Desa Benteng Agrotourism, Raih Anugerah BRILian 2022

Bima J. · 5 min baca · 2 bulan lalu · 90 dibaca
Bisik.id
Desa Benteng Agrotourism, Raih Anugerah BRILian 2022

Gambar atau konten salah?

Desa Benteng, yang terletak di kaki Gunung Kapur di Kecamatan Ciampea, Jawa Barat, belum dikenal luas sepuluh tahun lalu. Sekarang, dengan luas 248,5 Ha dan area persawahan 82 Ha, desa ini memanfaatkan tanah subur menjadi ladang pertanian produktif. Potensi pertanian ini disinergikan dengan wisata edukasi, menciptakan model desa wisata yang menarik.

Keberhasilan desa ini terlihat lewat penghargaan Desa BRILian pada tahun 2022, menjadi salah satu dari lima desa terbaik. Penghargaan tersebut menegaskan bahwa kombinasi pertanian dan edukasi dapat menghasilkan prestasi nyata bagi masyarakat.

Ketua Unit Pengelola Desa Wisata Benteng, Wahyu Syarief Hidayat, memimpin transformasi desa menjadi edu‑agrotourism. Ia menjelaskan, “Ide ini bermula sejak 2015 saat rekan saya, Faka Harika, menjadi Kepala Desa Benteng periode I tahun 2014‑2020. Dia mantan pelaut dengan pengalaman 15 tahun keliling mancanegara, jadi paham soal wisata.”

Wahyu sebelumnya menjual pakaian di Pasar Leuwiliang, Kabupaten Bogor. Namun, tren penjualan online pada 2018 merusak ceruk pasar, memaksa dia menutup toko. “Saat itu usaha saya kolaps, saya jual toko. Kemudian ketemu beliau, diajak gabung ke desa. Katanya dia lagi butuh orang lapangan yang mau bergerak ke masyarakat untuk bangun desa,” ungkapnya.

Setelah bergabung, Wahyu menjadi Ketua BUMDes sekaligus Ketua Unit Pengelola Desa Wisata Benteng, menggantikan pengurus sebelumnya yang tutup usia. Peran ini menempatkannya di garis depan pengembangan ekonomi desa.

Program pemberdayaan Desa BRILian dimulai dua tahun lalu. Pihak desa aktif mengikuti pelatihan, termasuk program BRI yang baru dibuka pada 2020. Pandemi COVID‑19 menempatkan pangan sebagai sektor strategis, sehingga pelatihan dilakukan secara online selama tiga bulan. “Atas restu dari kepala desa, ikutlah kita di pelatihan Desa BRILiaN itu. Selama 3 bulan, online, karena pandemi. Kita ajak kelompok tani, perwakilan UMKM, tokoh masyarakat, dan perwakilan BUMDes. Kita presentasi kelebihan dan potensi desa,” ujar Kang Wahyu.

Produk unggulan desa adalah Kampung Cassava, di mana kelompok tani singkong mengolah hasil panen menjadi tepung mokaf, bahan baku kue. Selain itu, budidaya jambu kristal dikelola oleh Kelompok Tani Cahaya Tani, memberi wisatawan kesempatan belajar mencangkok dan memetik buah langsung. Dampaknya, UMKM sekitar seperti Rumah Kedelai Pak Mien Soya Ayu dan Batik Ciwitan & Eco Print Lawon Geulis mendapat peningkatan penjualan.

Wahyu menambahkan, “Awalnya kami dari Desa Benteng itu nothing to lose, nggak ada tujuan untuk meraih CSR. Yang penting, kita ada relasi, ada link, kita ikut.”

Dengan konsistensi, desa terpilih sebagai binaan Desa BRILian BRI pada 2022. “Mungkin karena BRI melihat konsistensi dan keberlanjutan kita. Perkembangannya naik bukan turun. Dari kelompok tani terangkat, banyak kunjungan. Kemudian produksi UMKM juga meningkat. Tahun 2022 kita dapat anugerah Desa Brilian,” ungkapnya.

Pada 2023, Desa Benteng menjadi satu dari lima penerima hibah senilai Rp 1 miliar dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero). Wahyu mengumumkan hal ini di media sosial desa, meningkatkan pengakuan BUMDes di mata masyarakat. “Kami kemudian diminta menyusun proposal penggunaan dana tersebut. Kami adakan rapat besar melibatkan kepala desa, pengurus BUMDes, kelompok tani, dan perwakilan UMKM. Semua aspirasi kami tampung,” terangnya.

Hibah tersebut digunakan untuk memperbaiki fasilitas di setiap Desa Wisata Benteng: membangun gapura, mengembangkan wisata sungai, memperluas potensi pertanian dan UMKM, serta menambah Taman Desa Benteng. “Hasilnya luar biasa, di area wisata petik jambu kristal, kini tersedia jalan paving block, pagar, hingga spot foto yang menarik. Kunjungan wisatawan meningkat drastis saat akhir pekan. Bahkan petani jambu tidak perlu lagi menjual hasil panennya ke pasar karena habis dibeli wisatawan,” jelasnya.

