Mu'ti Cerita Hidup dari Beasiswa ke Beasiswa

Ayu W. · 3 min baca · 1 jam lalu · 4 dibaca
Bisik.id
Mu'ti Cerita Hidup dari Beasiswa ke Beasiswa

Gambar atau konten salah?

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti membagikan pengalamannya menempuh pendidikan dari satu beasiswa ke beasiswa lain. Ia bercerita di hadapan peserta Seminar Nasional & Anniversary FABs ke-IX Tahun 2026 yang digelar di Pendopo Museum RA Kartini, Rembang, pada Sabtu, 04 Juli 2026. Acara bertema Digital Citizenship: Membangun Generasi Cerdas, Kreatif, dan Berkarakter di Era Reformasi Digital itu menjadi panggung bagi Mu'ti untuk mengingat masa lalunya.

Mu'ti mengaku bahwa dirinya adalah salah satu dari sekian banyak anak Indonesia yang hidupnya bergantung pada beasiswa. Ia menyebut perjalanan pendidikannya dimulai sejak sekolah dasar. Saat itu, ia sering tidak membayar uang sekolah karena selalu menjadi juara satu di kelas. Kebiasaan itu berlanjut hingga ia masuk perguruan tinggi.

"Saya ini mungkin salah satu dari sekian banyak anak Indonesia yang hidupnya dari beasiswa ke beasiswa. Ketika sekolah alhamdulillah sering tidak bayar karena ranking satu. Ketika kuliah S1 saya termasuk penerima Beasiswa Supersemar, beasiswa dari Pak Harto," kata Mu'ti.

Beasiswa Supersemar adalah program beasiswa yang diluncurkan pada masa pemerintahan Presiden ke-2 RI Soeharto. Menurut Mu'ti, pada zamannya, beasiswa itu merupakan satu-satunya program beasiswa yang tersedia bagi mahasiswa. Namun, jumlah penerimanya sangat terbatas. Hanya mahasiswa dengan prestasi akademik terbaik yang bisa lolos seleksi. Ia mengingat bahwa di kalangan mahasiswa, beasiswa ini sering diplesetkan menjadi "Super Bagong" karena jumlahnya yang sedikit.

"Waktu itu satu-satunya beasiswa yang ada Beasiswa Supersemar saja. Sering kalau kami di kampus diplesetkan penerima Super Bagong. Jumlahnya tidak banyak," ujarnya.

Saat kuliah di IAIN Walisongo, yang saat itu masih memiliki beberapa kampus cabang di Kudus, Pekalongan, Salatiga, dan Semarang, Mu'ti menjadi salah satu dari 21 mahasiswa yang menerima Beasiswa Supersemar. Dari tujuh fakultas yang ada, hanya segelintir mahasiswa yang berhasil mendapatkannya. Syaratnya pun ketat: mahasiswa harus memiliki Indeks Prestasi (IP) minimal 3. Pada masa itu, meraih IP 3 bukanlah hal yang mudah.

"Saya ingat waktu kuliah di IAIN Walisongo, penerimanya hanya 21 mahasiswa saja. Yang IP-nya minimal 3. Waktu itu cari IP 3 susahnya luar biasa," ungkapnya.

Mu'ti menjelaskan bahwa budaya akademik pada masa itu membuat nilai tinggi sulit diraih. Bahkan, ada guyonan di kalangan dosen mengenai pemberian nilai. Ia menirukan ungkapan yang sering terdengar: nilai A diperuntukkan bagi malaikat, nilai B untuk dosen, dan mahasiswa hanya pantas mendapat nilai C. Karena itu, mahasiswa dengan IP di atas 3 termasuk kelompok yang istimewa. Pernyataan itu disambut tawa peserta seminar.

"Karena ada ungkapan di kalangan dosen, nilai A itu untuk malaikat, nilai B untuk dosen, mahasiswa itu C saja. Jadi kalau punya IP di atas 3 sudah termasuk kelompok yang khas, karena jarang sekali yang punya IP 3," katanya.

Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, Mu'ti kembali memperoleh beasiswa untuk melanjutkan studi magister di luar negeri. Ia menjadi penerima Australia Awards dan menempuh pendidikan di Flinders University, Australia Selatan. Pengalaman itu semakin memperkuat keyakinannya bahwa akses beasiswa harus diperluas bagi anak-anak Indonesia.

"S2 saya juga alhamdulillah beasiswa lagi dari luar negeri. Saya termasuk penerima Beasiswa Australia Awards. Kampusnya di Universitas Flinders, Australia Selatan," pungkasnya.

Pengalaman Mu'ti menunjukkan bahwa beasiswa bukan sekadar bantuan biaya, melainkan jembatan yang membuka kesempatan pendidikan hingga ke jenjang internasional. Dari Beasiswa Supersemar hingga Australia Awards, ia membuktikan bahwa konsistensi prestasi akademik dapat membawa seseorang melampaui batasan ekonomi dan geografis.

beasiswapendidikanprestasi akademikAustralia AwardsSupersemarMendikdasmen

Komentar

Memuat komentar...