Ekonomi RI Tumbuh 5,29%, Kemiskinan Turun
Gambar atau konten salah?
Badan Pusat Statistik (BPS) secara resmi mengumumkan angka pertumbuhan ekonomi Indonesia terbaru, yaitu sebesar 5,29 persen. Angka ini merupakan hasil dari kontribusi lima sektor utama di dalam negeri. Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Edy Mahmud, menjelaskan bahwa sektor-sektor tersebut menjadi tulang punggung perekonomian nasional.
"Lapangan usaha pertama yang memberikan kontribusi besar kepada PDB adalah industri pengolahan, pertanian, perdagangan, konstruksi dan pertambangan. Total kelima lapangan tersebut mencakup sekitar 63,73% dari total PDB Indonesia," kata Edy pada Rabu, 5 Agustus 2026.
Menanggapi capaian ini, Purbaya Yudhi Sadewa menilai bahwa pertumbuhan sebesar 5,29 persen tergolong cukup baik. Namun, Bendahara Negara itu mengakui bahwa angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pada kuartal sebelumnya yang mencapai 5,61 persen. Purbaya menambahkan bahwa situasi geopolitik masih menjadi hambatan utama bagi kinerja ekonomi nasional. Performa ekspor, menurutnya, juga terganggu akibat ketidakpastian harga bahan bakar minyak (BBM) yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah.
"April, May, Juni ketika harga minyak dunia tinggi dan lain-lain. Jelas ekspor segala macam terganggu kan, nggak optimal lah. Kita bisa temukan 5,29% itu sudah cukup baik di tengah keadaan seperti itu," ujar Purbaya.
Bersamaan dengan pengumuman pertumbuhan ekonomi kuartal II, BPS juga merilis data penurunan jumlah penduduk miskin. Per Maret 2026, angka penduduk yang masuk kategori miskin turun menjadi 22,93 juta orang, atau setara dengan 8,07 persen dari total penduduk. Jumlah ini berkurang sekitar 430 ribu orang dibandingkan data pada September 2025.
Edy Mahmud menyebutkan bahwa Pulau Jawa menjadi penyumbang terbesar jumlah penduduk miskin di Indonesia. Meskipun demikian, wilayah ini juga mencatatkan penurunan angka kemiskinan yang paling dalam, yaitu sebesar 0,21 persen. "Jika dibandingkan dengan September 2025 penurunan tingkat kemiskinan terjadi di semua wilayah di Indonesia penurunan paling dalam terjadi di pulau Jawa yaitu turun sebesar 0,21%," terang Edy.
Namun, di balik angka pertumbuhan ekonomi yang positif dan penurunan kemiskinan, kondisi riil di masyarakat justru menunjukkan kesenjangan. Pada saat yang sama, masyarakat dihadapkan pada ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) dan dominasi sektor kerja informal. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang seberapa inklusif pertumbuhan ekonomi yang terjadi.
Selain itu, ada juga berita tentang peluncuran satelit Lampung-1 oleh Pemerintah Provinsi Lampung bersama BRIN. Satelit hiperspektral yang berbasis kecerdasan artifisial (AI) ini diluncurkan dari perairan Haiyang, Provinsi Shandong, China, pada Rabu, 5 Agustus 2026. Peluncuran dilakukan menggunakan roket Smart Dragon-3 dalam misi OSE Hyperspectral Twin Satellites. Satelit ini diharapkan dapat mendukung pembangunan berbasis data di masa depan.
Di sisi lain, topik kesehatan juga menjadi sorotan, terutama mengenai menopause yang sering dianggap sebagai momok menakutkan bagi sebagian perempuan di Indonesia. Rendahnya pengetahuan tentang dampak dan gejala menopause memperkuat pandangan ini. Padahal, masa menopause dapat dialami dalam rentang usia yang lebih lebar dari yang diperkirakan. Certified Health Coach, Mia Fitri, akan mengulas lebih dalam tentang persiapan yang perlu dilakukan menghadapi masa menopause.
Secara keseluruhan, data pertumbuhan ekonomi dan penurunan kemiskinan menunjukkan tren positif, tetapi tantangan seperti PHK dan sektor informal masih perlu diatasi agar manfaat pertumbuhan dapat dirasakan lebih merata oleh seluruh lapisan masyarakat.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Penyerapan Beras Capai 3,5 Juta Ton, Mendekati Target
Indonesia Berpotensi Jadi Pusat Protein Asia Tenggara
BGN Klarifikasi Data 13.000 SPPG, Bukan Semua Siap Beroperasi
Pendanaan Startup RI Anjlok 49% pada 2025
Data Ganda 6 Juta, Penerima Makan Gratis Bisa Berkurang
Indonesia Peringkat 6 Startup Dunia, Mutu Jauh Tertinggal