DPKPB Lubuklinggau Siap 24 Jam Hadapi Karhutla 2026

Dedi S. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 68 dibaca
Bisik.id
DPKPB Lubuklinggau Siap 24 Jam Hadapi Karhutla 2026

Gambar atau konten salah?

Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana (DPKPB) Lubuklinggau di Sumatera Selatan sedang memperkuat kesiapan menghadapi karhutla (kebakaran hutan dan lahan) di musim kemarau 2026. Fokus utama adalah semak belukar di pinggir jalan, yang dianggap paling rawan terbakar.

Menurut Kabid Penanggulangan Bencana DPKPB Lubuklinggau, Suryo Amrinata, timnya baru saja menanggapi kebakaran di belakang SMA Negeri 9, Kelurahan Kayu Ara, Kecamatan Lubuklinggau Barat I, pada 31 Mei 2026 sore. “Untuk karhutla saat ini ada kejadian di sebuah lahan di belakang SMA 9 kemarin (31/5/2026) sore. Sekitar 0,2 hektare semak belukar di pinggir jalan terbakar. Penyebabnya belum diketahui, tetapi sudah berhasil kita atasi,” ujarnya pada 1 Juni 2026.

Semak belukar dan ilalang memang sangat mudah terbakar ketika musim kemarau. Karena itu, Suryo mengingatkan warga agar tidak membuang puntung rokok sembarangan atau membakar sampah di area tersebut. “Memang rawan semak belukar atau ilalang terbakar saat musim panas ini. Makanya kita ingatkan warga jangan sampai buang puntung rokok dan membakar sampah sembarangan, terutama di dekat semak belukar. Kemudian sangat dilarang membuka lahan dengan cara dibakar,” jelasnya.

Untuk menanggulangi potensi kebakaran, DPKPB telah menyiapkan personel dan peralatan yang siap 24 jam. “Untuk persiapan karhutla, kami dari pihak damkar selalu standby 24 jam untuk mengatasi karhutla,” ungkap Suryo.

Menurut data BMKG, Sumatera Selatan diprediksi mengalami musim kemarau yang lebih panjang dari biasanya pada tahun 2026. Kondisi ini diperkirakan berlangsung dari bulan April hingga Oktober, dengan puncak kemarau pada Juli hingga September. BMKG menyebutnya sebagai fenomena El Nino Godzilla. “Karena itu masyarakat juga diimbau agar menyiapkan penampungan air di rumah masing-masing untuk mengantisipasi kebutuhan air selama musim kemarau. Jadi saat terjadi hujan bisa langsung menampung air,” tambahnya.

Meski Lubuklinggau bukan daerah lahan gambut, Suryo menegaskan bahwa potensi kebakaran tetap tinggi karena banyak semak belukar di sepanjang jalan raya. “Kalau di Lubuklinggau ini memang bukan daerah lahan gambut, tapi banyak semak belukar dekat jalan raya yang potensial terbakar, baik sengaja maupun tidak sengaja. Mayoritas karena puntung rokok yang dibuang sembarangan,” jelasnya.

Wilayah yang masuk kategori rawan kebakaran antara lain sepanjang Jalan Lingkar Barat dari Kelurahan Taba Lestari hingga Terminal Watas. Selain itu, kawasan dari GOR Petanang hingga Siring Agung, Belalau, Petanang Ulu, Petanang Ilir, Taba Baru, dan Sukajadi juga sering terjadi kebakaran semak belukar.

DPKPB sudah melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk membersihkan semak belukar dan menjaga jarak dari rumah. “Kita sudah sosialisasikan kepada masyarakat untuk mengantisipasi dan membersihkan semak belukar agar tidak sampai mendekati rumah. Takutnya kalau terjadi kebakaran bisa menjalar ke permukiman,” tuturnya.

Dengan persiapan yang terus ditingkatkan, DPKPB berharap dapat mengurangi dampak kebakaran hutan dan lahan di Lubuklinggau selama musim kemarau 2026. Masyarakat diingatkan untuk tetap waspada dan mematuhi petunjuk keamanan, terutama dalam mengelola semak belukar dan sampah di lingkungan sekitar.

Perhatian terhadap potensi kebakaran di daerah ini, meski tidak berada di lahan gambut, menunjukkan pentingnya tindakan preventif yang melibatkan semua pihak. Menjaga kebersihan semak belukar dan menyiapkan penampungan air menjadi langkah kunci untuk mengurangi risiko kebakaran selama musim kemarau panjang.

DPKPBkarhutlasemak belukarmusim kemarauEl Nino Godzillapenampungan air

Komentar

Memuat komentar...