Indonesia Berhenti Impor Solar, Pertamina Luncurkan Kilang

Eko P. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 120 dibaca
Bisik.id
Indonesia Berhenti Impor Solar, Pertamina Luncurkan Kilang

Gambar atau konten salah?

Indonesia sudah berhenti impor bahan bakar solar menurut Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Penghentian ini terjadi bersamaan dengan peluncuran kilang terintegrasi Pertamina di Balikpapan, Kalimantan Timur, yang mulai beroperasi pada Januari 2026.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Eniya Listiani Dewi mengungkapkan bahwa informasi ini berasal dari Pertamina Patra Niaga, subholding PT Pertamina (Persero) di sektor hilir. Ia berbicara di kawasan Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta, pada 27 April 2026.

“Memang sudah tidak impor lagi kan kita. Sudah semua produksi Pertamina, dan iya berlebih, dari adanya waktu itu RDMP Balikpapan yang diresmikan presiden itu sudah berjalan nih. Teman-teman Patra sudah memastikan,” kata Eniya.

Selain itu, pemerintah berupaya meningkatkan kualitas bahan bakar nabati yang dihasilkan dari minyak sawit, yang dikenal sebagai FAME. Langkah ini bagian dari implementasi biodiesel B50 yang dijadwalkan pada Juli 2026.

“FAME itu spesifikasinya naik. Jadi untuk menurunkan sulfur iya, menurunkan emisi sudah pasti,” ujarnya.

Dengan FAME dan solar yang diproduksi di dalam negeri, Indonesia dapat mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil. Eniya menegaskan bahwa semua bahan bakar yang digunakan saat ini berasal dari dalam negeri.

Ia menambahkan, “Spesifikasi dari FAME yang dicampur dengan solar yang disediakan oleh Pertamina Patra Niaga, dan Pak Menteri sudah mencanangkan penggunaan solar seluruhnya dari dalam negeri dan FAME itu juga dari dalam negeri.”

“Jadi, so far karena FAME-nya bagus, solar-nya juga iya. Solar-nya sudah produksi sendiri, dan itu dua-duanya 100% lokal,” jelasnya lagi.

Menurut Eniya, penggunaan bahan bakar yang sepenuhnya dapat diproduksi dalam negeri menjadi penting di tengah ketidakpastian pasokan dan kenaikan harga minyak dunia akibat perang di Timur Tengah. Ia menekankan bahwa harga solar, yang masih tinggi, membuat bahan bakar nabati menjadi pilihan yang lebih ekonomis.

“Kita tahu bahwa harga solar, minyak dunia kan lagi tinggi, itu sekarang bahan bakar nabati yang kita produksi ini, harganya jauh lebih rendah daripada solar. Jadi, saat ini adalah hal yang tepat respon pemerintah untuk menaikkan komposisi dari campuran FAME tersebut,” tegasnya.

Dengan langkah ini, Indonesia menegaskan komitmennya pada energi nasional yang lebih mandiri dan berkelanjutan.

Bahan Bakar SolarKilang PertaminaFAMEBiodiesel B50Energi TerbarukanKalimantan TimurIndonesia MandiriPasokan Minyak Dunia

Komentar

Memuat komentar...