Diet Ekstrem Bikin BB Turun 35 kg, Naik Lagi 50 kg
Gambar atau konten salah?
Seorang kreator konten asal India, Kaajal, membagikan pengalaman pahitnya setelah berhasil menurunkan berat badan secara drastis. Melalui akun Instagram pribadinya, ia memperingatkan bahaya metode diet dan olahraga yang terlalu ekstrem. Banyak orang di media sosial terpukau dengan foto perubahan tubuh sebelum dan sesudah penurunan berat badan yang signifikan. Namun, jarang ada yang mengungkap apa yang sebenarnya terjadi setelah target angka timbangan tercapai. Alih-alih menjadi lebih sehat, cara-cara instan justru bisa menjadi bumerang yang merusak tubuh.
Kaajal mengungkapkan bahwa ia pernah berhasil memangkas 35 kilogram (kg) lemak dari tubuhnya. Namun, kebiasaan ekstrem yang ia jalani justru membuat berat badannya melonjak naik hingga 50 kg dalam satu dekade berikutnya. Ia menceritakan awal perjalanan kebugarannya sepuluh tahun lalu. Saat itu, ia sangat terobsesi untuk mencapai target berat badan tertentu tanpa memikirkan kesehatan jangka panjang.
"Saya kehilangan 35 kg dan kembali naik 50 kg. Sepuluh tahun lalu, yang ada di pikiran saya hanyalah bagaimana caranya mencapai berat 70 kg. Saat itu, berat badan saya sekitar 110 hingga 112 kg," kenang Kaajal.
Demi mengejar target tersebut, ia menjalani rutinitas yang sangat menyiksa fisik. Kaajal hanya mengonsumsi kalori berkisar antara 800 hingga 1.000 kalori saja per hari. Jumlah ini jauh di bawah kebutuhan normal orang dewasa. Tidak hanya itu, ia memaksa tubuhnya berolahraga keras selama hampir dua jam setiap hari. Waktu tidurnya juga terpangkas hingga hanya lima jam setiap malam.
Meski angka timbangannya turun drastis, Kaajal kini menyadari bahwa jadwal super ketat tersebut telah menghancurkan dirinya secara fisik dan psikologis. "Tentu saja berat badan saya turun. Tapi hal itu juga merusak tubuh saya, dan secara mental menghancurkan saya ke titik di mana saya bahkan tidak bisa berpikir lagi tentang penurunan berat badan," katanya.
Setelah berbulan-bulan memaksakan rutinitas ekstrem, Kaajal berada di titik kelelahan total atau burnout. Secara psikologis, ia kehilangan seluruh motivasi. Ia justru berbalik arah ke spektrum yang berlawanan. Memikirkan kata "diet" atau "turun berat badan" saja sudah membuatnya merasa sangat kesal dan trauma. Akibatnya, dalam kurun waktu 10 tahun setelahnya, berat badannya perlahan-lahan merangkak naik. Bahkan melebihi bobot awalnya sebelum melakukan diet.
Fenomena ini dikenal dalam dunia medis sebagai Yo-Yo Effect. Kondisi ini terjadi ketika berat badan turun cepat lalu melonjak lebih parah. Metabolisme tubuh yang rusak akibat kelaparan ekstrem menjadi penyebab utamanya.
Melalui kegagalannya, Kaajal berpesan kepada siapa pun yang sedang berjuang menurunkan berat badan. Ia meminta mereka untuk fokus pada kebiasaan sehat yang realistis. Kebiasaan tersebut harus dapat dipertahankan selama bertahun-tahun. "Jika Anda memulai perjalanan penurunan berat badan, saya hanya ingin mengingatkan bahwa Anda tidak perlu melakukan hal-hal ekstrem. Tolong mulailah perlahan dan bangun kebiasaan yang berkelanjutan (sustainable)," pungkasnya.
Kisah Kaajal menunjukkan bahwa penurunan berat badan yang cepat dan drastis seringkali tidak berkelanjutan. Metode ekstrem seperti membatasi kalori secara berlebihan dan berolahraga terlalu keras justru dapat merusak metabolisme tubuh. Akibatnya, berat badan bisa kembali naik lebih tinggi dari sebelumnya. Pendekatan yang lebih lambat dan konsisten, dengan membangun kebiasaan sehat jangka panjang, jauh lebih efektif untuk menjaga berat badan ideal tanpa mengorbankan kesehatan fisik dan mental.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Menyundul Bola Aman? Dokter Saraf Buka Suara
Rodri Bangkit dari Cedera Horor, Bawa Spanyol ke Final Piala Dunia
Hyrox Bukan Lari Biasa, Butuh Latihan Total Tubuh
Lamine Yamal Tumbuh 10 Cm dalam Setahun
Dokter: Risiko Cedera Hyrox Tak Main-Main
Tuchel Izinkan Pemain Bercinta, Dilarang Saat Hari Pertandingan
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
