BPS Pantau Dampak B50 pada Ekspor Sawit
Gambar atau konten salah?
Indonesia mulai menerapkan program mandatori biodiesel B50 sejak awal Juli 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut kebijakan ini berpotensi mengubah volume ekspor produk minyak kelapa sawit.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengatakan dampaknya baru akan terasa pada paruh kedua tahun ini. "Penerapan B50 yang dimulai pada Juli 2026 cenderung berpotensi mempengaruhi volume ekspor produk minyak kelapa sawit Indonesia. Khususnya nanti pada Semester II di tahun 2026," ujar Ateng dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta Pusat, pada Senin, 03 Agustus 2026.
Ateng menjelaskan pihaknya masih memantau sejauh mana pengaruh kebijakan itu terhadap kinerja ekspor nasional. BPS tidak membuat estimasi atau perkiraan. Mereka lebih mencermati berbagai variabel yang bergerak di lapangan.
Beberapa variabel perlu dikaji secara mendalam untuk melihat dampak B50. Variabel itu meliputi data produksi dan persediaan minyak sawit, peningkatan permintaan di pasar domestik, hingga pergerakan harga minyak sawit di tingkat domestik dan internasional. "Itu beberapa variabel yang perlu dicermati dalam rangka melakukan perkiraan dan estimasi. Dan BPS tidak melakukan estimasi ataupun perkiraan," tambah Ateng.
Sementara itu, kinerja ekspor minyak mentah kelapa sawit (CPO) dan berbagai fraksinya—yang berkode HS 1511—selama Semester I 2026 masih mencatat pertumbuhan positif. Angkanya 7,32% secara kumulatif. Namun pertumbuhan ini melambat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
"Ini artinya nilai ekspor CPO pada Semester I ini masih mengalami kenaikan, tadi 7,35%. Namun saya ulangi, jika dibandingkan dengan tahun 2025 maka pertumbuhan pada Semester I tahun 2026 mengalami perlambatan. Jadi kalau tadinya tumbuh cepat, sekarang tumbuh di bawahnya. Sama-sama tumbuh, tetapi tumbuhnya melambat," jelas Ateng.
Kebijakan B50 bertujuan meningkatkan konsumsi dalam negeri. Tapi dampaknya terhadap ekspor masih perlu diamati lebih lanjut. Data BPS menunjukkan ekspor CPO masih tumbuh, meski tidak secepat sebelumnya.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
