BPBD Tetapkan Status Siaga Kekeringan di Tasikmalaya

Bima J. · 3 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
BPBD Tetapkan Status Siaga Kekeringan di Tasikmalaya

Gambar atau konten salah?

Musim kemarau mulai mengancam ketersediaan air bersih di Kota Tasikmalaya. Pemerintah daerah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat telah menyetujui usulan untuk menetapkan status siaga darurat kekeringan. Keputusan ini diambil setelah tim gabungan melakukan peninjauan cepat di lapangan selama beberapa hari terakhir.

Langkah ini diambil untuk memperkuat kesiapan pemerintah daerah dalam mengurangi dampak kekeringan yang diperkirakan akan berlangsung beberapa bulan ke depan. Kepala Pelaksana BPBD Kota Tasikmalaya, Budi Martanova, mengatakan bahwa langkah antisipasi ini didasarkan pada prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

"Berdasarkan informasi dari BMKG, puncak kemarau diperkirakan terjadi pada bulan Juli hingga September," ujar Budi pada Selasa, 14 Juli 2026.

Sebagai langkah nyata, BPBD telah mengerahkan tim asesmen selama sepekan terakhir untuk menyisir wilayah-wilayah yang berpotensi terdampak. Berdasarkan data kaji cepat per 8 Juli 2026, tercatat ada 98 titik di 12 kelurahan yang tersebar di 5 kecamatan yang mulai mengalami krisis air bersih. Wilayah-wilayah ini membutuhkan pasokan logistik air secepatnya.

Secara keseluruhan, potensi kekeringan ini mengancam sedikitnya 7.287 kepala keluarga (KK) atau setara dengan 27.825 jiwa. "Total wilayah yang membutuhkan air bersih: 5 kecamatan, 12 kelurahan, 98 titik, 7.287 KK, dan 27.825 jiwa. Itu hasil kaji cepat yang kami lakukan," kata Budi.

Kecamatan Mangkubumi menjadi wilayah dengan dampak paling luas, disusul oleh empat kecamatan lainnya. Berikut adalah rincian sebaran wilayah yang membutuhkan distribusi air bersih:

  • Kecamatan Mangkubumi:
    • Kelurahan Karikil: 33 titik rawan (2.281 KK / 12.003 jiwa)
    • Kelurahan Cigantang: 2 titik rawan (43 KK / 150 jiwa)
  • Kecamatan Purbaratu:
    • Kelurahan Singkup: 16 titik rawan (1.786 KK / 5.336 jiwa)
    • Kelurahan Sukaasih: 2 titik rawan (113 KK / 333 jiwa)
  • Kecamatan Tamansari:
    • Kelurahan Tamansari: 10 titik rawan (662 KK / 2.440 jiwa)
    • Kelurahan Setiawargi: 5 titik rawan (558 KK / 1.566 jiwa)
    • Kelurahan Sumelap: 5 titik rawan (116 KK / 277 jiwa)
  • Kecamatan Kawalu:
    • Kelurahan Cilamajang: 12 titik rawan (757 KK / 2.420 jiwa)
    • Kelurahan Leuwiliang: 7 titik rawan (172 KK / 488 jiwa)
    • Kelurahan Urug: 1 titik rawan (40 KK / 120 jiwa)
  • Kecamatan Cibeureum:
    • Kelurahan Setianegara: 3 titik rawan (577 KK / 2.200 jiwa)
    • Kelurahan Setiajaya: 2 titik rawan (182 KK / 492 jiwa)

Dari total 69 kelurahan yang ada di Kota Tasikmalaya, BPBD mencatat 59 kelurahan masuk dalam zona potensi terdampak kekeringan berdasarkan hasil asesmen terbaru. Sementara itu, 10 kelurahan lainnya hingga kini masih terpantau aman dan belum melaporkan adanya indikasi krisis air.

"Untuk sementara, 59 kelurahan kami kategorikan memiliki potensi terdampak kekeringan. Mudah-mudahan 10 kelurahan yang belum melaporkan kondisi wilayahnya tetap aman dan tidak mengalami kekurangan air bersih," kata Budi.

Di sisi lain, BPBD juga bergerak cepat melakukan koordinasi dengan instansi vertikal seperti Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) untuk mengatur ritme dan frekuensi pembukaan pintu air. Hal ini berkaitan dengan kebutuhan air untuk sektor pertanian.

Meskipun pasokan air bersih di beberapa titik mulai menyusut, Budi menegaskan situasi di Kota Tasikmalaya saat ini masih relatif terkendali dan belum masuk ke fase kritis. "Belum ada yang kekeringan ekstrem. Statusnya kita masih siaga, belum kedaruratan atau tanggap darurat," kata Budi.

Sebagai solusi jangka pendek demi kelancaran logistik, BPBD mengimbau masyarakat di zona merah kekeringan untuk mulai menyiapkan wadah penampungan air kolektif, seperti tandon atau kolam terpal portabel di lingkungan masing-masing. Hal ini diperlukan agar saat armada tangki air datang, proses bongkar muat air bersih berjalan cepat tanpa harus mengantre jeriken perorangan yang memakan waktu lama.

"Ini untuk mengefektifkan waktu pendistribusian air. Karena, kalau diberikan kepada perorangan yang menggunakan jerigen atau galon akan memakan waktu yang cukup lumayan lama. Dampaknya pendistribusian air terhambat," kata Budi.

Dari data yang ada, terlihat bahwa ancaman kekeringan di Kota Tasikmalaya cukup meluas, namun belum mencapai tingkat darurat. Pemerintah daerah masih dalam tahap siaga dan melakukan persiapan distribusi air bersih. Wilayah dengan konsentrasi penduduk tinggi, seperti Kelurahan Karikil di Kecamatan Mangkubumi, menjadi prioritas utama karena memiliki jumlah titik rawan dan penduduk terdampak yang paling besar. Upaya koordinasi dengan BBWS untuk mengatur pintu air juga menunjukkan bahwa sektor pertanian turut menjadi perhatian dalam penanganan krisis ini.

kemaraukekeringanair bersihsiaga daruratTasikmalayaBPBDdistribusi

Komentar

Memuat komentar...