Kampung Karanganyar: Tenun Sutra Tradisional Terus Berkembang

Andi B. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 114 dibaca
Bisik.id
Kampung Karanganyar: Tenun Sutra Tradisional Terus Berkembang

Gambar atau konten salah?

Di lereng gunung Karaha, terdengar irama alat tenun yang lembut, bukan suara mesin. Suasana itu menyambut setiap pengunjung yang datang ke Kampung Karanganyar.

Tempat ini adalah satu-satunya sentra tenun sutra yang masih beroperasi di Kabupaten Tasikmalaya. Kampung Karanganyar terletak di Desa Cipondoh, Kecamatan Sukaresik, di mana para perajin menenun dengan tangan terampil menggunakan alat tenun kayu tradisional.

Di balik tembok anyaman bambu sederhana, para perajin menenun kain sutra rumahan. Kain tersebut kini menjadi favorit para desainer fashion terkemuka, seperti Itang Yunasz dan Wigyo Rahardi.

Para maestro di sini fokus pada wastra nusantara. Mereka selalu memakai kain sutra buatan kampung ini karena motifnya yang unik dan kualitasnya yang nyaman dipakai. Motif-motif seperti sulam, bulu, bulu bata, dan organdi menjadi ciri khasnya.

Menurut Kholip, ketua kelompok perajin tenun sutra Mardian Putra, pesanan terus mengalir berkat diversifikasi produk. Selain menenun sutra, mereka juga memodifikasi tenun di kain katun dan piskot, serta menambahkan bordir dan lukisan tangan.

Langkah diversifikasi ini menyesuaikan permintaan pasar yang semakin sulit mendapatkan produk berkualitas dengan harga terjangkau. Selain menekan biaya produksi, diversifikasi ini memungkinkan perajin menciptakan tekstur baru, seperti kain lebih tebal untuk pakaian pria atau kain sangat ringan untuk aplikasi bordir khas Tasikmalaya.

“Kami sepakat meneruskan ketrampilan tenun kepada anak cucu kami. Karena hasilnya sudah bisa dinikmati, bisa dapat penghasilan dari kampung sendiri. Kami juga tidak segan membagikan sebuah ilmu menenun ini kepada para pengunjung yang bertandang ke rumah produksi tenun di kampung ini,”

“Kami tidak mengandalkan pinjaman dari lembaga perbankan. Jadi modal yang ada dibelanjakan benang, di tenun, lalu kainnya dijual,”

Dengan modal sendiri, para perajin tidak perlu bergantung pada pinjaman bank. Modal yang ada langsung dialokasikan ke benang, proses tenun, dan penjualan kain. Hal ini membantu mereka menjaga kestabilan keuangan dan tetap fokus pada kualitas.

Para perajin tidak kesulitan menjual kain hasil tenunan harian. Justru, kapasitas produksi mereka belum mampu memenuhi permintaan para pelanggan yang terus berdatangan. Kain sutra yang mereka hasilkan menjadi barang langganan bagi desainer dan pelanggan setia.

Untuk menjaga warisan ini, Kholip bersama anggota kelompoknya sepakat meneruskan ketrampilan tenun kepada generasi berikutnya. “Kami sepakat meneruskan ketrampilan tenun kepada anak cucu kami. Karena hasilnya sudah bisa dinikmati, bisa dapat penghasilan dari kampung sendiri. Kami juga tidak segan membagikan sebuah ilmu menenun ini kepada para pengunjung yang bertandang ke rumah produksi tenun di kampung ini,”

Rumah produksi Kholip terbuka lebar bagi siapapun yang bertandang. Dengan alat tenun bukan mesin (ATBM), pengunjung dapat belajar dari awal, mulai dari motif paling mudah seperti motif bata hingga motif paling sulit seperti kombinasi bordir.

Para pengunjung yang membeli kain sutra di sini biasanya mendapatkan harga di bawah pasar online, karena langsung dari produsen. Kain sutra dijual seharga Rp 1,5 juta untuk ukuran lebar 1,5 meter dan panjang 2,5 meter. Sementara tenun katun atau piskot dapat diperoleh sekitar Rp 300 ribu per lembar dengan ukuran yang sama.

Pengalaman menenun di Kampung Karanganyar tidak hanya sekadar belajar teknik. Ia juga menjadi pelestarian budaya, sekaligus sumber penghasilan bagi masyarakat setempat. Dengan diversifikasi produk dan pengelolaan modal sendiri, para perajin menjaga tradisi tenun sutra tanpa harus bergantung pada pinjaman eksternal. 14 Mei 2026

Kampung KaranganyarTenun SutraAlat Tenun Kayu TradisionalDiversifikasi ProdukWarisan BudayaModal SendiriTasikmalaya

Komentar

Memuat komentar...