Fakta Ekuinoks Maret: Matahari Tepat di Khatulistiwa

Fitri A. · 2 min baca · 4 bulan lalu · 86 dibaca
Bisik.id
Fakta Ekuinoks Maret: Matahari Tepat di Khatulistiwa

Gambar atau konten salah?

Fenomena astronomi ekuinoks Maret terjadi pada hari Jumat, 20 Maret 2026. Pada waktu ini, posisi Matahari berada tepat di atas garis khatulistiwa. Akibatnya, penyinaran Matahari terasa lebih maksimal di wilayah Indonesia.

Ada beberapa hal menarik seputar fenomena ekuinoks ini. Istilah ekuinoks berasal dari bahasa Latin, yaitu gabungan kata equinoctis atau equum yang berarti sama, dan noctis yang artinya malam.

Secara harfiah, ekuinoks menggambarkan kondisi ketika Bumi berada di posisi di mana belahan Bumi Utara dan Selatan sama-sama menerima radiasi Matahari dengan durasi dan besaran yang setara. Ini terjadi karena sumbu rotasi Bumi tidak condong ke arah Matahari maupun menjauhinya, baik di belahan Utara maupun Selatan.

Saat ekuinoks terjadi, Matahari bersinar tepat di atas kepala, atau mencapai titik zenith. Kondisi ini menyebabkan bayangan benda tegak lurus yang berada di garis khatulistiwa akan menghilang sesaat. Banyak yang menyebut fenomena ini sebagai hari tanpa bayangan.

Kota Pontianak di Kalimantan Barat merupakan salah satu lokasi yang dilalui garis khatulistiwa (lintang 0 derajat), sehingga dikenal sebagai Kota Khatulistiwa. Bagi pengamat di garis ini, Matahari akan berada tepat di atas kepala saat tengah hari.

Dari sudut pandang pengamatan Tata Surya di luar Bumi, sumbu rotasi Bumi tegak lurus terhadap arah sinar Matahari. Hal ini membuat batas siang dan malam berimpit dengan garis bujur di seluruh permukaan Bumi. Akibatnya, panjang siang dan malam hampir sama di seluruh dunia, meskipun durasinya mungkin tidak persis 12 jam karena adanya pengaruh pembiasan atmosfer (refraksi).

Fenomena Matahari tepat di khatulistiwa terjadi dua kali setahun, yaitu pada bulan Maret dan September. Ekuinoks Maret menandai dimulainya musim semi di belahan Bumi selatan dan awal musim gugur di belahan Bumi utara.

Di Indonesia, ekuinoks Maret menandai peralihan musim dari musim hujan menuju musim kemarau. Sementara itu, ekuinoks September menandai transisi dari musim kemarau ke musim hujan.

Pelacakan pergerakan Matahari telah dilakukan sejak ribuan tahun lalu. Fenomena ekuinoks seringkali terintegrasi dalam berbagai tradisi budaya dan keagamaan. Bagi banyak peradaban kuno, pergeseran Matahari menentukan waktu tanam dan panen.

Sebagai contoh, di Jepang, kedua momen ekuinoks merupakan hari libur nasional. Secara tradisional, hari-hari ini digunakan untuk menghormati leluhur dan keluarga yang telah meninggal. Ekuinoks juga ditandai oleh berbagai monumen kuno. Di kompleks Candi Angkor Wat di Kamboja, misalnya, saat ekuinoks Matahari terbit tepat di atas candi pusatnya.

Fenomena ini menunjukkan keselarasan pergerakan Bumi dan Matahari yang telah diamati dan dimaknai oleh manusia sepanjang sejarah.

Ekuinoks MaretGaris KhatulistiwaHari Tanpa BayanganDurasi Siang Malam SamaBRINPergantian Musim

Komentar

Memuat komentar...