Burung Merpati Pakai Sel Darah Putih di Hati Sebagai Kompas

Sinta R. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 73 dibaca
Bisik.id
Burung Merpati Pakai Sel Darah Putih di Hati Sebagai Kompas

Gambar atau konten salah?

Burung merpati dikenal mampu kembali ke sarangnya setelah terbang ribuan kilometer. Peneliti baru saja menemukan bahwa hewan ini memiliki “kompas internal” yang tidak memerlukan satelit. Sel darah putih di hati merpati menumpuk zat besi yang berfungsi menafsirkan medan magnet bumi.

Hasil ini dipublikasikan pada 28 Mei 2026 di jurnal Science dan dilaporkan oleh Science News pada 2 Juni 2026. Sebelumnya, para ilmuwan sudah lama membahas bahwa beberapa hewan, termasuk burung, kelelawar, dan hiu, menggunakan medan magnet bumi untuk migrasi. Namun belum ada bukti konkret tentang mekanisme yang tepat.

Teori lama menyoroti protein khusus di mata burung yang diyakini berperan. Meskipun demikian, tidak ada data yang dapat membuktikan fungsi kuantum dari protein tersebut. Karena burung lain yang juga menggunakan magnetisme tidak memiliki protein itu, perdebatan tetap terbuka.

Dr. Clivia Lisowski, biologi sel dari Universitas Bonn, memeriksa berbagai organ burung—paruh, mata, limpa, dan hati—untuk melihat apakah sel-sel di dalamnya bersifat magnetik. Ia menemukan bahwa hanya makrofag di hati merpati yang menempel pada kolom magnetik. Makrofag adalah sel darah putih besar yang memakan kuman dan sel mati.

Di hati, jutaan sel darah putih mengandung zat besi di dekat jaringan saraf. Sel-sel ini tampaknya memberi sinyal kepada otak tentang arah berdasarkan medan magnet bumi. Ide meneliti makrofag berasal dari kolaborasi antara ahli ornitologi Martin Wikelski dan imunolog Christian Kurts, dua peneliti Jerman.

Untuk menguji peran makrofag, tim mengamati burung pada hari-hari mendung. Burung biasanya mengandalkan sinar matahari sebagai panduan utama, dan hanya menggunakan magnetisme bila matahari tidak terlihat. “Sangat penting agar burung-burung itu tidak tahu di mana posisi matahari,” kata Kurts.

Peneliti memotong makrofag pada setengah dari 34 merpati yang diuji. Semua burung dibawa sejauh 19 km dari sarang, lalu dilepaskan dengan pelacak GPS. Burung yang makrofagnya masih utuh kembali ke sarang dalam waktu sekitar 70 menit. Burung yang makrofagnya berkurang terbang ke segala arah, dan baru pulang ketika matahari terbit keesokan harinya.

Namun, ketika cuaca cerah, burung yang makrofagnya dihilangkan langsung terbang pulang. Ini menunjukkan bahwa makrofag berfungsi sebagai sensor magnetik, membantu otak menentukan arah ketika sinar matahari tidak tersedia.

John Phillips, neuroetolog dari Virginia Tech, yang tidak terlibat dalam penelitian, mengomentari temuan tersebut. “pasti akan ada orang yang tidak percaya. Tetapi, dirinya menyampaikan, penelitian ini dilakukan dengan sangat baik, sehingga bahkan orang yang belum percaya pun tidak dapat mengabaikannya.”

Penelitian ini menambah pemahaman tentang bagaimana burung merpati menavigasi. Dengan makrofag yang menampung zat besi, burung dapat membaca medan magnet bumi dan mengarahkan diri kembali ke sarang, bahkan ketika langit mendung. Temuan ini menegaskan bahwa sistem imun dan navigasi saling terkait, dan menandai langkah penting dalam studi magnetoresepsi hewan.

Burung merpatikompas internalmedan magnet bumimakrofag hatisel darah putihmagnetoresepsinavigasi

Komentar

Memuat komentar...