Harga Jatinegara Naik Lebih Dua Kali Lipat, Plastik Terbanyak

Cahyo S. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 60 dibaca
Bisik.id
Harga Jatinegara Naik Lebih Dua Kali Lipat, Plastik Terbanyak

Gambar atau konten salah?

Pasar Jatinegara di Jakarta Timur menjadi sorotan karena harga perlengkapan rumah tangga melonjak tajam. Kenaikan ini dipicu oleh gangguan rantai pasok dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, yang kini berada di kisaran Rp 17.600-an.

Pedagang perabot, Anggi, mengaku bahwa kenaikan harga sudah terjadi dalam sebulan terakhir. Ia menjelaskan bahwa perubahan harga bervariasi tergantung jenis dan bahan baku barang. Kenaikan tertinggi terjadi pada produk berbahan plastik.

"Panci aluminium yang dulunya Rp 100.000 sekarang Rp 135.000, semuanya naik. Kalau gelas yang dulu Rp 30.000, sekarang Rp 40.000. Cuma kalau barang plastik itu yang lebih tinggi lagi naik harganya. Kayak gelas plastik yang biasa Rp 10.000 sekarang sudah Rp 25.000, lebih dari dua kali lipat," ujarnya saat ditemui detikcom, Kamis (21 Mei 2026).

Anggi melanjutkan, "Box plastik yang biasanya Rp 80.000 sekarang jadi Rp 120.000-130.000. Kenaikan paling tinggi memang barang plastik. Toples-toples buat kerupuk yang biasanya Rp 10.000, sekarang sudah Rp 20.000," sambung Anggi.

Dengan pengalaman berdagang selama 14 tahun terakhir, Anggi menilai kenaikan harga kali ini menjadi yang tertinggi yang pernah terjadi. Menurutnya, harga perabot biasanya relatif stabil dan hanya naik pada momen-momen tertentu. Ia menambahkan, "Baru kali ini naik setinggi ini, dua kali lipat. Ini bukan sekadar naik lagi, tapi sudah ganti harga. Kalau dulu kenaikan bukan karena biaya produksi naik, tapi karena barang lagi ramai saja, biasanya naik Rp 3.000-5.000, habis itu turun lagi," ungkapnya.

Anggi menyoroti keunikan kenaikan ini: produk buatan dalam negeri mengalami kenaikan harga yang signifikan, sementara perabot impor, mayoritas berasal dari China, tetap stabil dan hanya naik sekitar Rp 5.000 per produk. Ia menjelaskan, "Sebenarnya kalau produk-produk dalam negeri memang naiknya benar-benar tinggi. Beda sama barang impor dari China. Barang China masih relatif, masih bisa kita jual," jelasnya.

Ia memberi contoh, "Kayak yang bahan aluminium itu produksi dalam negeri, naiknya gila-gilaan. Bahkan lebih mahal daripada stainless steel. Kalau stainless impor dari China, panci yang dulu Rp 100.000 jadi Rp 105.000 saja, nggak banyak. Teko listrik yang dulu Rp 65.000 sekarang Rp 70.000," lanjut Anggi.

Menurut Anggi, fenomena ini disebabkan oleh harga produk perabot dari China masih relatif stabil dan hanya terdampak kenaikan ongkos kirim impor. Untuk produk buatan dalam negeri, kenaikan harga terjadi karena bahan baku impor sudah lebih mahal akibat gangguan rantai pasok. Belum lagi kenaikan biaya energi di dalam negeri yang membuat ongkos produksi ikut naik. Ia menambahkan, "Ditambah penguatan dolar AS saat ini, seluruh bahan baku impor tersebut berpotensi mengalami kenaikan harga lebih tinggi lagi sehingga biaya produksi makin membengkak," kata Anggi.

Anggi menyimpulkan, "Saya nggak tahu pasti penyebabnya apa, kalau yang digembar-gemborkan kan gara-gara perang. Bahan baku impor naik, BBM buat pabrik naik, jadinya dobel. Makanya barang plastik jauh naik harganya. Plastik kresek saja sekarang sudah naik banyak. Terus yang lagi ramai itu dolar, mungkin juga ngaruh kali ya," tutupnya.

Harga perlengkapan rumah tangga di Pasar Jatinegara menunjukkan dampak nyata dari ketidakpastian ekonomi global. Perubahan harga yang drastis, khususnya pada barang plastik, menandai perubahan pola pasar yang belum pernah terjadi sebelumnya. Perubahan ini memaksa konsumen untuk menyesuaikan anggaran dan mencari alternatif, sementara pedagang harus menyesuaikan strategi penjualan di tengah ketidakpastian biaya produksi dan nilai tukar.

Pasar JatinegaraHarga perlengkapan rumah tanggaKenaikan hargaRantai pasokNilai tukar rupiahBarang plastikImpor China

Komentar

Memuat komentar...