IGRS Rating Game di Steam: Kontroversi & Tuntunan Verifikasi
Gambar atau konten salah?
Di tengah perbincangan di kalangan gamer, Indonesia Game Rating System (IGRS) kini menjadi topik hangat. Sistem ini dikelola oleh Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia dan bertujuan memberi petunjuk usia bagi permainan digital.
IGRS menyajikan klasifikasi berdasarkan konten seperti kekerasan, bahasa, unsur seksual, horor, dan simulasi perjudian. Dengan klasifikasi ini, pemain, khususnya anak-anak, dapat mengetahui apakah sebuah game sesuai dengan usia mereka.
- Semua usia
- 3+
- 7+
- 13+
- 18+
Menurut situs resmi Komdigi, sistem ini pertama kali diluncurkan pada 2016 dalam acara BEKRAF Game Prime. IGRS merupakan pelaksanaan Peraturan Menteri Kominfo Nomor 11 Tahun 2016 tentang Klasifikasi Permainan Interaktif Elektronik.
Bertepatan dengan Indonesia Game Developer (IGDX) Business & Conference 2025 di Bali, Komdigi memperkenalkan kembali IGRS. Kegiatan ini mendukung kebijakan pemerintah yang memperkuat Peraturan Pemerintah (PP) TUNAS Nomor 17 Tahun 2025, yang menekankan tata kelola berbasis risiko bagi penyelenggara sistem elektronik. Fokusnya pada privasi, keamanan data, dan literasi digital keluarga.
Meutya Hafid, Menteri Komunikasi dan Digital, mengatakan, “Melalui IGRS, Indonesia menegaskan diri sebagai pelopor di kawasan dengan sistem rating nasional yang sesuai nilai budaya dan kearifan lokal.”
Ia juga menegaskan bahwa IGRS diterapkan secara gratis bagi pengembang gim nasional. “Regulasi menjadi jembatan yang mempermudah, bukan menghambat,” ujarnya. “Kebijakan ini melindungi anak sekaligus mempercepat daya saing pengembang lokal di tingkat global,” tambahnya.
Namun, IGRS kini menjadi sorotan publik. Para pengguna internet, terutama gamer, menanyakan bagaimana sistem ini diterapkan pada platform distribusi game global seperti Steam. Beberapa mengeluhkan bahwa game yang seharusnya dapat dimainkan semua umur diberi rating +18.
Dalam pernyataan terbaru, Komdigi menyatakan bahwa tampilan rating IGRS pada sejumlah game di Steam bukan hasil klasifikasi resmi yang telah diverifikasi oleh Pemerintah RI. “Praktik penyampaian informasi klasifikasi yang tidak akurat dapat berdampak langsung pada pelindungan masyarakat di ruang digital,” jelas Komdigi.
Sonny Hendra Sudaryana, Direktur Pengembangan Ekosistem Digital Direktorat Jenderal Ekosistem Digital, menambahkan, “Hasil pemantauan menunjukkan rating yang ditampilkan pada platform tersebut masih berasal dari mekanisme internal berbasis self-declare dan belum melalui proses verifikasi resmi sesuai ketentuan di Indonesia.”
Ia menegaskan, “Rating yang beredar tersebut bukan merupakan hasil klasifikasi resmi IGRS. Hal ini berpotensi menimbulkan kesalahpahaman publik, terutama terkait kelayakan usia suatu gim.”
Secara keseluruhan, IGRS berupaya memberi panduan usia bagi permainan digital di Indonesia. Namun, penerapannya di platform global masih menimbulkan ketidakpastian. Pemerintah menekankan pentingnya verifikasi resmi agar rating yang ditampilkan akurat dan dapat dipercaya oleh masyarakat.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Google Ungkap Cara Jitu Kendalikan Biaya Token AI
Logitech Rilis Kamera AI yang 'Hilang' untuk Ruang Rapat
Iran Eksploitasi Celah SS7 untuk Lacak Tentara AS
Prediksi Final Piala Dunia 2026 Viral, Netizen Curiga
Cyber Breaker Season 3: Peserta Melonjak ke 916
Piala Dunia 2026: 48 Tim, Tiga Negara, Hadiah Fantastis
Berita Terbaru
Prabowo Pilih Maung Mahal Demi Industri Dalam Negeri
Prabowo Akan Luncurkan Motor Listrik Nasional
Prabowo Resmikan Proyek LNG Masela, Tunggu 28 Tahun
Stok BBM Nasional Aman 14-40 Hari
PLN Diskon Tambah Daya 50% Sambut Tahun Ajaran Baru
Iran Ancam Hentikan Ekspor Energi Timur Tengah
Pemerintah Tetapkan 60% Gas Blok Masela untuk Domestik
Antrean BBM di Medan Kembali Normal
Prabowo Target Bangun 50 Pabrik Etanol Demi BBM Campur
Irak-Suriah Hidupkan Pipa Minyak Alternatif Hormuz
