Bisnis Sampah Antariksa Bernilai Rp 144 Triliun

Iwan D. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Bisnis Sampah Antariksa Bernilai Rp 144 Triliun

Gambar atau konten salah?

Persaingan di luar angkasa kini tidak lagi hanya soal mengirim manusia ke Bulan atau membangun stasiun. Perlahan, fokus mulai bergeser ke masalah yang lebih membumi—atau tepatnya, mengorbit. Perusahaan-perusahaan antariksa berlomba menjadi yang pertama dalam bisnis baru: memulung sampah di orbit Bumi.

Pemicunya sederhana. Orbit Bumi semakin padat. Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah satelit yang diluncurkan melonjak drastis. Menurut data NASA, ada lebih dari 100 juta keping sampah antariksa yang mengorbit, masing-masing berukuran di atas 1 milimeter. Total beratnya sekitar 6.000 ton. Bayangkan, serpihan sekecil cat sekalipun bisa menghancurkan satelit karena melaju dengan kecepatan lebih dari 27.000 km/jam.

Dr. Chiranjeevi Phanindra, pendiri dan CEO Cosmoserve Space, menggambarkan situasinya dengan angka. "Selama tujuh dekade terakhir kita telah meluncurkan sekitar 20.000 objek ke luar angkasa. Kini kita berbicara tentang kemungkinan meluncurkan hingga satu juta satelit hanya dalam 10 tahun ke depan," katanya, seperti dikutip dari New York Post, Jumat, 10 Juli 2026.

Dulu, urusan bersih-bersih sampah antariksa lebih banyak ditangani pemerintah. Tapi mulai 2027, aturan baru dari Federal Communications Commission (FCC) Amerika Serikat mengubah segalanya. Operator satelit wajib mengeluarkan satelit mati dari orbit rendah Bumi maksimal lima tahun setelah masa operasinya berakhir. Sebelumnya, batas waktu yang diberikan adalah 25 tahun.

Aturan ini membuka pintu lebar bagi perusahaan swasta. Phanindra memperkirakan nilai industri pembersihan sampah antariksa bisa mencapai sekitar USD 8 miliar, atau setara dengan Rp 144 triliun. Angka yang cukup besar untuk sebuah bisnis yang belum lama ada.

Setiap perusahaan punya pendekatan sendiri. Cosmoserve Space, misalnya, mengembangkan lengan robot lunak. Cara kerjanya mirip tanaman Venus flytrap—menjepit sampah antariksa, lalu membawanya keluar dari orbit. Sementara itu, perusahaan bernama KMI mengembangkan teknologi yang bisa menangkap objek di luar angkasa tanpa perlu adaptor khusus. Teknologi ini bahkan sudah diuji coba di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).

Pendekatan lain juga bermunculan. Ada perusahaan yang mengembangkan jaring raksasa untuk menangkap sampah. Ada pula yang menyemprotkan gas ke objek agar kecepatannya berkurang, sehingga jatuh kembali ke atmosfer Bumi dan terbakar habis.

Menurut Adam Kall, pendiri KMI, teknologi pembersihan ini sebenarnya punya potensi yang jauh lebih besar. Kemampuan menangkap dan memindahkan satelit bisa digunakan untuk hal-hal lain. "Ketika kami berbicara tentang pembersihan sampah, sebenarnya kami sedang membicarakan logistik di luar angkasa," kata Kall.

Ia menjelaskan, teknologi yang sama nantinya bisa dipakai untuk memindahkan satelit yang masih berfungsi ke orbit baru. Atau mengirim material ke pabrik di luar angkasa. Bahkan membantu pembangunan struktur besar di orbit. "Saya pikir masa depan ada pada konstruksi di luar angkasa. Jika kita bisa meluncurkan tiga bagian pesawat antariksa lalu menyatukannya di orbit, kita akan memiliki kemampuan yang jauh lebih besar dibanding sebelumnya," ujarnya.

Orbit Bumi tak akan pernah kembali kosong. Jumlah satelit terus bertambah. Tapi dengan aturan baru dan teknologi yang mulai matang, bisnis pembersihan sampah antariksa diperkirakan menjadi salah satu fondasi penting bagi ekonomi antariksa masa depan. Perusahaan yang lebih dulu menguasai teknologi ini punya peluang besar menjadi pemain utama.

bisnis pemulung sampah antariksapersaingan luar angkasasampah orbit Bumiteknologi pembersihan satelitekonomi antariksa masa depanFCC aturan satelit matilogistik luar angkasa

Komentar

Memuat komentar...