Hiu Tutul Kembali Muncul di Perairan Pasuruan

Vera T. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Hiu Tutul Kembali Muncul di Perairan Pasuruan

Gambar atau konten salah?

Kawanan hiu tutul kembali muncul di perairan Pasuruan. Ikan raksasa yang lebih dikenal dengan sebutan hiu paus (Rhincodon typus) ini terlihat dalam rombongan yang terdiri dari delapan hingga sepuluh ekor. Kemunculan mereka sudah terpantau sejak beberapa hari lalu.

Hiu-hiu ini berenang di laut dangkal, sekitar 2 mil dari garis pantai. Tubuh mereka berwarna abu-abu gelap dengan corak totol putih yang khas. Para nelayan setempat sudah terbiasa dengan kehadiran hewan ini. Tidak ada gangguan yang terjadi—baik dari hiu ke nelayan, maupun sebaliknya.

Status hiu tutul di Indonesia adalah terancam punah (Endangered) dan mendapat perlindungan penuh dari negara. Kasat Polairud Polres Pasuruan Kota, AKP Edy Suseno, menjelaskan bahwa kemunculan ini adalah bagian dari pola migrasi tahunan.

"Kemunculan hiu tutul di Perairan Pasuruan merupakan fenomena migrasi tahunan yang biasanya terjadi secara rutin setiap bulan Juli hingga September. Mereka mencari makan di perairan yang hangat dan dangkal," kata Edy pada Senin, 06 Juli 2026.

Hiu tutul memakan plankton, telur ikan, dan ikan-ikan kecil. Cara makannya dengan menyaring air laut menggunakan mulut. Perairan dangkal Pasuruan yang hangat menyediakan banyak makanan semacam itu.

Edy mengimbau nelayan dan warga untuk tidak mengusik atau menangkap hewan ini. Meskipun dikenal jinak dan tidak berbahaya bagi manusia, ada beberapa hal yang harus dihindari.

  • Jangan berenang dekat dengan hiu
  • Jangan menyentuh atau menaiki tubuhnya
  • Jangan memberi makan hiu tutul

"Meskipun dikenal bersahabat dan tidak berbahaya bagi manusia, hindari berenang dekat hiu, menyentuh, menaiki, atau memberi makan hiu tutul," jelas Edy.

Menangkap, melukai, atau mengonsumsi hiu tutul adalah tindakan melanggar hukum. Jika menjumpai hiu tutul yang terdampar, jangan dijadikan tontonan atau dipegang. Langkah yang tepat adalah segera menjauh dan melaporkan kejadian tersebut ke pos Polairud terdekat atau pihak berwenang agar hewan bisa dievakuasi kembali ke tengah laut.

Fenomena ini menunjukkan bahwa perairan Pasuruan masih menjadi jalur migrasi yang penting bagi spesies yang dilindungi. Kehadiran mereka setiap tahun di bulan-bulan tertentu menandakan ekosistem laut di kawasan tersebut masih mampu menyediakan sumber makanan yang cukup. Bagi masyarakat pesisir, pemahaman tentang aturan perlindungan satwa langka ini menjadi kunci agar keberadaan mereka tidak terganggu.

hiu tutulPasuruanmigrasi tahunandilindunginelayanekosistem lautperairan dangkal

Komentar

Memuat komentar...