Dolar Kuat, Industri Indonesia Manfaatkan LCS Bank Indonesia

Agus P. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 150 dibaca
Bisik.id
Dolar Kuat, Industri Indonesia Manfaatkan LCS Bank Indonesia

Gambar atau konten salah?

Nilai tukar dolar AS terhadap rupiah semakin kuat, dan hal ini membawa dampak bagi sektor industri di Indonesia. Kenaikan nilai tukar dapat menjadi peluang sekaligus tekanan, tergantung bagaimana perusahaan memanfaatkan situasi ini.

Juru Bicara Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Febri Hendri Antoni Arief, mengatakan bahwa bagi industri yang menggunakan bahan baku impor, pemerintah mengimbau pemanfaatan skema Local Currency Settlement (LCS) dari Bank Indonesia. Skema ini memungkinkan transaksi antarnegara menggunakan mata uang masing-masing. “Memang betul untuk industri yang bahan bakunya impor, kami mengimbau agar memanfaatkan fasilitas Bank Indonesia, Local Settlement Transaction. Jadi, pembelian bahan baku menggunakan mata uang antara dua negara, misalkan dari negara A, bisa pakai mata uang negara A,” kata Febri dalam konferensi pers di Kemenperin, Jakarta Selatan, 29 April 2026.

Di sisi lain, Febri menilai penguatan dolar AS terhadap rupiah dapat menjadi peluang bagi industri meningkatkan daya saing di pasar global. Ia mendorong pelaku industri untuk memanfaatkan momentum ini, khususnya dalam memperluas pasar ekspor. “Momen ini bisa dimanfaatkan oleh industri untuk memperkuat atau untuk bisa melakukan penetrasi ekspor. Kalau selama ini industri-industrinya berorientasi pada pasar domestik, inilah momentum untuk masuk ke pasar global, ke rantai pasar global,” tuturnya.

Senada, Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika, menyebut pergerakan nilai tukar turut mempengaruhi daya saing produk Indonesia di luar negeri. Industri yang berbasis bahan baku domestik dinilai lebih diuntungkan karena produknya menjadi lebih kompetitif. “Kalau mata uangnya itu makin kena tekanan, ekspor kita akan bagus. Salah satu juga kenapa ekspor kita meningkat itu karena produk-produk kita makin bersaing di luar negeri. Itu untuk industri-industri yang bahan bakunya memang dari dalam negeri. Tadi, kertas dan produk-produk kertas. Produk-produk CPO dan turunannya karena daya saingnya luar biasa,” jelas Putu.

Meski begitu, untuk industri yang masih mengandalkan bahan baku impor, tekanan nilai tukar tetap menjadi perhatian. Namun, dampaknya sejauh ini belum signifikan karena sebagian besar kebutuhan bahan baku sudah dikontrak dalam jangka panjang dan telah tersedia di dalam negeri. “Karena yang impor ini, ini kita pakai neraca komoditas. Dimana neraca komoditas itu sudah kontrak, jadi sudah kontrak jangka panjang dan barangnya sudah banyak masuk ke Indonesia. Sehingga, di sisi industri-industrinya masih bisa dengan bahan baku yang ada. Masih belum terdampak walaupun nanti kita lihat perkembangannya,” tutup Putu.

Dilansir Bloomberg, mata uang Paman Sam berhasil menguat 83 poin atau 0,48% ke level Rp 17.326. Dolar AS makin perkasa, sementara rupiah turun ke level terendah sepanjang sejarah.

Dengan nilai tukar yang terus berubah, industri di Indonesia dihadapkan pada pilihan: memanfaatkan skema LCS untuk mengurangi risiko impor, atau memperluas ekspor guna memanfaatkan nilai tukar yang menguntungkan. Sementara perusahaan berbasis bahan baku domestik kini lebih kompetitif di pasar global, industri yang masih mengandalkan impor harus menunggu perkembangan lebih lanjut.

Nilai tukar dolar ASrupiahLocal Currency SettlementBank Indonesiaeksporbahan baku imporbahan baku domestik

Komentar

Memuat komentar...