Kementerian PU Bentuk Satgas Antisipasi El Nino 2026
Gambar atau konten salah?
Kementerian Pekerjaan Umum (PU) membentuk Satuan Tugas (Satgas) Antisipasi El Nino. Langkah ini diambil untuk menghadapi potensi kekeringan yang bisa terjadi akibat fenomena El Nino pada tahun 2026. Tujuan utama pembentukan satgas ini adalah memperkuat koordinasi antar berbagai unit organisasi di lingkungan Kementerian PU.
Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menjelaskan bahwa penanganan El Nino tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Dampaknya luas, tidak hanya pada sektor pertanian. Layanan penyediaan air minum dan operasional infrastruktur sumber daya air juga bisa terganggu.
"Untuk mengantisipasi El Nino, kami membentuk Satgas. Karena yang terdampak tidak hanya irigasi dan sawah yang kekeringan, tetapi mungkin di beberapa titik SPAM dan bendungan juga akan mengalami kekeringan," kata Dody dalam keterangannya pada Senin, 06 Juli 2026.
Sejak awal, berbagai langkah antisipatif sudah mulai dijalankan. Salah satunya dengan menjamin layanan irigasi. Pada tahun anggaran 2025, upaya ini dilakukan lewat rehabilitasi jaringan irigasi utama di 69 lokasi. Ada juga peningkatan jaringan irigasi tersier melalui Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3TGAI) di 441 lokasi. Pelaksanaan Inpres Percepatan Pembangunan Irigasi di 69 lokasi juga digarap, begitu pula pembangunan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) di 45 lokasi. Semua program ini diharapkan bisa membuat layanan irigasi lebih andal. Pasokan air untuk lahan pertanian tetap terjaga meski musim kemarau tiba.
Kementerian PU juga sudah menyiapkan skenario penanganan jika kekeringan benar-benar terjadi. Sebanyak 58 unit peralatan disiagakan. Rinciannya, 16 unit excavator, dump truck, trailer, mobil pompa, mobil tangki air, pompa air, pompa tenaga surya, mesin bor, dan peralatan geolistrik.
Peralatan itu didukung oleh berbagai langkah penanganan. Distribusi air bersih menggunakan mobil tangki, penyiraman lahan dengan sprinkler, pemanfaatan pompa air dan flood pump, survei geolistrik untuk mencari sumber air bawah tanah, hingga pembangunan sumur bor di wilayah yang sulit air.
Melalui langkah-langkah ini, Kementerian PU memastikan mitigasi ancaman El Nino tidak hanya dilakukan saat kekeringan terjadi. Semuanya dimulai sejak dini. Caranya lewat pengelolaan infrastruktur sumber daya air yang terintegrasi, penguatan sistem operasi bendungan, waduk dan irigasi, serta kesiapan personel dan peralatan kesiapsiagaan di lapangan.
Sebagai langkah kesiapsiagaan, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk Cisanggarung telah mengoptimalkan Unit Pengelola Prasarana Pengendali Banjir dan Kekeringan (UP3BK). Sistem ini mengintegrasikan pemantauan kondisi bendungan, bendung, daerah rawan kekeringan, pengaturan operasi air, layanan call center, Tim Reaksi Cepat (TRC), serta koordinasi lintas instansi. Tujuannya agar setiap potensi gangguan terhadap layanan air bisa direspons secara cepat dan tepat.
Selama musim kemarau, sebanyak 290 personel disiagakan. Mereka memastikan seluruh prasarana sumber daya air tetap berfungsi optimal. Pemantauan dilakukan secara intensif setiap hari pada 9 bendungan, 33 embung, 23 situ, 25 bendung, serta jaringan irigasi di wilayah kerja BBWS Cimanuk Cisanggarung.
Hingga 30 Juni 2026, kondisi 9 bendungan tercatat masih aman. Bendungan-bendungan itu adalah Jatigede, Cipanas, Darma, Kuningan, Malahayu, Setupatok, Sedong, Bolang, dan Rancabeureum. Total volume tampungan airnya masih mencapai sekitar 1,10 miliar meter kubik. Jumlah itu masih mampu mendukung kebutuhan air irigasi pada musim kemarau untuk lahan sekitar 136.254 hektare.
Dalam pengoperasiannya, pelepasan air dari bendungan dilakukan secara terukur. Tidak sembarangan. BBWS Cimanuk Cisanggarung menyesuaikan pola operasi waduk berdasarkan kondisi tampungan dan kebutuhan di lapangan. Prioritasnya menjamin suplai air irigasi, penyediaan air baku, pembangkit listrik tenaga air (PLTA), hingga menjaga keseimbangan cadangan air selama musim kemarau. Seluruh data elevasi, volume tampungan, dan debit pengeluaran air dipantau setiap hari. Data ini menjadi dasar pengoperasian tampungan air.
Sebagai bagian dari adaptasi terhadap perubahan iklim, BBWS Cimanuk Cisanggarung juga mendorong penerapan teknologi Irigasi Padi Hemat Air (IPHA). Metode ini mengatur pemberian air secara berselang (intermittent). Penggunaan air jadi lebih efisien tanpa mengurangi produktivitas tanaman. Penerapan IPHA diharapkan bisa meningkatkan efisiensi pemanfaatan air, memperluas indeks pertanaman, sekaligus meningkatkan hasil produksi dan pendapatan petani.
Secara keseluruhan, upaya Kementerian PU menunjukkan bahwa persiapan menghadapi El Nino sudah dimulai jauh-jauh hari. Bukan hanya reaksi saat kekeringan melanda. Ada koordinasi lintas unit, kesiapan peralatan dan personel, serta pengelolaan air yang lebih cermat. Semua ini dilakukan agar dampak kekeringan bisa diminimalkan, terutama bagi sektor pertanian dan pasokan air bersih masyarakat.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Pemerintah Pangkas 240 Entitas BUMN Hingga Juli 2026
Harga Emas Antam Stagnan di Rp 2,67 Juta per Gram
Kurang Bayar Pajak ASN Tembus Rp9,16 Triliun
OPEC+ Setujui Kenaikan Produksi Minyak 188.000 Barel per Hari Mulai Agustus 2026
Kemendag Sanksi Tegas Produsen Minyakita Berbau Solar
Mentan Kucurkan Rp1,33 Triliun untuk Pertanian Papua Selatan
Berita Terbaru