Esti Ernawati Viral di Instagram, Perjuangan Melawan Achalasia
Gambar atau konten salah?
Esti Ernawati, 28 tahun, warga Tasikmalaya, menulis tentang perjuangannya melawan achalasia—kondisi di mana saraf kerongkongan melemah sehingga makanan tidak dapat dipindahkan ke lambung—di akun Instagramnya. Postingan‑postingan tersebut menjadi viral dan memicu diskusi di kalangan netizen.
Menurut Esti, semua bermula pada tahun 2019. Saat itu, ia merasakan sakit tenggorokan, asam lambung keluar berlebihan, kesulitan menelan, dan perih di lambung. Karena gejala‑gejala tersebut, ia memutuskan untuk pergi ke rumah sakit di Tasikmalaya. Dokter menemukan penyempitan pada bagian bawah kerongkongan, sehingga makanan tidak bisa dendorong ke lambung.
Ia seharusnya dirujuk ke rumah sakit di Bandung, namun prosesnya terhenti karena kendala biaya. “Karena orang tua saya tidak punya biaya untuk melanjutkan pengobatan karena saat itu biaya untuk berobat dari uang pribadi, karena saya belum punya BPJS kesehatan,” ungkap Esti.
Selama periode 2019 sampai 2022, Esti masih dapat makan secara langsung lewat mulut, namun makanan harus dihaluskan. Seiring berjalannya waktu, bubur yang ia konsumsi tidak lagi dapat masuk ke tubuhnya. Pada tahun 2024, kondisi Esti semakin memburuk karena asupan nutrisi yang berkurang. Dokter akhirnya menyarankan penggunaan selang nasogastric tube (NGT) agar ia tetap dapat memenuhi kebutuhan nutrisinya. Berat badan Esti pada saat itu sudah turun ke angka 36 kg.
Esti kemudian dirujuk kembali ke rumah sakit di Bandung untuk prosedur endoscopic balloon dilation. “Alhamdulillah saya bisa ditindak, tapi hasilnya tidak berhasil, karena saya masih belum bisa menelan makanan langsung ke lambung, ternyata saraf kerongkongan setelah dilatasi balon kembali ke semula mengerut dan menyempit,” ia ceritakan.
Dokter menyarankan operasi lanjutan di salah satu rumah sakit di Jakarta. Namun, Esti kembali menghadapi kendala biaya, sementara ia sedang mengumpulkan uang dan donasi. Ia berharap bisa segera sembuh dan kembali beraktivitas, termasuk bekerja. Meski perjalanan ini tidak mudah, semangatnya tetap tinggi.
Esti menekankan pentingnya dukungan bagi orang tua yang telah mengorbankan semua tabungan untuk perawatan. Agar bisa berjuang kembali bantu orang tua mencari nafkah. Karena semenjak Esti sakit barang-barang yang ada di rumah serta tabungan orang tua habis digunakan untuk berobat Esti,” tambahnya.
Perjalanan Esti menyoroti betapa pentingnya akses ke layanan kesehatan yang terjangkau. Kondisi medis yang serius, seperti achalasia, dapat memaksa pasien untuk mengandalkan perawatan yang mahal dan prosedur medis berulang. Dalam konteks ini, dukungan finansial dan sosial menjadi kunci bagi pemulihan pasien yang menghadapi tantangan serupa.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
BPOM Tegaskan Indonesia Jadi Pemain Utama ATMP Terapi Gen
Peringatan WMO: El Nino 2026 Siap Guncang Indonesia
Penyakit Ginjal Anak Naik, Minuman Manis Bertanggungjawab
Kista Ovarium: Kenali Jenis, Risiko, dan Solusi Laparoskopi
Golongan Darah Tidak Menentukan Risiko Kolesterol Berdasarkan
Frisian Flag Gelar Kampanye Keluarga di Atrium BXC Bintaro
Berita Terbaru
SIM Keliling Kembali Operasi di Badung dan Buleleng Pusat
Italia 1-0 Luksemburg, Baldini Raih Kemenangan Muda
Belanda Kalah 0-1 dari Aljazair, Persiapan Piala Dunia 2026
Zodiak Cancer 4 Juni 2026: Hari Ramai Air dan Keberuntungan
Zodiak Virgo 4 Juni 2026: Hari Bintang, Peluang Romantis & Karier
Zodiak Aries 4 Juni 2026: Energi Baru dan Peluang Cinta
Zodiak Libra 4 Juni 2026: Keseimbangan Hari, Cinta, Karier & Kesehatan
Zodiak Scorpio 4 Juni 2026: Panduan Hari Terbaik Hari
Zodiak Leo 4 Juni 2026: Energi Matahari Menuntun Hari Anda
Zodiak Gemini: 4 Juni 2026, Hari Dinamika Kencan dan Karier
