Gang Dagang: Gamifikasi Literasi Keuangan UMKM Indonesia
Gambar atau konten salah?
UMKM kini menyumbang lebih dari 60% PDB nasional, namun masih banyak pelaku usaha yang belum menguasai literasi keuangan dan adopsi teknologi digital. Banyak yang masih mencampur keuangan pribadi dengan bisnis, kesulitan menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP), dan tidak memanfaatkan sistem pembayaran digital yang sudah tersedia.
Untuk mengatasi masalah tersebut, Netzme meluncurkan Gang Dagang, sebuah program gamifikasi yang mengajarkan literasi keuangan dan digitalisasi secara interaktif. Program ini dirancang supaya pelaku UMKM dapat belajar sambil bermain, sehingga pengetahuan yang didapat langsung dapat diterapkan di usaha mereka.
Berbeda dengan pendekatan tradisional, Gang Dagang menempatkan peserta sebagai pemain dalam simulasi bisnis nyata. Setiap modul dilengkapi dengan enrichment class yang dipandu langsung oleh Ruangguru. Hal ini membuat pengalaman bermain menjadi strategi praktis yang dapat langsung diimplementasikan.
Program ini akan memulai cohort pertama dengan 50 pelaku UMKM yang terpilih melalui proses seleksi terbuka. Kurikulum berlangsung selama lima bulan, memberi waktu cukup bagi peserta untuk menguasai konsep-konsep penting.
“Kami menyambut baik program ini, sejalan dengan semangat Jakpreneur dan komitmen Pemprov DKI Jakarta dalam mendorong transformasi digital serta meningkatkan kapasitas pelaku UMKM. Sebagai pusat ekonomi dan transformasi digital nasional, DKI Jakarta dinilai menjadi lokasi strategis untuk peluncuran cohort pertama program Gang Dagang,” kata Suharini Eliawati dalam siaran pers ditulis Kamis 21 Mei 2026.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Divisi Perizinan dan Implementasi Kebijakan Sistem Pembayaran Perwakilan Bank Indonesia di DKI Jakarta, Roes Dina Martha, menegaskan apresiasinya terhadap kolaborasi ini. “Ke depan, kami berharap inisiatif semacam ini dapat bersinergi antara pihak swasta, pemerintah, otoritas, terus berlanjut dan dapat berkontribusi dalam mengakselerasi digitalisasi UMKM, penguasaan ekosistem pembayaran, serta penguatan ekonomi daerah yang inklusif dan berdaya saing,” unkap Roes.
CEO PT Netzme Kreasi Indonesia (Netzme), Vicky G. Saputra, menekankan pentingnya kombinasi infrastruktur dan literasi. “Kami percaya bahwa infrastruktur pembayaran digital saja tidak cukup. UMKM Indonesia membutuhkan literasi yang menyertainya. Gang Dagang adalah bentuk komitmen kami untuk membangun ekosistem yang tidak hanya menyediakan akses, tetapi juga meningkatkan kapabilitas pelaku usaha agar tidak sekadar bertransaksi digital, tetapi juga mampu bertumbuh dari transaksi tersebut.”
Chief of Corporate Strategy & Financial Officer Ruangguru, Arman Wiratmoko, menyatakan antusiasme mereka. “Kami sangat antusias berkolaborasi dengan Netzme untuk menghadirkan pembelajaran yang menyenangkan sekaligus berdampak nyata, kami percaya pembelajaran literasi keuangan ini juga merupakan sebuah investasi bagi para pelaku usaha UMKM ke depannya. Gamifikasi terbukti meningkatkan engagement dan retensi pengetahuan, terutama bagi pelaku UMKM yang sibuk, Kami berharap game Gang Dagang ini menjadi bekal nyata bagi keseharian bisnis para UMKM dan juga memberikan nilai tambah yang nyata bagi kita semua.”
Di dalam pelaksanaan, Gang Dagang mengintegrasikan ekosistem pembayaran Netzme, termasuk QRIS Soundbox dan Kasir Digital, ke dalam pengalaman belajar. Setiap dua minggu, peserta mengikuti Sales Race, tantangan kolektif untuk meningkatkan jumlah dan frekuensi transaksi QRIS Netzme di usaha mereka. Sistem leaderboard memotivasi peserta untuk bersaing dan belajar lebih cepat.
Program ini tidak hanya terbatas pada cohort. Gang Dagang juga dapat diakses oleh masyarakat umum melalui gangdagang.id, menyediakan sarana pembelajaran literasi keuangan dan digital yang lebih interaktif dan mudah dipahami.
Dengan menggabungkan gamifikasi, pelatihan praktis, dan ekosistem pembayaran yang sudah ada, Gang Dagang menawarkan pendekatan yang lebih relevan bagi pelaku UMKM. Program ini menempatkan pelaku usaha dalam peran aktif, sehingga mereka tidak hanya belajar teori, tetapi juga langsung mengaplikasikan pengetahuan dalam bisnis sehari-hari. Hasilnya, UMKM dapat meningkatkan efisiensi, mengoptimalkan transaksi digital, dan menumbuhkan kapasitas bisnis mereka secara berkelanjutan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
