Harga Bensin AS Naik ke Rp68.000 per Galon, Warga Marah

Ratna D. · 2 min baca · 3 bulan lalu · 81 dibaca
Bisik.id
Harga Bensin AS Naik ke Rp68.000 per Galon, Warga Marah

Gambar atau konten salah?

Harga bahan bakar minyak (BBM) di Amerika Serikat terus naik seiring dengan lonjakan harga minyak mentah akibat konflik di Timur Tengah. Rata‑rata harga bensin nasional sudah menembus US$ 4,00 per galon atau Rp 68.072 (kurs Rp 17.018 per dolar AS) per galon, setara 3,78 liter.

Kenaikan ini membuat warga negara Paman Sam marah. Mereka harus menghadapi biaya hidup yang sudah tinggi karena inflasi, sekaligus menanggung harga bensin yang sangat mahal. Banyak yang menuduh Presiden Donald Trump, yang memicu konflik, sebagai penyebab kenaikan BBM.

Jeanne Williams, seorang warga AS berusia 83 tahun, baru saja menempuh perjalanan sejauh 100 mil (160 km) dari Richmond, Virginia, ke Falls Church. Ia terkejut melihat harga di papan LED pom bensin Liberty. Pada Kamis, 2 April 2026, ia mengungkapkan:

“Itu mengerikan. Saya tidak marah, saya hanya bingung, kacau, dan tidak senang. Kami tidak meminta perang ini,”

Stasiun tempat Williams berhenti terletak di jalan utama kota Falls Church. Harga bensin di SPBU tersebut mulai dari US$ 3,79 (Rp 64.498) per galon bila pembayaran dilakukan secara tunai. Jika menggunakan kartu kredit atau debit, tarifnya lebih tinggi. Di SPBU lain yang sedikit lebih jauh, harga BBM sudah mencapai US$ 4,25 (Rp 72.326) per galon.

Di sisi lain, Luis Ramos, seorang warga New York City berusia 26 tahun, mengeluhkan beban biaya hidup. Ia mengatakan pada sebuah pom bensin di New Jersey:

“Sungguh tidak masuk akal. Melihat harga bensin meroket, benar-benar luar biasa. Biaya hidup sudah meroket,”

Joseph Crouch, mantan tentara berusia 77 tahun, juga terjebak dalam situasi sulit akibat kenaikan harga BBM. Ia menilai perang AS dan Israel melawan Iran sebagai hal yang konyol. Ia mengungkapkan:

“Ini konyol. Harganya sangat tinggi. Saya rasa pemerintah tidak tahu apa yang mereka lakukan,”

Ia menambahkan bahwa ia harus mengurangi bersepeda karena biaya bahan bakar. “Kita sedang menanggung akibat dari perang ini. Mereka mencoba mengatakan ini dikarenakan hal lain, tetapi ini jelas karena perang,” ujarnya.

Harga rata‑rata bensin reguler pada Selasa, 1 Maret 2026 sudah melampaui angka psikologis US$ 4,00 per galon. Angka ini meningkat 35 % dibandingkan sebelum serangan AS‑Israel ke Iran yang memicu konflik di Timur Tengah.

Eliza Winger, ekonom dari Bloomberg, berpendapat bahwa kenaikan harga BBM saat ini tidak hanya memengaruhi konsumen di SPBU, tetapi juga mengurangi konsumsi bahan bakar secara keseluruhan. Menurutnya, kenaikan 10 % pada harga minyak dapat mengurangi pengeluaran konsumen riil sekitar 0,2 %.

Harga bahan bakar di AS telah meningkat lebih dari tiga kali lipat sejak awal perang. Perubahan ini menimbulkan tekanan pada ekonomi domestik, memaksa konsumen menyesuaikan pola pengeluaran dan mengurangi perjalanan jarak jauh. Sementara pemerintah mencoba menjelaskan faktor lain, banyak warga tetap menganggap kenaikan harga ini sebagai akibat langsung dari konflik di Timur Tengah.

BBM ASKonflik Timur TengahHarga BensinInflasiDonald TrumpPerang AS-Israel-IranKonsumen

Komentar

Memuat komentar...