Heki Kunjungi BRIN: Indonesia Bisa Pantau Gempa Jepang
Gambar atau konten salah?
Profesor Kosuke Heki dari Universitas Hokkaido di Jepang datang ke Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sebagai Visiting Researcher pada 31 Desember 2025. Ia mengungkapkan bahwa wilayah Indonesia memiliki karakteristik serupa dengan Nankai Trough, salah satu kawasan megathrust paling aktif di dunia.
“Kami memahami bahwa gempa bermagnitudo 8 di Jepang terjadi dalam interval sekitar 50 hingga 100 tahun. Ini merupakan pandangan klasik kami sebelum terjadinya gempa besar,” kata Heki. Ia menegaskan bahwa pola ini telah diamati secara konsisten di wilayah Nankai Trough.
Heki menekankan bahwa meski waktu terjadinya gempa besar sulit diprediksi, pemantauan deformasi kerak bumi secara jangka panjang menjadi kunci penting dalam mitigasi bencana. Ia menyoroti peran Global Navigation Satellite System (GNSS) serta pengukuran geodesi dasar laut untuk membaca akumulasi tegangan di zona subduksi.
“Kami melihat adanya kopling antar seismik yang saling mengunci hampir di sepanjang sumbu palung. Bahkan di bagian batas lempeng yang sangat dangkal, regangan terus terakumulasi untuk gempa berikutnya,” terangnya. Heki menjelaskan bahwa fenomena ini menunjukkan hubungan erat antara aktivitas seismik dan potensi gempa besar.
Ia juga menyoroti fenomena slow slip event atau pergeseran lambat yang kerap muncul sebelum gempa besar. Meski bergerak sangat perlahan, fenomena ini dinilai berpotensi menjadi indikator awal. “Fenomena ini telah diamati berulang kali di Nankai Trough dan wilayah lain di Jepang. Salah satu peristiwa pergeseran lambat ini bisa saja memicu gempa besar berikutnya,” sambungnya.
Heki menilai Indonesia memiliki peluang besar mengembangkan sistem pemantauan serupa mengingat banyaknya zona subduksi aktif mulai dari Sumatra, Jawa, Bali, Lombok hingga Maluku. Dengan penguatan jaringan GNSS dan teknologi pemantauan dasar laut, Indonesia dapat membaca akumulasi tegangan tektonik secara lebih presisi. “Saat ini saya sedang mengerjakan masalah ini di Indonesia,” aku Heki.
Dalam peta terbaru, zona Megathrust Aceh-Andaman tercatat memiliki potensi gempa terbesar dengan magnitudo maksimum mencapai 9,2. Sementara Megathrust Jawa berpotensi memicu gempa hingga M 9,1. Adapun zona lain seperti Mentawai-Siberut, Mentawai-Pagai, dan Enggano masing-masing menyimpan potensi gempa hingga M 8,9.
Berikut daftar zona dan potensi gempa yang diidentifikasi:
- Aceh-Andaman – M 9,2
- Jawa – M 9,1
- Mentawai-Siberut – M 8,9
- Mentawai-Pagai – M 8,9
- Enggano – M 8,9
Heki menunjukkan bahwa pemantauan jangka panjang menggunakan GNSS dapat membantu Indonesia menilai risiko gempa di zona subduksi. Dengan data yang akurat, pihak berwenang dapat merencanakan langkah mitigasi yang lebih tepat.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Google Ungkap Cara Jitu Kendalikan Biaya Token AI
Logitech Rilis Kamera AI yang 'Hilang' untuk Ruang Rapat
Iran Eksploitasi Celah SS7 untuk Lacak Tentara AS
Prediksi Final Piala Dunia 2026 Viral, Netizen Curiga
Cyber Breaker Season 3: Peserta Melonjak ke 916
Piala Dunia 2026: 48 Tim, Tiga Negara, Hadiah Fantastis
Berita Terbaru
Harga Batu Bara Juli 2026 Naik di Sebagian Besar Kategori
Iran Minta Houthi Siap Tutup Laut Merah, Dua Jalur Minyak Terancam
Pertamina Bantah Keras Transporter Mogok Salurkan BBM
Penjualan Batu Bara Sitaan Negara Raup Rp20 Miliar
Antrean SPBU Sumut Mulai Normal, Stok BBM Aman
Antrean BBM di Medan Mulai Terurai
Harga Minyak RI Anjlok Drastis ke US$83,45 per Barel
Serangan Iran di Selat Hormuz, Lalu Lintas Kapal Anjlok
MSCI Perketat Aturan Saham 'Murah' Mulai Agustus 2026
