BEI Temui MSCI, Cegah Status Pasar RI Turun Lagi
Gambar atau konten salah?
Bursa Efek Indonesia (BEI) bergerak cepat. Mereka ingin bicara langsung dengan MSCI dan para investor global. Tujuannya jelas: mengembalikan kepercayaan. Kapitalisasi pasar Indonesia di indeks MSCI sudah jatuh 55%.
Iding Pardi, Direktur Pengembangan BEI, bilang pihaknya akan menjalankan semua masukan dari MSCI. Ia juga berjanji akan menggali lebih dalam apa yang menjadi kekhawatiran lembaga penyedia indeks global itu dan investor di seluruh dunia.
"Kami komunikasi dengan MSCI dan investor global secara reguler ya. Apa yang kami lakukan sejauh ini itu juga berdasarkan masukan dari investor global juga. Nah tentu dengan pengumuman terakhir ini kami akan gali lebih jauh lagi concern-concern mereka," kata Iding kepada wartawan, Jumat 16 Oktober 2026 lalu.
BEI tidak tinggal diam. Iding menegaskan, pihaknya akan terus melanjutkan agenda reformasi pasar modal. Komitmennya jelas: meningkatkan kualitas pasar modal Indonesia dan melaporkan perkembangannya ke MSCI.
"Again, komitmen kami adalah terus melakukan reformasi yang sudah kami lakukan, kami perbaiki quality-nya, apa evidence-evidence-nya, ukuran-ukuran efektivitasnya juga akan kami komunikasikan," jelasnya.
Lalu, apakah ada potensi dana keluar besar-besaran atau outflow akibat pemangkasan status MSCI? Iding mengaku BEI tidak punya angka pastinya. Sebab, keputusan untuk menarik dana dari pasar modal sepenuhnya ada di tangan masing-masing investor global.
"Kami tidak bisa memproyeksikan dan tidak bisa apa, memperkirakan berapa yang keluar, again itu bergantung pada keputusan tentunya investor global dengan kondisi seperti ini," pungkasnya.
MSCI saat ini sedang membuka konsultasi untuk reklasifikasi status pasar modal Indonesia. Dalam proposalnya, status Indonesia terancam turun dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Ini bukan kabar baik.
Data MSCI menunjukkan, sejak Januari hingga 30 September 2026, kapitalisasi pasar Indonesia anjlok drastis. Dari sebelumnya US$ 119,14 miliar, kini hanya tersisa US$ 53,35 miliar. Itu artinya turun 55% hanya dalam sembilan bulan.
"Sejak 1 Januari 2026, kapitalisasi pasar indeks total telah turun 55%," tulis proposal konsultasi MSCI.
Bukan cuma kapitalisasi yang menyusut. Bobot saham Indonesia di MSCI juga ikut merosot. Dari 1,16% menjadi hanya 0,43%. Jumlah konstituen saham Indonesia juga berkurang. Tadinya ada 18 perusahaan, kini tinggal sembilan hingga akhir September 2026.
Bagaimana rincian bobot sektor untuk Indeks MSCI Indonesia? Sektor keuangan mendominasi dengan 71,71%. Disusul layanan komunikasi 10,70%, industri 7,81%, bahan baku 6,34%, dan energi 3,44%.
Penurunan kapitalisasi pasar yang begitu tajam dan ancaman penurunan status MSCI menjadi sinyal kuat bahwa pasar modal Indonesia sedang menghadapi tekanan besar. Langkah BEI untuk menjalin komunikasi lebih erat dengan MSCI dan investor global adalah respons yang wajar, namun efektivitasnya akan sangat tergantung pada reformasi nyata yang bisa ditunjukkan ke depan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
IHSG Anjlok 11,57%, MSCI Ancam Turunkan Status Pasar Modal RI
OJK Denda BREN, CUAN, dan DSSA Triliunan Rupiah
Bank Mandiri Buka Suara soal Gadai Saham Haji Isam
MSCI Ancam Turunkan Status Pasar Modal Indonesia
MSCI Ancam Turunkan Status Pasar Modal RI
IHSG Diprediksi Masih Tertekan, Support di 5.092
Berita Terbaru
Antrean BBM di Bali Mulai Landai
reNIKOLA Teken Kontrak Gas Limbah Sawit 15 Tahun
Pasokan Pertalite Sulut Naik 30%, Antrean SPBU Mulai Terurai
Danantara Tetapkan 34 Lembaga untuk Biayai Proyek Sampah Jadi Listrik
Kilang Plaju Produksi 295.263 Barel Avtur
IHSG Anjlok 11,57%, MSCI Ancam Turunkan Status Pasar Modal RI
OJK Denda BREN, CUAN, dan DSSA Triliunan Rupiah
