Google Temukan Eksploitasi Zero-Day AI Target 2FA Open-Source

Kartika D. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 93 dibaca
Bisik.id
Google Temukan Eksploitasi Zero-Day AI Target 2FA Open-Source

Gambar atau konten salah?

Google mengumumkan bahwa mereka berhasil mendeteksi dan menghentikan sebuah eksploitasi zero‑day yang dikembangkan menggunakan kecerdasan buatan.

Laporan terbaru dari Google Threat Intelligence Group (GTIG) menunjukkan bahwa serangan ini dipersiapkan oleh kelompok penjahat siber terkemuka yang berniat melakukan serangan massal.

Target utama eksploitasi ini adalah sistem autentikasi dua faktor (2FA) pada sebuah alat administrasi sistem berbasis web open‑source, namun identitas alat tersebut tidak dipublikasikan.

Peneliti Google menemukan sejumlah kejanggalan pada skrip Python yang digunakan oleh peretas. Jejak digital tersebut menandakan campur tangan AI dalam pembuatan skrip.

Bukti yang ditemukan meliputi skor CVSS yang berhalusinasi dan format kode yang terlalu rapi serta terstruktur, ciri khas keluaran data pelatihan Large Language Model (LLM).

Eksploitasi dirancang untuk memanfaatkan kelemahan logika semantik tingkat tinggi, di mana pengembang alat open‑source secara tidak sengaja menanamkan asumsi kepercayaan yang di‑hardcode ke dalam sistem 2FA mereka.

Meskipun Google menegaskan keterlibatan AI, para peneliti tidak menemukan bukti bahwa model AI Gemini digunakan oleh peretas.

GTIG melaporkan bahwa peretas kini semakin mahir menggunakan taktik persona‑driven jailbreaking. Dengan metode ini, mereka memasukkan prompt yang memaksa AI untuk berpura‑pura menjadi pakar keamanan siber tingkat tinggi.

Selain itu, peretas dilaporkan menyuapi model AI dengan seluruh repositori data kerentanan keamanan secara utuh. Mereka juga memakai alat bantu seperti OpenClaw dalam lingkungan simulasi terkontrol untuk menyempurnakan muatan siber AI sebelum diluncurkan ke target nyata.

Penemuan ini menanggapi kekhawatiran industri teknologi tentang bahaya model AI yang difokuskan pada keamanan siber, seperti AI Mythos dari Anthropic. Sebelumnya, kerentanan pada sistem operasi Linux juga ditemukan dengan bantuan AI.

Tren ancaman siber saat ini bersifat dua arah. Selain AI digunakan sebagai senjata pencari celah, ekosistem AI sendiri kini menjadi sasaran empuk serangan peretas.

GTIG mengamati bahwa musuh makin sering menargetkan komponen terintegrasi yang memberikan kegunaan pada sistem AI, seperti keterampilan otonom dan konektor data pihak ketiga,” tutup laporan Google tersebut.

Keberhasilan deteksi ini menegaskan pentingnya pengawasan AI dalam keamanan siber, sekaligus mengingatkan bahwa sistem AI harus dilindungi dari serangan yang memanfaatkan kelemahan internal.

Google Threat Intelligence Groupeksploitasi zero‑daykecerdasan buatanautentikasi dua faktoropen‑sourceLarge Language Modelpersona‑driven jailbreakingOpenClaw

Komentar

Memuat komentar...