Hama Penggerek dan Tikus Hancurkan 232 Ha Sawah Pinrang

Hari W. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 66 dibaca
Bisik.id
Hama Penggerek dan Tikus Hancurkan 232 Ha Sawah Pinrang

Gambar atau konten salah?

Di Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, serangan hama penggerek batang dan tikus menghancurkan 232 hektare sawah. Hasil panen turun drastis, sehingga petani yang biasanya menanam 2 hektare kini hanya dapat memanen 45 karung padi.

Petani Wandi, yang berlokasi di Kecamatan Cempa, mengakui kerugian besar. Ia berkata, “Jauh sekali perbandingannya. Dulu bisa ratusan karung, sekarang cuma 45 karung,” sambil menyesali penurunan hasil. Wandi menambahkan bahwa serangan hama membuat lahan berukuran 2 hektare hanya menghasilkan 45 karung padi.

Kasus serupa dialami Jamil Hasim. Dari lahan seluas 85 are, ia hanya memperoleh 19 karung padi, jauh di bawah biasanya yang bisa mencapai 45 karung. Ia menjelaskan, “Diserang penggerek batang, hasilnya turun jauh.” Jamil menegaskan bahwa kondisi ini membuatnya merugi pada musim tanam pertama tahun ini. Ia menyatakan, “Gagal panen tidak, tapi rugi karena tidak menutupi biaya.” Menurutnya, biaya sewa traktor Rp 2 juta per hektare dan harga gabah sekitar Rp 7.200 per kilogram tidak dapat ditutupi oleh hasil panen.

Andi Sinapaty Rudi, Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (Distanhorti) Pinrang, menegaskan bahwa serangan hama memang terjadi. Ia berkata, “Berdasarkan laporan petugas di lapangan, kasus serangan hama yang terjadi yang menyebabkan hasil panen padi menyusut karena ada serangan hama penggerek dan serangan hama tikus.”

Menurut Andi, 115 hektare sawah di Kecamatan Cempa terserang hama penggerek batang, sementara di Kecamatan Patampanua ada sekitar 117 hektare yang terjangkit hama tikus. Ia menegaskan, “Ada 2 kecamatan yang terdampak yakni Kecamatan Cempa dan Kecamatan Patampanua.”

Selama rapat turun sawah, penyuluh sudah mengingatkan petani agar mulai menanam pada awal Januari. Namun, di lapangan masih ditemukan petani yang menunda waktu tanam. Andi menegaskan, “Sudah disampaikan dalam rapat turun sawah, tapi masih ada petani yang menunggu. Padahal kalau tanam (akhir) Januari, risikonya serangan hama.”

Dengan kondisi ini, para petani di Pinrang menghadapi tantangan besar. Serangan hama tidak hanya menurunkan hasil, tetapi juga menambah beban biaya produksi, sehingga banyak yang tidak mampu menutupi pengeluaran. Keterlambatan tanam dan kurangnya perlindungan hama menjadi faktor utama yang memperparah situasi.

Pinranghama penggerek batanghama tikussawahkerugian petanibiaya produksi

Komentar

Memuat komentar...