Guru Perante Pakai Google Form, WhatsApp Cegah Stunting & TB

Nita W. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 83 dibaca
Bisik.id
Guru Perante Pakai Google Form, WhatsApp Cegah Stunting & TB

Gambar atau konten salah?

Masalah stunting dan tuberkulosis masih menjadi momok yang menyeramkan di Indonesia. Di Desa Perante, Situbondo, dua guru, Siti Zubaidah (59) dan Farhana (29), memutuskan untuk mencoba solusi sederhana. Mereka memanfaatkan Google Form dan WhatsApp untuk mengatasi kedua masalah tersebut.

“Setelah saya cari‑cari, ternyata belum ada yang menyatukan dua masalah terkait TB dan stunting. Di sini, kami mencoba menyelesaikan dua masalah ini dalam satu penanganan,” kata Farhana dalam panggilan telepon, 29 Mei 2026.

Guru di MIM Perante menjelaskan bahwa TB dan stunting berhubungan erat. Ia menyamakan keduanya dengan “lingkaran setan”. “Anak yang stunting rentan terkena tuberkulosis, begitu pula TB membuat anak stunting sulit untuk bertumbuh kembang maksimal,” jelasnya. Ia menambahkan, “Kalau sudah kena stunting, nggak bisa 1‑2 bulan tindakannya, itu harus ditindak bertahun‑tahun mendatang, mungkin 2‑3 tahun. Kalau anak kena stunting, keluarga harus dicek kena TB atau nggak.”

Perante sudah berusaha menurunkan angka stunting sejak 2023 melalui Kardas Centing Tosis (Kartu Cerdas Cegah Stunting dan Tuberculosis). Meskipun hanya menggunakan Google Form dan grup WhatsApp, upaya ini berhasil memperluas dan mempercepat pendataan.

Farhana membantu ibu‑ibu mengisi Google Form untuk skrining cepat stunting dan tuberkulosis. Formulir tersebut dibagikan lewat grup WhatsApp Kader Posyandu. Selain itu, tim juga menyelenggarakan workshop penyuluhan tentang bahaya TB dan stunting.

Hasilnya, hampir satu desa berhasil terdata. Sekarang sudah ada hampir 200 anak yang didata masalah stunting dan 500‑600 orang untuk skrining tuberkulosis, dari penduduk desa yang berjumlah hampir 1.000 orang.

Setelah berkomunikasi dengan tenaga kerja di Posyandu dan bidan desa, anak yang stunting akan mendapatkan PMT (Pemberian Makanan Tambahan) secara gratis selama satu bulan. Meski belum ada data pasti soal penurunan angka stunting, Hana mengalami sendiri beberapa kabar membahagiakan.

“Waktu itu aku sudah mulai ikut menyalurkan PMT 2024. Ternyata ada beberapa anak yang di 2025 nggak mendapatkan PMT lagi. Waktu itu aku tanya ke kadernya ‘Kenapa nggak dapat lagi?’, dijawabnya ‘Anak ini sudah sehat, anaknya nggak stunting lagi’,” kisahnya.

Bagaimana dengan orang yang belum mengisi formulir secara online? Hana menjelaskan bahwa ia dan tim melakukan upaya ‘jemput bola’. Keluarga yang belum terdata akan dikunjungi ke rumahnya langsung sehingga dapat dipastikan semua warga mengisi formulir tersebut.

Inisiatif ini menunjukkan bahwa solusi sederhana, seperti Google Form dan WhatsApp, dapat membantu pendataan kesehatan di daerah terpencil. Dengan data yang akurat, program intervensi seperti PMT dapat disesuaikan lebih tepat sasaran, meningkatkan peluang anak-anak di Desa Perante untuk tumbuh sehat dan bebas dari stunting serta tuberkulosis.

stuntingtuberkulosisGoogle FormWhatsAppDesa PerantePMTPosyanduKardas Centing Tosis

Komentar

Memuat komentar...