Desa juga menerapkan konsep wisata tematik per RW. RW 03 menampilkan Kelompok Tani Hidroponik dengan gapura bertuliskan Kampung Hidroponik. RW 05 menonjolkan perkebunan singkong dengan gapura Kampung Cassava. Di area Bank Sampah, pengolahan limbah plastik dikenal sebagai Kampung Ramah Lingkungan.

Hingga kini, Desa Benteng memiliki lebih dari 15 wisata edukasi yang aktif dikunjungi. Destinasi tersebut meliputi Wisata Petik Jambu Kristal, Kampung Cassava, Benteng Pangan Mandiri, Benteng River Tubung, Budidaya Lele Bioflok, Rumah Kedelai Pak Mien Soya Ayu, Batik Ciwitan & Eco Print Lawon Geulis, Bank Sampah Asri Mandiri, Rumah Belanda, Jembatan Gantung Benteng Cisadane, Jembatan Rawayan Muara Tiga, Sanggar Seni Tradisional Nur Amanda, Sanggar Seni Nuansa Islami Kencana, Sanggar Seni Wayang Golek Sekar Giri Cempa, Peternakan Sapi Darul Fallah, dan Pengolahan Susu Yoghurt.

Sejak menjadi Desa BRILian pada 2020, desa rutin menerima penghargaan. Pada 2022, mendapat apresiasi Pemerintah Provinsi Jawa Barat sebagai Desa Mandiri pertama di Kecamatan Ciampea. Tahun yang sama, menerima Anugerah Panca Karsa dari Pemkab Bogor kategori Desa Teladan. Pada 2024, masuk 500 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI). Pada 2025, meraih penghargaan Desa Sejahtera dan terbaik III kategori Bank Sampah unit Gerakan Indonesia Bersih, serta Kampung Ramah Lingkungan Terbaik I se‑Kabupaten Bogor.

Desa Benteng juga sering dikunjungi oleh pihak luar negeri: perguruan tinggi dari Jepang, Kanada, Afrika Selatan, Kementerian Desa Malaysia, bankir dari Peru dan Amerika Latin, serta sekolah dan pemerintah daerah dalam negeri. “Saya rasakan BRI itu sangat membawa dampak positif tidak hanya untuk desa tapi untuk masyarakat bawah jadi kehadiran BUMDes benar-benar dirasakan keberadaannya oleh masyarakat dan UMKM‑nya pun ekonominya makin terangkat dengan kunjungan, dengan pesanan barang, dengan membuka link‑link baru,” jelas Kang Wahyu.

Eka Harijayanti, pengelola Batik Ciwitan & Eco Print Lawon Geulis, menyatakan, “Sejak Desa Benteng menjadi Desa BRILian unit usahanya semakin dikenal luas. Batik Ciwitan sering dilibatkan dalam berbagai kegiatan termasuk kunjungan ke tempat usahanya.” Ia menambahkan, “Ya sering ada kunjungan, dari beberapa sekolah, instansi, terus waktu itu dari mahasiswa‑mahasiswa luar negeri dari Peru, Jepang, Amerika. Mereka ke sini belajar Batik Ciwitan.”

Eka menekankan, “Kunjungan ini rutin setiap tahun, dan selain kunjungan mereka juga beli, jadi bermanfaat untuk ibu‑ibu di sini.”

Direktur Micro BRI, Akhmad Purwakajaya, menegaskan program Desa BRILian sebagai wujud nyata komitmen BRI dalam mengakselerasi potensi desa secara berkelanjutan. “Melalui Program Desa BRILiaN, BRI mendorong desa‑desa untuk dapat mengoptimalkan potensi ekonomi secara berkesinambungan, memanfaatkan layanan keuangan perbankan khususnya BRI, serta meningkatkan pemahaman dalam penyusunan laporan keuangan. Selain itu, desa dapat memanfaatkan teknologi digital untuk kemajuan desa baik dalam aktivitas maupun pengelolaan keuangan desa,” ujarnya.

Program ini kini melibatkan lebih dari 5.200 desa di seluruh Indonesia pada 2025. “Capaian ini mencerminkan konsistensi BRI dalam memperkuat peran desa sebagai basis pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus mitra strategis pemerintah dalam mengimplementasikan agenda pembangunan yang berorientasi pada pemerataan dan kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.

Desa Benteng, dengan kombinasi pertanian produktif, wisata edukasi, dan dukungan BRI, menunjukkan contoh nyata bagaimana potensi lokal dapat dikembangkan menjadi sumber pendapatan berkelanjutan. Keberhasilan ini menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, lembaga keuangan, dan masyarakat desa dalam menciptakan ekonomi yang inklusif dan berdaya saing.

Desa BentengDesa BRILianBRIwisata edukasipertanian produktifBUMDesteknologi digital

Komentar

Memuat komentar...