Harga BBM Bandung Naik, Pengendara Pikirkan Listrik

Eko P. · 2 min baca · 1 hari lalu · 7 dibaca
Bisik.id
Harga BBM Bandung Naik, Pengendara Pikirkan Listrik

Gambar atau konten salah?

Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi di Kabupaten Bandung mengalami kenaikan signifikan. Pertamax yang sebelumnya dijual seharga Rp12.300 per liter kini naik menjadi Rp16.250 per liter. Sedangkan Pertamax Green 95 sebelumnya Rp12.900 per liter, sekarang ditetapkan Rp17.000 per liter. Pertalite tetap berada di Rp10.000 per liter, dan Biosolar tidak berubah, tetap Rp6.800 per liter. Perubahan ini membuat banyak masyarakat mengeluhkan, bahkan beberapa memilih beralih ke BBM subsidi atau mempertimbangkan kendaraan listrik.

SPBU yang terletak di Jalan Raya Bojongsoang, Desa Lengkong, pada Rabu, 10 Juni 2026, menjadi tempat observasi. Antrian pengisian di SPBU tersebut terlihat padat, terutama di area Pertalite dan Pertamax. Pengisian bensin di lokasi tersebut didominasi oleh mahasiswa, karena di sekitarnya terdapat salah satu kampus swasta dengan ribuan mahasiswa. Sementara itu, di SPBU di Jalan Raya Dayeuhkolot, Kecamatan Baleendah, pengendara roda dua lebih memilih mengantre di area Pertalite. Antrian di barisan tersebut hampir mengular ke jalan raya, sementara area Pertamax tampak kosong, tanpa pengendara yang mengisi. Beberapa petugas terlihat menumpuk dan fokus pada pengisian Pertalite.

Pengendara asal Baleendah, Suryono Munadi (52 tahun), mengaku kaget saat mengetahui kenaikan Pertamax. Ia menegaskan, “Iya saya juga kaget, tahu-tahu naik harga Pertamax. Biasanya kan ada pengumuman dulu, ini mah enggak ada pengumuman pisan. Ngedadak ini juga tahu-nya,”. Suryono bekerja di salah satu perusahaan di Kota Bandung dan biasanya mengisi bensin untuk empat hari ke depan. Ia menjelaskan, “Biasanya saya ngisi Rp50 ribu itu untuk empat hari. Nah ini enggak tahu habisnya berapa hari, kayanya mah ini habisnya bisa dua atau tiga hari lah.”

Ia juga menyatakan bahwa ke depannya akan beralih ke Pertalite jika tidak ada penurunan harga Pertamax. “Kalau gini terus mah kayanya besok-besok saya mau ngisi ke Pertalite aja. Walaupun kayanya pasti harus lebih sabar dan pasti ngantre nantinya,” ujarnya.

Pengendara asal Banjaran, Mukti Wibawa (34 tahun), mengungkapkan bahwa kenaikan harga membuatnya berpikir ulang tentang pengeluaran bensin. Ia mengatakan, “Dengan kenaikan ini saya pikir-pikir lagi terkait pengeluaran bensin. Terus kan saya kerja ke Kota Bandung, jaraknya lumayan juga kan.” Mukti menambahkan, “Kayanya ke depan saya berencana maksain beli motor listrik aja. Soalnya kalau ngisi bensin terus-terusan mahal, ya mending pakai motor listrik aja. Kayanya lebih irit juga kan.”

Situasi ini menyoroti bagaimana kenaikan harga BBM non-subsidi memaksa pengendara untuk mengevaluasi pilihan bahan bakar dan mempertimbangkan alternatif kendaraan listrik. Harga yang lebih tinggi membuat banyak orang mencari solusi hemat, baik dengan beralih ke BBM subsidi maupun memikirkan kendaraan listrik sebagai opsi jangka panjang. Kenaikan ini juga menimbulkan ketidakpastian bagi pengendara yang terikat pada jadwal pengisian rutin, sehingga mereka harus menyesuaikan anggaran dan rencana perjalanan. Kenaikan harga BBM non-subsidi di Kabupaten Bandung tidak hanya memengaruhi ekonomi pribadi, tetapi juga memicu perdebatan tentang kebijakan harga dan subsidi energi di tingkat lokal.

Harga BBM non-subsidiPertamaxPertaliteSPBUMahasiswaMotor listrikSubsidi energiKota Bandung

Komentar

Memuat komentar...