang mereka kendalikan. Mereka juga berkomitmen penuh untuk mendukung pertumbuhan perusahaan dalam jangka panjang.

"Dari sudut pandang fundamental dan komitmen korporasi, kepemilikan saham yang dominan oleh grup pengendali atau afiliasi memperlihatkan tingkat kepercayaan dan komitmen jangka panjang yang sangat kuat dari pendiri terhadap prospek bisnisnya," jelas Hans dalam keterangannya pada Sabtu, 24 Oktober 2026.

Ada dua sisi yang perlu dipertimbangkan investor. Pertama, Hans menilai bahwa pengendali yang tidak menjual sahamnya menunjukkan keyakinan terhadap nilai fundamental perusahaan. Keyakinan ini jauh lebih tinggi dibandingkan harga saham yang beredar di pasar saat ini.

Kedua, perusahaan yang dikuasai oleh konglomerasi besar biasanya punya dukungan modal yang kuat. Mereka juga punya akses pendanaan yang lebih luas. Kemampuan menjaga keberlangsungan operasional bisnis pun lebih terjamin.

"Mereka berkomitmen menjaga keberlangsungan ekspansi bisnis perusahaan secara jangka panjang. Dukungan modal yang kuat, perusahaan dengan jangkar pengendali konglomerasi besar cenderung memiliki ketahanan finansial yang sangat solid, akses pendanaan yang kuat, serta tata kelola operasi yang terjaga," tambah Hans.

Tapi jangan salah. Ada juga tantangan di balik saham-saham HSC. Saham kategori ini hanya punya porsi terbatas yang bisa diperdagangkan di publik, atau yang disebut effective free float. Akibatnya, frekuensi dan volume transaksi harian saham cenderung lebih rendah.

Hans mengingatkan, kondisi ini membuat harga saham lebih gampang berfluktuasi ketika ada transaksi dalam jumlah tertentu. Karena itu, masuknya saham milik grup konglomerasi besar ke daftar HSC harus dipahami sebagai upaya BEI memperkuat transparansi pasar modal. Bukan sebagai penilaian negatif terhadap kualitas emiten.

"Masuknya saham-saham dari grup konglomerasi besar ke dalam daftar HSC harus dimaknai sebagai upaya penataan infrastruktur transparansi bursa, bukan vonis atas kualitas emiten tersebut. Secara fundamental, emiten-emiten tersebut tetap memiliki operasional yang solid dan kinerja bisnis yang riil. Langkah BEI ini justru memperkuat reputasi pasar modal Indonesia agar makin dipercaya oleh investor domestik maupun internasional," tegas Hans.

BEI sendiri sudah mengumumkan sejumlah saham milik grup konglomerasi yang masuk dalam daftar HSC. Tapi perlu digarisbawahi, masuknya saham-saham ini bukan berarti ada pelanggaran di pasar modal.

"Penting untuk ditegaskan kepada publik bahwa masuknya suatu saham ke dalam kategori High Shareholding Concentration bukan merupakan bentuk pelanggaran aturan pasar modal, melainkan sebuah indikator karakteristik struktur kepemilikan saham," ungkap Hans.

Hans menilai kebijakan HSC ini positif. Langkah ini sejalan dengan praktik bursa internasional, seperti yang dilakukan Hong Kong Exchange dalam memperkuat keterbukaan informasi bagi investor.

Menurutnya, kebijakan ini menjawab masukan investor global dan lembaga indeks terkait kredibilitas IHSG sebagai acuan pasar modal Indonesia. Dengan menyesuaikan porsi saham HSC dalam perhitungan IHSG, pergerakan indeks diharapkan lebih mencerminkan saham-saham yang likuid dan aktif diperdagangkan.

Berikut daftar perusahaan konglomerasi yang masuk kategori HSC:

Sinar Mas Group

  • PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR) - HSC 99,58%
  • PT MSIG Life Insurance Indonesia Tbk (LIFE) - HSC 99,21%
  • PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) - HSC 95,76%
  • PT Golden Energy Mines Tbk. (GEMS) - HSC 99,24%
  • PT Ekamas Mora Republik Tbk. (MORA) - HSC 95,65%

Salim Group

  • PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET) - HSC 98,06%
  • PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA) - HSC 94,79%
  • PT DCI Indonesia Tbk (DCII) - HSC 99,69%
  • PT Perdana Bangun Pusaka Tbk (KONI) - HSC 95,08%

Mayapada Group

  • PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO) - HSC 99,99%
  • PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ) - HSC 97,21%
  • PT Bank Mayapada Internasional Tbk (MAYA) - HSC 96,68%

Lippo Group

  • PT Multipolar Technology Tbk. (MLPT) - HSC 99,42%
  • PT Siloam International Hospitals Tbk. (SILO) - HSC 96,70%

Grup Djarum

  • PT Global Digital Niaga Tbk (BELI) - HSC 93,83%

Intinya, HSC bukanlah stigma negatif. Ini lebih kepada upaya transparansi. BEI ingin pasar modal Indonesia lebih dipercaya. Saham-saham dengan konsentrasi tinggi ini tetap punya fundamental bisnis yang kuat. Hanya saja, likuiditasnya di pasar mungkin tidak sebesar saham lain. Investor perlu memahami karakteristik ini sebelum memutuskan untuk berinvestasi.

Konsentrasi SahamHigh Shareholding ConcentrationHSCPasar ModalTransparansi BursaInvestorKonglomerasi

Komentar

Memuat komentar...