Guru Tunanetra Tampilkan Braille di Festival Literasi Klungkung

Guntur P. · 2 min baca · 50 menit lalu · 28 dibaca
Bisik.id
Guru Tunanetra Tampilkan Braille di Festival Literasi Klungkung

Gambar atau konten salah?

Gde Santika Yasa, seorang guru di SLB Negeri 1 Klungkung sekaligus penyandang tunanetra, memamerkan kemampuan membaca huruf timbul kepada Bupati Klungkung I Made Satria pada malam Sabtu, 06 Juni 2026 di Festival Literasi dan Pendidikan Klungkung 2026. Acara ini berlangsung di alun‑alun Ida Dewa Agung Jambe, Semarapura, Klungkung dan menjadi kunjungan pertama Bupati bersama Wakil Bupati Tjokorda Gde Surya Putra dan rombongan pejabat Pemerintah Kabupaten Klungkung.

Di stan Pertuni Klungkung, Yasa menyapa Bupati dengan antusias. Ia menampilkan buku khusus tunanetra, lalu mengucapkan, “Pak Bupati, kami memiliki buku ini. Ini buku khusus tunanetra. Isinya tentang aneka makanan. Dibaca dengan diraba,” sambil menunjukkan isi buku. Bupati Satria menatap buku itu dengan wajah kagum, lalu bertanya bagaimana Yasa dan penyandang tunanetra lainnya membaca braille. Yasa menjawab, “Begini pak. Kami merabanya. Jadi titik‑titik ini seperti sandi morse,” sambil mempraktikkan gerakan meraba huruf braille.

Selanjutnya, Yasa menyerahkan selembar kertas berisi huruf braille khusus untuk Bupati. Tulisan tersebut berbunyi: “Pak Bupati Klungkung I Made Satria membuka Festival Literasi dan Pendidikan.” Satria terlihat senang dan kagum saat menerima lembaran itu. Yasa menegaskan bahwa Bupati dapat belajar menulis braille. Sementara itu, Wakil Bupati menimpali dengan candaan, “Nanti belajar Sabtu Minggu pak. Dua kali seminggu,” dan Bupati mengangguk sambil tersenyum. Ia pun melontarkan candaan yang membuat semua orang di stan tertawa: “Ya, belajar braile ini, berarti saya harus buta dulu,” disambut tawa riuh.

Setelah demonstrasi, Bupati Satria melihat hasil karya tunanetra Klungkung. Di antaranya parfum berhuruf braille dan dupa yang ia beli. Ia memberi semangat kepada Pertuni Klungkung dan mengucapkan terima kasih atas upaya mereka. Yasa, yang juga merupakan lulusan Pendidikan Luar Biasa dari Universitas Negeri Malang dan anggota dewan pengawas Pertuni, mengungkapkan harapannya. Ia berkata, “Harapan saya tidak muluk‑muluk. Semoga keberadaan kami penyandang disabilitas diakui masyarakat. Karena masih banyak masyarakat di Klungkung yang meremehkan. Disabilitas tidak bisa ngapa‑ngapain, cuma bisa merepotkan. Padahal buktinya kami bisa melakukan banyak hal,” menekankan pentingnya penerimaan sosial.

Yasa menambahkan bahwa kemajuan teknologi memudahkan difabel. Ia menunjukkan cara membaca mata uang lewat aplikasi pembaca suara, lalu berkata, “Jadi, apa‑apa sekarang mudah bagi kami dengan kemajuan teknologi,” sambil mencontohkan penggunaan aplikasi tersebut. Acara ini menegaskan bahwa penyandang disabilitas di Klungkung kini dapat hidup lebih mandiri berkat teknologi. Kegiatan ini juga mengajak masyarakat untuk lebih memahami perjuangan sehari‑hari kaum difabel, sekaligus memperlihatkan bahwa mereka mampu berkontribusi dalam berbagai bidang.

Gde Santika YasatunanetrabrailleFestival Literasi Klungkung 2026Bupati KlungkungPendidikan Luar BiasaTeknologi pendukung difabel

Komentar

Memuat komentar...