Harga Gula Pasir Naik, Plastik Bahan Kemasan Jadi Penyebab

Lina F. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 96 dibaca
Bisik.id
Harga Gula Pasir Naik, Plastik Bahan Kemasan Jadi Penyebab

Gambar atau konten salah?

Fluktuasi ketersediaan bahan baku plastik mulai memengaruhi harga pangan pokok strategis di Indonesia. Salah satu contoh yang paling nyata adalah kenaikan harga gula pasir.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), Indeks Perkembangan Harga (IPH) gula pasir naik di banyak wilayah hingga 3 April 2026. Jumlah daerah yang mencatat kenaikan terus bertambah. Ateng Hartono, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, mengungkapkan, “Gula pasir, kemarin itu (minggu kedua April) 153 kabupaten kota (kenaikan IPH), sekarang (minggu ketiga April) menjadi 171 kabupaten kota.”

Ateng menjelaskan bahwa salah satu penyebab utama kenaikan harga gula adalah tingginya biaya kemasan. Sebagian besar gula pasir dijual dalam kemasan plastik, sehingga kenaikan harga bahan baku plastik langsung menekan harga jual ke konsumen. Ia menambahkan, “Terkait dengan gula pasir tersebut, kami mengidentifikasikan salah satu pendorongnya ini dari kenaikan harga plastik, karena plastik digunakan sebagai packaging atau kemasan di gula pasir.”

Di sisi lain, I Gusti Ketut Astawa, Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), menegaskan bahwa pemerintah sudah mengambil langkah untuk mengatasi masalah bahan baku plastik. Ia mengatakan, “Pencarian sumber pasokan bahan baku plastik diharapkan segera menemui titik terang.”

Astawa menekankan bahwa pemerintah tidak diam menunggu, melainkan sedang mencari solusi. Ia menyatakan, “Sekali lagi, pemerintah tidak diam, tidak menunggu, tapi sedang mencari upaya‑upaya tersebut. Mudah‑mudahan dalam waktu dekat, relatif problem kekurangan pasokan bahan baku plastik ini bisa diselesaikan dengan baik. Kita percayakan dulu kepada teman‑teman di Kementerian Perdagangan dan Kementerian Perindustrian juga.”

Dalam analisis Bapanas, dari 171 daerah yang mencatat kenaikan IPH, masih ada 36 daerah yang naik IPH namun tidak melampaui Harga Acuan Penjualan (HAP). Dengan demikian, jumlah daerah dengan kenaikan IPH yang melebihi HAP gula adalah 135 kabupaten/kota dari total 349 daerah yang dipantau BPS. Hanya 38,7% daerah yang mengalami fluktuasi harga gula sampai 3 April 2026.

Menurut Bapanas, perubahan harga gula konsumsi secara nasional dalam sebulan terakhir, baik wilayah selain Indonesia Timur maupun Indonesia Timur, memang menunjukkan kenaikan. Namun, kenaikannya masih wajar, berkisar di 1,94%.

Rata‑rata harga gula konsumsi secara nasional dalam sebulan terakhir tercatat naik dari Rp 18.412 per kilogram (kg) ke Rp 18.770 per kg pada 20 April 2026. Meski begitu, proyeksi produksi gula kristal putih dalam negeri untuk periode April hingga Mei diperkirakan akan meningkat. Dari sekitar 58,3 ribu ton akan naik menjadi 276,4 ribu ton, sehingga dapat membantu menstabilkan harga.

Secara keseluruhan, fluktuasi harga gula pasir di Indonesia dipengaruhi oleh beberapa faktor. Kenaikan biaya kemasan plastik menjadi salah satu penyebab utama, sementara upaya pemerintah dalam mencari pasokan bahan baku plastik dan memantau harga secara nasional menjadi langkah penting. Dengan produksi gula yang meningkat, diharapkan tekanan harga dapat berkurang dan konsumen tidak lagi terlalu terpengaruh oleh kenaikan harga gula pasir.

harga gula pasirplastik kemasanBPS IPHBapanaspasokan bahan baku plastikproduksi gula kristalkonsumen

Komentar

Memuat komentar...