DPR Evaluasi Mudik 2026: Fokus Peningkatan Buffer Zone
Gambar atau konten salah?
Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI mengadakan sesi evaluasi pada 14 April 2026 untuk menilai pelaksanaan mudik Lebaran 2026. Dalam rapat tersebut, anggota Komisi V DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Hamka B Kady, menyampaikan beberapa poin penting.
Hamka memulai dengan mengapresiasi kinerja pemerintah dan semua pihak yang terlibat, termasuk Kementerian Perhubungan, Kementerian Pekerjaan Umum, Basarnas, BMKG dan Korlantas Polri. Ia menilai bahwa pelaksanaan mudik tahun ini menghasilkan hasil yang baik, khususnya dalam penurunan angka kecelakaan. “Tidak ada kata lain selain bersyukur dan berterima kasih. Hasilnya terlihat jelas, angka kecelakaan menurun. Ini capaian yang patut diapresiasi,” ujarnya dalam keterangan tertulis.
Meski demikian, Hamka menegaskan bahwa keberhasilan ini tidak boleh membuat pemerintah lengah. Ia mengingatkan bahwa persoalan berulang masih terjadi, terutama di pelabuhan penyeberangan seperti Gilimanuk, Ketapang dan Merak. Menurutnya, akar masalahnya adalah belum optimalnya penyediaan buffer zone atau tempat penampungan kendaraan (buffer parking) sebelum memasuki pelabuhan. “Jangan sampai jalan raya dijadikan tempat penampungan kendaraan. Pelabuhan penyeberangan itu harus didukung buffer zone yang memadai agar tidak mengganggu arus lalu lintas umum,” tambah ia.
Hamka meminta Kementerian Perhubungan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola pelabuhan penyeberangan, termasuk kejelasan kewenangan pengelolaan antara direktorat terkait. Ia juga menyoroti pentingnya perencanaan infrastruktur jalan menjelang periode mudik. “Perbaikan jalan harus dilakukan jauh hari sebelum masa mudik. Jangan mendekati hari raya, karena itu justru menghambat pergerakan masyarakat,” ujarnya.
Selain itu, Hamka menyinggung perlunya peningkatan sarana pendukung keselamatan lalu lintas, seperti pembatas jalan dengan lampu penerangan untuk mendukung rekayasa lalu lintas di malam hari. Ia menegaskan bahwa setiap strategi, termasuk contra flow dan pengaturan arus, pasti memiliki risiko. Oleh karena itu, langkah mitigasi maksimal diperlukan untuk meminimalisir potensi kecelakaan.
Hamka kembali mengapresiasi kerja keras semua pihak, termasuk Basarnas dan BMKG yang dinilai sigap dalam memberikan informasi dan respons terhadap kondisi lapangan. Meski angka kecelakaan menurun, ia mengingatkan bahwa itu bukan satu-satunya indikator keberhasilan. Ia mendorong evaluasi yang lebih komprehensif agar pelaksanaan mudik ke depan semakin baik. “Ini harus kita jadikan bahan evaluasi bersama. Supaya ke depan kita tidak lagi disibukkan dengan persoalan yang sebenarnya bisa diantisipasi lebih awal,” katanya.
Evaluasi ini menyoroti bahwa meskipun ada capaian positif, masih banyak tantangan yang harus diatasi. Fokus utama tetap pada peningkatan infrastruktur, penanganan arus lalu lintas, dan penguatan sistem keselamatan untuk mendukung perjalanan mudik yang lebih aman dan lancar di masa mendatang.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
