El Nino 2025‑2026: Panas Terpanas dan Risiko Kebakaran Tinggi

Guntur P. · 1 min baca · 2 bulan lalu · 100 dibaca
Bisik.id
El Nino 2025‑2026: Panas Terpanas dan Risiko Kebakaran Tinggi

Gambar atau konten salah?

Profesor Thomas Djamaluddin dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengingatkan masyarakat untuk menilai informasi tentang El Nino dengan hati‑hati. Ia menegaskan bahwa meski El Nino diperkirakan akan muncul mulai pertengahan 2025, fenomena ini tidak membahayakan secara langsung kepada kehidupan, manusia atau hewan.

Menurut beliau, El Nino akan menambah durasi kemarau, membuat cuaca menjadi lebih kering dan terik. Hal ini berarti risiko kebakaran hutan meningkat. Ia menambahkan, “Tetapi El Nino tidak bikin orang sakit, apalagi kematian.” Ia juga menegaskan bahwa kemarau pada tahun-tahun berikutnya akan mirip dengan kemarau biasa: terik, tidak ada hujan, dan tidak menimbulkan penyakit.

Prediksi untuk tahun 2026 menandai kemungkinan terjadinya “Super El Nino”. Data suhu dari lima kelompok riset berbeda dikumpulkan oleh situs analisis lingkungan Carbon Brief. Menurut perkiraan mereka, 2026 hampir pasti menjadi salah satu tahun terpanas yang pernah tercatat, bahkan mungkin menjadi yang terpanas kedua. Model iklim terbaru menilai pemanasan median sebesar 2,2 °C pada September 2026, menempatkan dunia dalam zona “Super El Nino”.

Fenomena ini dapat memicu kekeringan, banjir, dan gelombang panas laut di seluruh dunia. Carbon Brief menegaskan bahwa suhu global diperkirakan akan terus meningkat sepanjang tahun, menambah tekanan pada sistem iklim global.

Dengan demikian, meski El Nino tidak langsung mengancam kesehatan manusia, dampaknya terhadap pola cuaca dan kebakaran hutan menjadi perhatian utama. Pemantauan suhu dan persiapan mitigasi kebakaran menjadi kunci menghadapi potensi “Super El Nino” di masa depan.

El NinoSuper El NinoBRINkebakaran hutansuhu globalpemanasan globalProfesor Thomas DjamaluddinCarbon Brief

Komentar

Memuat komentar...