Pabrik Susu Formula: 5 Tahap Produksi yang Ketat

Andi B. · 3 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Pabrik Susu Formula: 5 Tahap Produksi yang Ketat

Gambar atau konten salah?

Banyak orang mengira membuat susu formula tinggal mencampur semua bahan jadi satu. Kenyataannya? Prosesnya jauh lebih rumit dari itu.

Setiap langkah produksi dirancang dengan tujuan ganda: menjaga nutrisi tetap sesuai resep, dan memastikan produk aman sebelum sampai ke tangan konsumen. Berikut tahapan lengkapnya.

1. Membuat Base Powder

Semua dimulai dari pembuatan bubuk susu dasar. Bahan baku utama seperti sumber protein, karbohidrat, dan lemak dicampur menjadi satu larutan yang seragam. Tahap ini penting karena kualitas bubuk dasar akan menentukan kualitas produk akhir.

Setelah semua bahan tercampur, larutan dipasteurisasi. Tujuannya? Membunuh mikroorganisme berbahaya. Lalu masuk ke proses homogenisasi, agar lemak, protein, dan karbohidrat tersebar merata. Hasilnya, komposisi jadi konsisten sebelum lanjut ke tahap berikutnya.

"Setelah dicampur menjadi satu larutan, kami pasteurisasi untuk memastikan kandungan mikro dan semuanya aman. Setelah itu melalui proses homogenisasi sehingga lemak, protein, dan karbohidrat tercampur secara homogen," kata Factory Director Danone SN East Region, Lastiani Rosalina dalam talkshow di Pabrik Danone Spesialized Nutrition Prambanan, Jawa Tengah, pada 08 Juli 2026.

2. Spray Drying: Cairan Jadi Bubuk

Setelah jadi cairan homogen, produk masuk ke tahap spray drying. Cairan disemprotkan dengan udara panas bersuhu sekitar 165 derajat Celcius. Hasilnya? Butiran susu bubuk.

Proses ini bukan cuma mengubah bentuk. Spray drying juga menghasilkan produk dengan kadar air rendah. Itu artinya susu bubuk lebih stabil selama penyimpanan. Tapi bubuk dasar yang dihasilkan belum bisa langsung dipakai. Harus diuji dulu.

Pemeriksaan meliputi kandungan makronutrien, mikronutrien, karakteristik fisik, kimia, hingga keamanan mikrobiologi. Produk baru boleh lanjut ke tahap berikutnya kalau semua hasil pengujian sudah memenuhi standar.

3. Dry Blending: Menambahkan Zat Gizi

Bubuk dasar yang sudah lolos uji dipindahkan ke area dry blending. Di sinilah berbagai zat gizi tambahan dimasukkan sesuai formulasi masing-masing produk.

Vitamin, mineral, dan flavor ditambahkan berdasarkan kebutuhan setiap kategori produk. Formula untuk anak usia berbeda? Berbeda. Untuk ibu hamil dan menyusui? Juga berbeda. Semua komposisinya tidak sama.

"Kalau membuat formula vanilla, kami menambahkan vitamin, mineral, dan flavor sesuai formulanya, apakah untuk 3+, 5+, atau ibu menyusui. Tentunya formulanya berbeda," jelas Lastiani.

Semua bahan dicampur menggunakan paddle blender. Waktu pencampuran sudah ditentukan agar semua komponen tercampur merata. Setiap kemasan pun punya komposisi yang konsisten.

4. Pengemasan dengan Gas Nitrogen

Setelah pencampuran selesai, susu bubuk dimasukkan ke kemasan aluminium pouch. Pada tahap ini, gas nitrogen diinjeksikan ke dalam kemasan. Fungsinya? Mengurangi oksigen di dalam kemasan, membantu menjaga mutu produk selama penyimpanan.

Setelah dikemas, produk dimasukkan ke folding box. Sistem barcode digunakan untuk memastikan isi produk sesuai dengan kemasan yang digunakan. Termasuk rasa dan jenis formulanya. Ini bagian dari sistem pengendalian mutu sebelum pemeriksaan akhir.

5. Pengujian Akhir Sebelum Distribusi

Meski sudah dikemas, produk belum langsung dikirim. Setiap batch harus melewati proses final release. Tujuannya memastikan seluruh spesifikasi produk sesuai standar kualitas perusahaan.

Pengujian dilakukan lagi terhadap parameter fisik, kimia, dan mikrobiologi. Proses ini biasanya memakan waktu empat sampai lima hari. Setelah dinyatakan lolos, baru produk siap didistribusikan ke berbagai daerah.

"Biasanya empat sampai lima hari kami melakukan proses rilis. Setelah dinyatakan lolos, baru produk siap didistribusikan," ujar Lastiani.

Area Produksi: Tiga Tingkat Kebersihan

Selain tahapan produksi yang berlapis, pabrik juga membagi area produksi berdasarkan tingkat pengendalian kebersihan. Ada low care, medium care, dan high care. Pembagian ini untuk mengurangi risiko kontaminasi selama proses produksi.

1. Low Care Area

Area dengan tingkat pengendalian paling dasar. Di sini produk sudah berada di dalam kemasan, jadi tidak bersentuhan langsung dengan lingkungan. Aktivitas yang dilakukan biasanya pengemasan sekunder dan tersier. Tapi operator tetap wajib pakai pakaian kerja dan ganti alas kaki sebelum masuk.

2. Medium Care Area

Area transisi sebelum bahan masuk ke proses produksi utama. Di sini dilakukan proses stripping, yaitu membuka lapisan kemasan luar bahan baku. Produk belum bersentuhan langsung dengan lingkungan, tapi prosedur kebersihan mulai diperketat.

3. High Care Area

Area dengan pengendalian paling ketat. Soalnya, bahan dan produk bersentuhan langsung dengan lingkungan produksi. Area ini mencakup proses dari dumping bahan baku hingga filling atau pengisian produk ke kemasan. Suhu ruangan, kelembapan, dan kualitas udara dikendalikan secara ketat.

Operator yang bekerja di area high care harus pakai perlindungan lengkap. Pakaian khusus, masker, sarung tangan, hingga sepatu khusus. Semua untuk mencegah kontaminan masuk ke area produksi.

"Mulai dari dumping sampai filling, pengaturan udara, temperatur, dan kelembapan sangat ketat. Operator juga harus menggunakan full protection agar tidak mengontaminasi produk," pungkas Lastiani.

Proses produksi susu formula memang panjang dan ketat. Dari pembuatan bubuk dasar, pengeringan, pencampuran zat gizi, pengemasan dengan nitrogen, hingga pengujian akhir. Semua dilakukan untuk memastikan produk yang sampai ke konsumen aman dan kandungan gizinya sesuai yang tertera di kemasan.

proses produksi susu formulabase powderspray dryingdry blendingpengemasan nitrogenpengujian akhirkebersihan area produksi

Komentar

Memuat komentar...