IMF Prediksi Kekurangan Minyak 2026, Meski Konflik Berakhir

Eko P. · 2 min baca · 3 bulan lalu · 123 dibaca
Bisik.id
IMF Prediksi Kekurangan Minyak 2026, Meski Konflik Berakhir

Gambar atau konten salah?

IMF memprediksi kekurangan minyak pada 2026, bahkan jika perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran selesai minggu ini. “Jika semuanya berhenti malam ini dan mulai besok kita bergerak menuju pembukaan Selat (Hormuz), kita masih akan menghadapi kekurangan minyak untuk tahun ini,” ujar Kepala Ekonom IMF, Pierre‑Olivier Gourinchas, yang dikutip pada Kamis, 16 April 2026. IMF juga mengingatkan pemerintah agar menahan belanja subsidi energi yang berlebihan, meski tujuannya melindungi konsumen dari harga energi tinggi. Menurutnya, keuangan publik sudah tertekan sebelum perang dimulai dan tidak boleh didorong lebih dekat ke ambang batas.

Badan Energi Internasional (IEA) melaporkan penurunan pasokan minyak global sebesar 10,1 juta barel per hari pada Maret 2026, catatan terbesar dalam sejarah. Meski IEA tidak memprediksi kekurangan minyak tahun ini, mereka menurunkan perkiraan pasokan global menjadi hanya 441.000 barel per hari di atas permintaan, turun tajam dibandingkan 2,4 juta barel per hari dalam laporan mereka pada Maret 2026. Angka‑angka ini menyoroti perubahan signifikan dalam prospek pasar energi global dan ekonomi akibat perang.

Sebelum konflik AS‑Iran pecah, ekonomi global diperkirakan dapat berkinerja lebih baik dengan pertumbuhan direvisi naik menurut IMF. “Ada banyak momentum dalam (pertumbuhan) ekonomi global yaitu berkurangnya ketidakpastian atas tarif AS dan ledakan investasi kecerdasan buatan,” tambah Gourinchas. Namun sejak perang pecah, IMF menilai prospek ekonomi global tiba‑tiba menjadi gelap. Konflik tersebut dapat menyebabkan krisis energi global dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.

IMF kini memperkirakan pertumbuhan ekonomi global berada di level 3,1 % pada 2026, turun 0,2 poin persentase dari perkiraan sebelumnya. Inflasi global juga diperkirakan meningkat menjadi 4,4 % tahun ini. Dalam skenario yang lebih parah, jika konflik AS‑Iran berlangsung lama, IMF memperkirakan harga minyak dan gas alam bisa melonjak 100‑200 % hingga 2027. Jika demikian, pertumbuhan ekonomi global diperkirakan hanya mencapai 2 % tahun ini.

“Itu akan hampir sama dengan terjadinya resesi global, yang didefinisikan sebagai pertumbuhan ekonomi di bawah 2%, yang hanya terjadi empat kali sejak tahun 1980,” kata IMF.

Kesimpulannya, peringatan IMF menegaskan bahwa konflik yang sedang berlangsung dapat memicu kenaikan tajam harga energi, menekan keuangan publik, dan mendorong pertumbuhan global menuju zona resesi. Perubahan ini menandakan pentingnya kebijakan fiskal dan energi yang hati‑hati di tengah ketidakpastian geopolitik.

IMFkekurangan minyakperang AS-IranSelat Hormuzsubsidi energipasokan minyak globalresesi global

Komentar

Memuat komentar...