Indonesia Berhenti Impor Beras, Harga Dunia Turun 50%
Gambar atau konten salah?
Indonesia telah menghentikan total impor beras sejak tahun 2025. Langkah ini menandai perubahan besar dalam kebijakan pangan nasional, sekaligus memengaruhi dinamika harga beras di pasar global. Dengan mengurangi ketergantungan pada impor, pemerintah berharap dapat menstabilkan harga domestik sekaligus memberi tekanan pada pasar beras internasional.
Andi Amran Sulaiman, kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), menegaskan bahwa penguatan produksi dalam negeri dan optimalisasi cadangan pangan pemerintah telah memberi pengaruh signifikan terhadap pasar beras internasional. Menurut Amran, saat Indonesia masih impor beras hingga 7 juta ton, harganya bisa mencapai US$ 660 per ton.
"Ketika kita berhasil memperkuat produksi dalam negeri dan menekan impor secara signifikan, harga dunia ikut turun, bahkan sempat berada di kisaran 340 dolar AS per ton," ujar Amran dalam keterangannya, Senin 04 Mei 2026.
Proyeksi Neraca Pangan Nasional tahun 2025 menunjukkan bahwa produksi beras nasional mencapai 34,69 juta ton, sementara kebutuhan konsumsi nasional berada di kisaran 31,16 juta ton. Kondisi ini memungkinkan kebutuhan pangan nasional dipenuhi sepenuhnya oleh produksi dalam negeri tanpa impor beras sepanjang tahun 2025.
Perubahan ini tercermin pada perkembangan harga beras dunia. Data The Food and Agriculture Organization (FAO) menunjukkan bahwa indeks harga beras internasional atau FAO All Rice Price Index (FARPI) terus mengalami penurunan sepanjang 2025. Bahkan pada November 2025, indeks FARPI berada pada level 96,9, menjadi titik terendah dalam empat tahun terakhir.
Amran menyebut penguatan sektor pangan nasional saat ini juga tercermin dari capaian stok beras pemerintah yang berada pada level tertinggi sepanjang sejarah Indonesia. "Stok beras kita saat ini mencapai sekitar 5,12 juta ton. Ini tertinggi selama Republik Indonesia berdiri. Sebelumnya, pada tahun 1984 stok pernah berada di angka sekitar 2,6 juta ton," tambahnya.
Menurutnya, capaian tersebut turut mengangkat posisi Indonesia di mata dunia dalam sektor pangan. Ia menyebut, berbagai pengakuan internasional yang diterima Indonesia menjadi bukti bahwa penguatan sistem pangan nasional mendapat perhatian global. "Dulu Presiden Soeharto pernah mendapatkan penghargaan dari FAO atas keberhasilan sektor pangan. Sekarang, di era Presiden Prabowo, dalam waktu satu tahun Indonesia kembali mendapatkan dua penghargaan dari FAO, yakni penghargaan tertinggi bidang ketahanan pangan dan penghargaan atas kontribusi memperkuat sistem pangan global," jelasnya.
Amran menegaskan bahwa keberhasilan tersebut bukan hanya berdampak bagi Indonesia, tetapi juga memberi kontribusi terhadap penguatan sistem pangan dunia. Dalam laporan Rice Outlook April 2026 yang diterbitkan United States Department of Agriculture (USDA) juga mencatat Indonesia sebagai negara dengan penurunan impor beras paling signifikan dibandingkan sekitar 80 negara lainnya. Indonesia tercatat mengalami penurunan impor hingga 3,8 juta ton pada 2025 dibandingkan tahun sebelumnya.
Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan Nilai Tukar Petani (NTP) Tanpa Perikanan secara nasional sejak Juli 2024 konsisten berada di atas 120. Bahkan, indeks tertinggi dalam tujuh tahun terakhir tercatat pada Desember 2025 dan Februari 2026 yang mencapai 126,11. Selanjutnya, indeks harga yang diterima petani padi juga terus menunjukkan tren positif dengan konsisten berada di atas 130 poin sejak Juni 2024. Pada Maret 2026, indeks tersebut tercatat mencapai 144,52 atau lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 137,94.
Keberhasilan sektor pangan tidak hanya diukur dari produksi yang meningkat, tetapi juga dari kesejahteraan petani yang semakin baik serta kontribusi Indonesia terhadap stabilitas pangan dunia," imbuh Amran.
Perubahan kebijakan ini menandai fase baru dalam industri beras Indonesia. Dengan mengurangi impor, meningkatkan produksi dalam negeri, dan memanfaatkan dukungan internasional, Indonesia berhasil menempatkan diri sebagai pemain utama dalam pasar beras global. Dampak positifnya terlihat pada penurunan harga beras dunia, peningkatan indeks harga petani, serta pengakuan internasional yang menegaskan posisi strategis Indonesia di panggung pangan dunia.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
