Belut Jepang: Biaya Lab Turun 1.800 Yen, Pasar Teruji

Dewi M. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 50 dibaca
Bisik.id
Belut Jepang: Biaya Lab Turun 1.800 Yen, Pasar Teruji

Gambar atau konten salah?

Populasi ikan sidat, atau belut Jepang, menurun drastis di seluruh dunia. Penyebabnya sebagian besar berasal dari aktivitas manusia: polusi air, hilangnya lahan basah, pembangunan bendungan, dan penangkapan berlebihan. Akibatnya, belut menjadi hampir tidak dapat berkembang biak secara alami.

Di Jepang, para ilmuwan akhirnya berhasil menumbuhkan belut dari telur di laboratorium pada 29 Mei 2010. Proses ini memakan biaya tinggi, sehingga harga jual belut budidaya tetap jauh di atas belut liar. Namun, sejak tahun fiskal 2016, para peneliti telah menurunkan biaya per ekor hingga 1.800 yen (sekitar Rp 200.728). Sebelumnya, biaya budidaya berada di kisaran 40.000 yen (sekitar Rp 4,4 juta) per ekor.

Berbagai inovasi kecil, seperti perbaikan sistem pemeliharaan dan pakan, membantu menekan biaya. Meskipun harga masih tiga sampai empat kali lebih tinggi dibanding belut liar, proyek ini dianggap sebagai langkah penting untuk menguji reaksi pasar terhadap belut budidaya.

Yasutaka Okamoto, petinggi badan perikanan, menyatakan, “Jika ini saat tepat menguji reaksi pasar.” Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara peneliti, pemerintah, universitas, dan sektor swasta. Kolaborasi ini bertujuan mempermudah komersialisasi belut budidaya secara menyeluruh.

Belut Jepang, yang secara biologis merupakan ikan sidat, memiliki sirip dan sisik halus. Dagingnya lembut, empuk, dan tidak kenyal. Di Jepang, belut biasanya disajikan dalam bentuk kabayaki, yaitu dipanggang dengan saus manis.

Yamada Suisan, perusahaan budidaya yang memproduksi belut kabayaki, mengklaim bahwa ini adalah produk pertama di dunia yang dihasilkan dari budidaya belut. Mereka juga menegaskan bahwa langkah ini tepat untuk meningkatkan komersialisasi belut budidaya sepenuhnya.

Belut kabayaki yang dihasilkan dijual mulai 29 Mei 2010 di sebuah toko di Tokyo. Harga satu ekor belut kabayaki berkisar antara 900 ribu hingga 1 juta rupiah. Dua ekor kabayaki dijual sekitar 9.000 yen (sekitar Rp 1 juta). Harga ini dianggap sepadan dengan kualitas belut yang tinggi.

Proyek ini menandai langkah penting bagi industri perikanan Jepang. Dengan mengurangi biaya budidaya, belut budidaya dapat menjadi alternatif yang lebih berkelanjutan bagi konsumen. Selain itu, keberhasilan ini menunjukkan potensi teknologi perikanan dalam mengatasi masalah kelangkaan spesies langka.

Secara keseluruhan, pengembangan belut budidaya di Jepang menunjukkan bahwa kolaborasi lintas sektor dapat menghasilkan solusi praktis. Meskipun masih mahal, penurunan biaya secara signifikan membuka peluang pasar baru dan mengurangi tekanan pada populasi belut liar.

Belut Jepangbudidayabiayakolaborasipolusi airbendungkabayaki

Komentar

Memuat komentar...