Bridgestone Luncurkan Ban Tanpa Udara untuk Kendaraan Otonom

Bima J. · 3 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Bridgestone Luncurkan Ban Tanpa Udara untuk Kendaraan Otonom

Gambar atau konten salah?

Setelah 18 tahun melakukan penelitian dan pengembangan, Bridgestone akhirnya memperkenalkan ban tanpa udara atau airless tire ke penggunaan komersial di jalan raya. Ban yang dinamakan AirFree ini sekarang mulai dipakai pada armada kendaraan otonom berkecepatan rendah di Kota Higashiomi, Jepang.

Ini adalah pertama kalinya ban AirFree digunakan untuk operasional sehari-hari, bukan sekadar uji coba dalam waktu terbatas. Meskipun begitu, teknologi ini belum diperuntukkan bagi mobil penumpang biasa karena masih memiliki beberapa keterbatasan, terutama soal kecepatan.

Ban AirFree dipasang pada kendaraan otonom yang bentuknya mirip mobil golf yang diperpanjang. Kendaraan ini berfungsi mengantar warga lanjut usia berkeliling Kota Higashiomi, Shiga, Jepang. Karena digunakan untuk layanan mobilitas jarak pendek dengan kecepatan rendah, ban tersebut tidak dituntut bekerja dalam kondisi ekstrem seperti ban mobil penumpang. Bridgestone menilai penerapan ini menjadi langkah penting untuk membuktikan bahwa teknologi ban tanpa udara sudah cukup matang digunakan untuk operasional sehari-hari.

Perjalanan pengembangan AirFree dimulai sejak 2008. Selama hampir dua dekade, Bridgestone terus menyempurnakan desainnya hingga meluncurkan generasi ketiga pada tahun 2023 yang kini siap digunakan di jalan raya.

Berbeda dengan ban umumnya yang menggunakan udara bertekanan, AirFree mengandalkan struktur jari-jari berbahan resin termoplastik yang menopang beban kendaraan. Bagian luar ban tetap menggunakan lapisan tapak berbahan karet agar mampu mencengkeram permukaan jalan. Material resin tersebut juga dapat didaur ulang sehingga dinilai lebih ramah lingkungan.

Masaki Ota, insinyur Bridgestone, menjelaskan bahwa terobosan terbesar terjadi saat tim pengembang tidak lagi berusaha membuat material ban semakin keras. Sebaliknya, mereka menggunakan resin yang lebih fleksibel dengan struktur yang mampu mendistribusikan beban secara merata ke seluruh ban.

Dalam demonstrasi kepada sejumlah media, kendaraan yang menggunakan ban AirFree dibatasi hingga 12 mph atau sekitar 20 km/jam. Belum diketahui apakah pembatasan tersebut dilakukan demi alasan keselamatan selama demonstrasi atau memang merupakan batas aman penggunaan ban saat ini. Namun laporan Nikkei Asia menyebut teknologi tersebut untuk sementara hanya cocok digunakan pada kendaraan berkecepatan rendah. Artinya, ban AirFree masih belum siap menggantikan ban pneumatik pada mobil produksi massal yang melaju dengan kecepatan tinggi di jalan raya.

Selain faktor kecepatan, biaya produksi juga masih menjadi tantangan utama. Karena itu Bridgestone belum mengumumkan jadwal produksi massal maupun penjualan untuk mobil pribadi. Perusahaan juga tengah menyiapkan model bisnis yang menggabungkan penggunaan ban dengan layanan daur ulang guna meningkatkan keberlanjutan produk.

Menariknya, teknologi AirFree tidak hanya disiapkan untuk kendaraan di bumi. Bridgestone juga sedang mengembangkan ban khusus untuk kendaraan penjelajah bulan yang menggunakan konsep struktur serupa, tetapi berbahan logam agar mampu beroperasi di lingkungan luar angkasa.

Perjalanan pengembangan AirFree dimulai sejak 2008. Selama hampir dua dekade, Bridgestone terus menyempurnakan desainnya hingga meluncurkan generasi ketiga pada tahun 2023 yang kini siap digunakan di jalan raya.

Berbeda dengan ban umumnya yang menggunakan udara bertekanan, AirFree mengandalkan struktur jari-jari berbahan resin termoplastik yang menopang beban kendaraan. Bagian luar ban tetap menggunakan lapisan tapak berbahan karet agar mampu mencengkeram permukaan jalan. Material resin tersebut juga dapat didaur ulang sehingga dinilai lebih ramah lingkungan.

Masaki Ota, insinyur Bridgestone, menjelaskan bahwa terobosan terbesar terjadi saat tim pengembang tidak lagi berusaha membuat material ban semakin keras. Sebaliknya, mereka menggunakan resin yang lebih fleksibel dengan struktur yang mampu mendistribusikan beban secara merata ke seluruh ban.

Dalam demonstrasi kepada sejumlah media, kendaraan yang menggunakan ban AirFree dibatasi hingga 12 mph atau sekitar 20 km/jam. Belum diketahui apakah pembatasan tersebut dilakukan demi alasan keselamatan selama demonstrasi atau memang merupakan batas aman penggunaan ban saat ini. Namun laporan Nikkei Asia menyebut teknologi tersebut untuk sementara hanya cocok digunakan pada kendaraan berkecepatan rendah. Artinya, ban AirFree masih belum siap menggantikan ban pneumatik pada mobil produksi massal yang melaju dengan kecepatan tinggi di jalan raya.

Selain faktor kecepatan, biaya produksi juga masih menjadi tantangan utama. Karena itu Bridgestone belum mengumumkan jadwal produksi massal maupun penjualan untuk mobil pribadi. Perusahaan juga tengah menyiapkan model bisnis yang menggabungkan penggunaan ban dengan layanan daur ulang guna meningkatkan keberlanjutan produk.

Menariknya, teknologi AirFree tidak hanya disiapkan untuk kendaraan di bumi. Bridgestone juga sedang mengembangkan ban khusus untuk kendaraan penjelajah bulan yang menggunakan konsep struktur serupa, tetapi berbahan logam agar mampu beroperasi di lingkungan luar angkasa. Dengan demikian, teknologi ban tanpa udara ini diproyeksikan memiliki potensi penggunaan yang jauh lebih luas di masa depan.

Secara keseluruhan, langkah Bridgestone membawa AirFree ke jalan raya, meski masih terbatas pada kendaraan lambat, menandai kemajuan nyata dari konsep yang telah digarap sejak 2008. Teknologi ini masih menghadapi hambatan kecepatan dan biaya sebelum bisa dipakai mobil penumpang, namun pengembangan untuk kendaraan penjelajah bulan menunjukkan bahwa struktur resin termoplastik ini punya fleksibilitas aplikasi yang tidak terduga.

ban tanpa udaraBridgestoneAirFreekendaraan otonomkecepatan rendahresin termoplastikdaur ulang

Komentar

Memuat komentar...