BMKG Prediksi Kemarau 2026 Lebih Awal dan Lebih Panjang

Fitri A. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 100 dibaca
Bisik.id
BMKG Prediksi Kemarau 2026 Lebih Awal dan Lebih Panjang

Gambar atau konten salah?

BMKG memprediksi musim kemarau 2026 akan lebih awal dan lebih panjang dibandingkan pola sebelumnya. Peluang kemarau dimulai lebih cepat dipicu oleh berakhirnya fenomena La Nina lemah pada 01 Februari 2026 dan transisi ke fase netral. BMKG juga memantau potensi perkembangan menuju El Nino di akhir tahun.

Menurut Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, instansi terus mengamati dinamika iklim global dan menyampaikan informasi secara berkala. Produk yang dirilis meliputi prakiraan hujan bulanan, buletin iklim, prediksi musim hujan dan kemarau, serta layanan iklim sektoral.

Prediksi kemarau lebih awal menunjukkan bahwa mayoritas wilayah Indonesia akan memasuki musim kemarau pada rentang 01 April 2026 hingga 30 Juni 2026. Dari 699 zona musim, 114 (16,3 %) zona sudah mengalami kemarau pada 01 April 2026, 184 (26,3 %) pada 01 Mei 2026, dan 163 (23,25 %) pada 01 Juni 2026. Kemarau biasanya dimulai di Nusa Tenggara dan bergerak ke barat. Dibandingkan rata‑rata klimatologis 1991‑2020, 325 (46,5 %) zona mengalami kemarau lebih cepat dari normal, sementara 173 (23,7 %) zona berada dalam pola biasa.

Karakter kemarau lebih kering juga diprediksi. Sekitar 451 zona (46,5 %) akan mengalami akumulasi curah hujan di periode kemarau yang berada di bawah normal.

Puncak kemarau diperkirakan pada 01 Agustus 2026. 429 zona (61,4 %) diprediksi mencapai periode paling kering pada bulan tersebut. Dibandingkan dengan kondisi normal, 410 zona (58,7 %) diprediksi puncak kemarau lebih cepat dari biasanya, sedangkan 142 zona (20,3 %) berada dalam pola normal.

Durasi kemarau juga akan lebih lama. Sekitar 400 zona (57,2 %) diprediksi mengalami kemarau yang berlangsung lebih lama dibanding kondisi normal.

BMKG mengingatkan agar peringatan dini segera ditindaklanjuti. Di sektor pertanian, petani disarankan mengatur ulang jadwal tanam serta memilih varietas yang lebih tahan kekeringan, hemat air, dan memiliki masa panen singkat. Pengelolaan sumber daya air perlu diperkuat melalui optimalisasi tangki air serta perbaikan sistem distribusi. Kesiapsiagaan terhadap potensi penurunan kualitas udara dan risiko kebakaran hutan dan lahan juga harus ditingkatkan.

  • Atur jadwal tanam sesuai prediksi kemarau.
  • Pilih varietas tanaman tahan kekeringan.
  • Optimalkan penyimpanan air dan distribusi.
  • Perkuat sistem pemantauan kualitas udara dan kebakaran hutan.

Kesimpulannya, musim kemarau 2026 diperkirakan akan datang lebih awal, berlangsung lebih lama, dan lebih kering dibanding pola sebelumnya. Kebijakan adaptasi dan mitigasi yang tepat menjadi kunci untuk mengurangi dampak pada sektor pertanian, sumber daya air, dan lingkungan.

BMKGmusim kemarau 2026La NinaEl Ninocurah hujanketersediaan airkebakaran hutan

Komentar

Memuat komentar...