Indonesia Akhiri Impor Garam Industri 2027 Bersama PT Garam
Gambar atau konten salah?
Indonesia bertujuan tidak lagi mengimpor garam industri pada akhir tahun 2027. Target ini tercermin dalam Peraturan Presiden Nomor 17 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembangunan Pergaraman Nasional.
Direktur Utama PT Garam Abraham, Mose, mengungkapkan hal tersebut dalam rapat dewan direksi (RDP) bersama anggota Komisi VI DPR pada Senin, 30 Maret 2026. Ia berkata, “Kalau berdasarkan Perpres 17 tahun 2025, akhir 2027 Pak (Sudah tidak lagi impor garam). Sehingga kita mempersiapkan semua pembangunan industri kita itu diharapkan bisa selesai di tahun 2027. Mudah-mudahan, mohon dukungannya Pak.”
Menurut Abraham, produksi garam domestik hanya sekitar 1,9 juta ton, sedangkan kebutuhan industri lebih dari 4 juta ton. “Sehingga kami punya kewajiban untuk membangun industri,” ujarnya. Untuk menutup kesenjangan ini, PT Garam Abraham bekerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dalam membangun tambak garam di Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (K‑SIGN) di Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur.
Tambak di Rote akan dikembangkan hingga mencapai sekitar 13 ribu hektare dengan estimasi produksi mencapai 2,6 juta ton. Pada bulan April, tambahan produksi garam diperkirakan antara 100 hingga 150 ribu ton dari satu petak tambak.
Selain tambak, Abraham menyebutkan beberapa proyek pabrik garam. Pada Februari, perusahaan melakukan peletakan batu pertama atau groundbreaking tiga proyek. Pertama, pembangunan pabrik Segoro Madu 2 dengan kapasitas 80 ribu ton per tahun. Kedua, kerja sama dengan Unilever di Gresik, yang memanfaatkan air laut langsung sehingga tidak lagi menggunakan evaporasi matahari. Proyek ini diperkirakan menghasilkan kurang lebih 100 ribu ton per tahun. Ketiga, PT Garam bermitra dengan China Chemical Engineering Indonesia untuk pembangunan pabrik garam bahan baku industri di Panarengan, Kabupaten Sampang, Madura, dengan kapasitas produksi sekitar 200 ribu ton per tahun.
Abraham juga menjelaskan rencana kolaborasi dengan PLN, memanfaatkan sisa air pendinginan boiler di Python dan Suryalaya untuk menghasilkan sekitar 700 ribu ton soda as bekerja sama dengan Pupuk Indonesia. Selain itu, kerjasama dengan Pertamina memanfaatkan RDMP di Bontang, yang dapat menghasilkan 1 juta ton garam industri.
Dengan semua inisiatif tersebut, PT Garam Abraham berharap dapat memenuhi kebutuhan garam industri dalam negeri dan mengurangi ketergantungan impor. Upaya ini menunjukkan komitmen pemerintah dan sektor swasta untuk memperkuat ketahanan pasokan garam nasional.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Prabowo Pilih Maung Mahal Demi Industri Dalam Negeri
Prabowo Akan Luncurkan Motor Listrik Nasional
Prabowo Resmikan Proyek LNG Masela, Tunggu 28 Tahun
Stok BBM Nasional Aman 14-40 Hari
PLN Diskon Tambah Daya 50% Sambut Tahun Ajaran Baru
Iran Ancam Hentikan Ekspor Energi Timur Tengah
Pemerintah Tetapkan 60% Gas Blok Masela untuk Domestik
Antrean BBM di Medan Kembali Normal
Prabowo Target Bangun 50 Pabrik Etanol Demi BBM Campur
Irak-Suriah Hidupkan Pipa Minyak Alternatif Hormuz
