Ekspor CPO Indonesia Naik di Tengah Perang AS-Israel-Iran
Gambar atau konten salah?
Jakarta - Kinerja ekspor CPO atau minyak sawit Indonesia masih menunjukkan hasil yang baik di tengah perseteruan antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia, Eddy Martono, menyatakan bahwa produk minyak sawit Indonesia saat ini telah dikirim ke 117 negara di seluruh dunia. Setiap tahun, total produk yang dikirim terus mengalami peningkatan.
"Ekspor kita mengalami kenaikan. Nilai ekspor pun meningkat, dari 29 juta ton pada tahun 2024 menjadi 35 juta ton pada tahun 2025," ujar Eddy dalam konferensi pers GAPKI di Jakarta pada 12 Maret 2026.
Terkait dampak perang di Iran, Eddy mengungkapkan bahwa gangguan hanya terjadi pada pengiriman ke negara-negara di Timur Tengah yang harus melewati Selat Hormuz. Hal ini menyebabkan gangguan terhadap ekspor CPO Indonesia sekitar 1,83 juta ton. "Gangguan yang terjadi memang terutama di Timur Tengah. Ekspor kita ke wilayah tersebut yang melewati Selat Hormuz mengalami gangguan," jelas Eddy.
Selain itu, Eddy juga menyoroti kendala lain yang dihadapi, yaitu kenaikan biaya logistik yang sudah mencapai 50% di atas rata-rata biaya normal akibat harga minyak dan risiko perjalanan yang meningkat. "Kapal kargo yang lain masih bisa beroperasi meskipun harus memutar, seperti melalui Cape Town di Afrika hingga ke Eropa," tambahnya.
Meski ada tantangan, Eddy menekankan bahwa sawit masih dibutuhkan banyak negara, sehingga ekspor tetap terjaga. Namun, ia memperingatkan bahwa jika perang di Timur Tengah berlanjut, ekspor CPO dari Indonesia kemungkinan akan terpengaruh. "Kita bersyukur ekspor masih bisa berjalan, tetapi jika situasi ini berkepanjangan, pasti akan mempengaruhi permintaan. Negara-negara importir mungkin akan mengurangi pembelian jika harga logistik terlalu tinggi," pungkas Eddy.
Ekspor CPO Indonesia masih stabil meskipun ada tantangan dalam pengiriman dan biaya. Permintaan dari negara lain tetap ada, tetapi situasi konflik dapat mempengaruhi harga dan volume ekspor ke depan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
