Fahombo Batu: Tradisi Lompat Batu di Desa Bawomataluo Nias
Gambar atau konten salah?
Perjalanan menuju Desa Bawomataluo di Nias Selatan memberi saya pengalaman berbeda. Desa adat ini terletak di atas perbukitan, menampilkan deretan rumah tradisional Nias yang masih kokoh dan suasana budaya yang terjaga.
Rumah adat berdiri berjajar rapi, arsitektur unik, menambah keaslian. Dari atas bukit, pemandangan sekitar desa tampak indah, membuat saya betah berjalan kaki menyusuri kawasan.
Namun, satu hal yang paling membuat penasaran sejak tiba adalah menyaksikan tradisi Fahombo Batu, atau lompat batu, yang sebelumnya hanya saya lihat lewat foto dan video di media sosial.
Setibanya di area pertunjukan, suasana desa tampak ramai, dipenuhi wisatawan lokal dan mancanegara. Beberapa warga berbincang di depan rumah adat, sementara anak-anak bermain di halaman batu.
Tak lama kemudian, semua mata tertuju pada susunan batu tinggi yang menjadi ikon tradisi. Saya merasakan ketegangan saat seorang pemuda desa bersiap melompati batu.
Dengan pakaian adat khas Nias, ia berlari cepat menuju batu setinggi lebih dari dua meter. Dalam hitungan detik, tubuhnya melayang melewati batu tanpa menyentuh bagian atasnya sedikit pun.
Suara tepuk tangan dan sorakan pecah, memenuhi area desa. Momen itu membuat saya merinding sekaligus kagum.
Baginya, Fahombo Batu bukan sekadar atraksi wisata. Dari penjelasan warga, tradisi ini memiliki sejarah panjang, terkait keberanian dan kesiapan pemuda melindungi desa pada masa lalu.
Dulu, desa-desa di Nias memiliki benteng pertahanan batu, sehingga pemuda dilatih melompati penghalang sebagai latihan fisik dan mental. Meskipun tidak lagi dipakai untuk perang, Fahombo Batu tetap hidup sebagai simbol penghormatan leluhur dan identitas budaya.
Setiap lompatan memiliki makna tentang keberanian, kedisiplinan, dan harga diri masyarakat adat. Selain menyaksikan, saya menikmati suasana desa yang autentik.
Keberadaan wisatawan memberikan dampak positif bagi masyarakat. Banyak warga menjual kerajinan tangan, suvenir, dan menawarkan jasa pemandu wisata. Beberapa wisatawan asing antusias membeli hasil kerajinan sambil berbincang.
Suasana seperti ini menunjukkan bahwa pariwisata budaya dapat menjaga tradisi sekaligus membantu perekonomian. Pengalaman mengunjungi Desa Bawomataluo menjadi salah satu perjalanan budaya yang paling berkesan bagi saya.
Fahombo Batu bukan hanya aksi melompat di atas batu tinggi, melainkan juga tentang bagaimana tradisi bertahan dan diwariskan. Melihat langsung memberikan pelajaran bahwa budaya lokal memiliki nilai kuat, tidak kalah menarik dibanding destinasi modern.
Keberanian, penghormatan leluhur, dan kebanggaan identitas budaya masih hidup di Nias hingga hari ini.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Turis Australia Siram Pasangan China di Pulau Padar Viral
Arkeolog Temukan Kota Bizantium dan 'Lidah Emas' di Mesir
Perpustakaan Nyi Ageng Serang Kembali Dibuka, Diserbu Gen Z
Prancis Tetap Primadona Wisata Usai Kalah Piala Dunia
Hari Bastille 2026: Prancis Rayakan, Timnas Tersingkir
Perpustakaan Jakarta Kini Buka Lagi, Ada Vinyl dan Board Game
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
