Harga Minyak Naik 60% Meski Trump Umumkan Exit dari Iran

Sigit W. · 2 min baca · 3 bulan lalu · 82 dibaca
Bisik.id
Harga Minyak Naik 60% Meski Trump Umumkan Exit dari Iran

Gambar atau konten salah?

Harga minyak mentah tetap naik meski Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan niat keluarnya pasukan dari Iran. Sinyal positif ini tidak cukup untuk menenangkan pasar energi global, karena Selat Hormuz masih tertutup.

Rabu (1 April 2026), kontrak minyak Brent untuk pengiriman Juni naik 1,5 % menjadi US$ 105,56 per barel. Angka ini mencatatkan kenaikan lebih dari 60 % selama bulan Maret, menjadikannya reli bulanan terkuat sejak 1988. Sementara itu, harga minyak mentah AS untuk bulan Mei juga naik 1,5 % menjadi US$ 102,92 per barel. Kenaikan ini mencatatkan lonjakan sekitar 51 % selama perdagangan di bulan Maret, menjadi bulan terbaik untuk West Texas Intermediate sejak Mei 2020.

Trump menyatakan pada Selasa (31 Maret 2026) malam waktu AS bahwa ia akan menarik pasukan AS meninggalkan Iran dalam dua atau tiga minggu ke depan. “Kami pergi karena tidak ada alasan bagi kami untuk melakukan ini. Kami akan segera pergi,” kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih.

Ia juga menolak gagasan harus mencapai kesepakatan melalui negosiasi untuk mengakhiri perang sembari menegaskan bahwa dirinya telah berhasil mencegah Iran memperoleh senjata nuklir. “Iran tidak perlu membuat kesepakatan, itu adalah rezim baru. Mereka jauh lebih mudah diakses,” ujar Trump.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa pihaknya benar telah melakukan pertukaran pesan dengan AS baik secara langsung maupun melalui negara-negara di kawasan tersebut. Namun pertukaran pesan ini bukanlah bentuk negosiasi. “Saya menerima pesan langsung dari (utusan khusus AS) Witkoff, seperti sebelumnya, dan ini tidak berarti bahwa kami sedang bernegosiasi,” kata Abbas.

Ia menambahkan, “Tidak ada kebenaran dalam klaim negosiasi dengan pihak mana pun di Iran. Semua pesan disampaikan melalui Kementerian Luar Negeri atau diterima olehnya, dan ada komunikasi antara lembaga keamanan.”

Drone peledak Iran terus menargetkan sumber dan pasokan bahan bakar di kawasan Timur Tengah. Terakhir, tangki bahan bakar di Bandara Internasional Kuwait mendapat serangan, menyebabkan kebakaran dan kerusakan besar.

Garda Revolusi Iran secara terbuka mengumumkan akan mulai menyerang perusahaan-perusahaan AS di kawasan itu mulai hari ini, Rabu (1 April 2026), dengan target 18 perusahaan termasuk Google, Microsoft, Apple, Intel, IBM, Tesla, dan Boeing.

Ketegangan ini membuat pasar energi global tetap waspada. Michael Feller, salah satu pendiri lembaga think-tank Geopolitical Strategy, berpendapat, “Trump tetap terjebak. Mundur sekarang berarti mengakui kekalahan.”

Ia menambahkan, “Menghancurkan infrastruktur sipil, seperti yang diancam Trump awal pekan ini, tidak akan membuat perbedaan apa pun selain semakin menaikkan harga minyak.”

Peristiwa ini menegaskan bahwa meski ada sinyal keluar konflik, ketidakpastian di kawasan Timur Tengah masih memengaruhi harga minyak dan stabilitas pasar energi global.

Minyak mentahPresiden TrumpSelat HormuzIranBrentWTISerangan perusahaan AS

Komentar

Memuat komentar...