BlackRock: Harga Minyak 150 per Barel Bisa Memicu Resesi

Mira T. · 2 min baca · 3 bulan lalu · 66 dibaca
Bisik.id
BlackRock: Harga Minyak 150 per Barel Bisa Memicu Resesi

Gambar atau konten salah?

BlackRock, perusahaan pengelola aset terbesar di dunia yang berbasis di Amerika Serikat, mengingatkan bahwa harga minyak mencapai US$ 150 atau Rp 2,53 juta per barel—dengan kurs Rp 16.886—akan menandai awal resesi global. Menurut pernyataan tersebut, kenaikan harga energi bersifat sangat regresif, lebih memengaruhi kaum miskin daripada kaum kaya.

CEO Larry Fink menyampaikan pandangannya melalui kutipan BBC pada Rabu, 25 Maret 2026. Ia menilai bahwa pergerakan liar di pasar keuangan dipicu oleh konflik di Timur Tengah, karena investor mencoba menilai dampak biaya energi yang akan datang. Meski masih terlalu dini untuk menilai skala konflik, Fink memaparkan dua skenario ekstrem.

Dalam skenario pertama, jika konflik berakhir dan Iran kembali diterima oleh komunitas internasional, harga minyak dapat turun kembali ke level sebelum perang. Namun, jika tidak, Fink memperkirakan harga minyak akan mendekati US$ 150. Ia menegaskan bahwa hal tersebut dapat memicu resesi yang tajam dan curam.

Di Inggris, lonjakan biaya energi memicu perdebatan tentang pentingnya produksi minyak dan gas domestik. Badan industri Offshore Energies UK menegaskan bahwa tanpa peningkatan produksi dalam negeri, negara berisiko menjadi tergantung pada impor saat ketidakstabilan global meningkat.

Fink menekankan perlunya kebijakan pragmatis terhadap bauran energi. Ia menilai bahwa menyediakan energi murah merupakan kunci untuk mendorong pertumbuhan dan meningkatkan standar hidup. Ia juga menegaskan bahwa negara tidak boleh bergantung pada satu sumber energi.

Jika harga minyak tetap di US$ 150 per barel selama tiga sampai empat tahun, Fink memprediksi akan ada percepatan adopsi tenaga surya dan angin. Ia mengajak negara untuk “menggunakan apa yang Anda miliki tanpa ragu, tetapi juga secara agresif bergerak menuju sumber alternatif.”

Secara keseluruhan, peringatan BlackRock menyoroti betapa rapuhnya ekonomi global terhadap fluktuasi harga minyak. Skenario yang dipaparkan menunjukkan bahwa keputusan geopolitik dan kebijakan energi domestik akan menjadi faktor penentu apakah dunia akan menghadapi resesi atau beralih ke energi terbarukan lebih cepat.

BlackRockharga minyakresesi globalenergi terbarukankonflik Timur Tengahproduksi minyak domestik

Komentar

Memuat komentar...