IHSG Turun 3,08% di Zona Merah, Dana Asing Keluar Rp5,86T

Lia N. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 108 dibaca
Bisik.id
IHSG Turun 3,08% di Zona Merah, Dana Asing Keluar Rp5,86T

Gambar atau konten salah?

IHSG dibuka di level 6.300 dan berakhir di zona merah pada sesi I perdagangan pagi ini, menandai tren lesu yang masih berlangsung.

Menurut data RTI, pada 19 Mei 2026 penutupan sesi I siang ini IHSG turun 202,97 poin atau 3,08% ke level 6.396,26. Nilai tertinggi tercatat 6.635,12 sementara terendah 6.376,34. Sebanyak 611 saham melemah, 96 saham menguat, dan 107 saham stagnan. Volume perdagangan mencapai 27,96 miliar, turnover Rp 15,13 triliun, dan frekuensi perdagangan 1.731.057 kali. Pergerakan ini mencerminkan ketidakpastian investor, meskipun volume perdagangan tetap tinggi.

Dalam satu minggu terakhir, IHSG turun 3,08%. Melihat rentang satu bulan, penurunan mencapai 16,07%, dan dalam enam bulan turun 21,20%. Tahun ini, IHSG melemah 26,03% year-to-date, namun masih menunjukkan kenaikan 2,14% dalam satu tahun terakhir. Pergerakan ini juga memengaruhi investor ritel dan institusi, yang harus menyesuaikan strategi investasi mereka.

Data Stockbit menunjukkan bahwa dana asing mengalir keluar sebesar Rp 5,86 triliun. Saham yang mengalami penarikan terbesar adalah CUAN milik Prajogo Pangestu dengan Rp 96,7 miliar, diikuti BBCA Rp 94,9 miliar, BREN Rp 70,4 miliar, dan DSSA dari grup Sinarmas Rp 70 miliar. Penarikan dana asing ini menunjukkan kekhawatiran investor terhadap kondisi pasar domestik.

Menurut Ratih Mustikoningsih dari Ajaib Sekuritas, prediksi IHSG pada 19 Mei berada dalam kisaran 6.550-6.700. Sentimen pasar dipengaruhi oleh koreksi domestik selama lima hari berturut-turut, keluarnya dana asing sebesar Rp 460 miliar pada 18 Mei 2026, dan nilai tukar rupiah spot yang sempat menyentuh Rp 17.700/USD ke level psikologis baru. Analisis ini juga mempertimbangkan faktor makroekonomi dan kebijakan moneter yang sedang berlangsung.

“Namun, BI telah melakukan 7 langkah intervensi rupiah, di antaranya aktif di pasar valas, peningkatan yield SRBI 6,21-6,45% tenor 6 bulan hingga 12 bulan (13/5/2026) total posisi SRBI melesat ke Rp 957,91 triliun (30/4/2026), pembelian SBN di pasar sekunder, pembatasan pembelian dolar AS maksimal US$ 25 ribu, menjaga likuiditas perbankan, penguatan intervensi di pasar offshore (NDF), serta peningkatan pengawasan aktivitas perbankan dan korporasi (Mulai 1 Juni 2026, mewajibkan maksimal 50% DHE SDA disimpan selama 12 bulan ke Bank Himbara dan dikonversikan ke rupiah (kecuali sektor minyak dan gas dengan penempatan 3 bulan). Pekan ini, pasar menanti rilis suku bunga BI-Rate yang diproyeksikan naik 25 bps untuk menjaga rupiah,”

Di pasar global, indeks Nasdaq turun 0,51% dan S&P 500 turun 0,07% pada 18 Mei 2026. Fokus pasar adalah laporan keuangan NVDA yang dapat memicu reli AI di Wall Street. Konflik di Timur Tengah masih berlangsung; AS dan Iran telah menyesuaikan proposal masing-masing untuk mengakhiri perang, sementara Presiden Trump menunda serangan yang direncanakan pada hari ini. Akibatnya, reli harga minyak Brent tertunda dengan koreksi 2,18% ke USD 109/barel pada 19 Mei 2026. Keterkaitan antara konflik di Timur Tengah dan harga minyak menambah ketidakpastian di pasar global.

Secara keseluruhan, pasar saham Indonesia menunjukkan tren penurunan yang dipengaruhi oleh keluar dana asing dan intervensi bank sentral. Di sisi lain, dinamika pasar global dan konflik geopolitik turut menambah ketidakpastian bagi investor. Kondisi pasar saat ini menuntut pemantauan terus-menerus dari para pelaku keuangan.

IHSGvolume perdagangandana asingintervensi rupiahBI-Rateharga minyak Brentkonflik Timur Tengah

Komentar

Memuat komentar...