Indonesia Buka Peluang Ekspor Urea ke Australia, Dukung Petani

Putri N. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 82 dibaca
Bisik.id
Indonesia Buka Peluang Ekspor Urea ke Australia, Dukung Petani

Gambar atau konten salah?

Pada Rabu, 15 April 2026, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menerima kunjungan Duta Besar Australia untuk Indonesia di kantor Kementerian Pertanian. Pertemuan ini bertujuan membahas peluang kerja sama di sektor pertanian, khususnya impor pupuk urea.

Sudaryono menjelaskan bahwa konflik geopolitik global dan penutupan Selat Hormuz telah memengaruhi distribusi pupuk dunia. Sekitar sepertiga pasokan pupuk global melewati jalur tersebut, sehingga banyak negara mencari urea.

“Dengan adanya disrupsi ini, banyak negara membutuhkan urea. Indonesia memiliki keunggulan karena mampu memproduksi urea dari gas alam domestik sehingga kita tidak bergantung pada impor untuk komoditas tersebut,” ujar Sudaryono.

Keterangan tertulis Sudaryono diterbitkan Kamis, 16 April 2026. Ia menekankan bahwa Indonesia dapat memanfaatkan keunggulan produksi urea domestik untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri sekaligus menyiapkan surplus untuk ekspor.

Di Indonesia, kapasitas produksi pupuk urea nasional yang dikelola PT Pupuk Indonesia (Persero) mencapai 9,3-9,4 juta ton per tahun. Pada 2026, target produksi urea mencapai 7,8 juta ton, dengan kebutuhan subsidi 6,3 juta ton dan potensi ekspor 1,5 juta ton.

Menurut Sudaryono, surplus tersebut membuka peluang Indonesia ekspor ke berbagai negara termasuk Australia. Namun, ia menegaskan bahwa pemenuhan kebutuhan dalam negeri tetap menjadi prioritas utama.

“Kebutuhan pupuk untuk petani Indonesia adalah super prioritas. Setelah itu terpenuhi, baru sisa produksi dapat dialokasikan untuk ekspor,” tuturnya.

Sudaryono menambahkan bahwa minat terhadap urea Indonesia tidak hanya datang dari Australia, melainkan juga dari India, Filipina, dan Brasil. Pemerintah tetap berhati-hati agar tidak menjanjikan pasokan yang melebihi kemampuan produksi nasional.

Hubungan perdagangan pupuk antara Indonesia dan Australia bersifat timbal balik. Indonesia mengekspor urea, namun juga mengimpor bahan baku seperti fosfat, termasuk DAP (Diammonium Phosphate) dari Australia.

“Ini hubungan yang resiprokal, kita saling membutuhkan yang penting adalah bagaimana kita mengamankan kepentingan nasional sekaligus menjaga hubungan dagang yang sehat,” ujarnya.

Sudaryono memastikan ketersediaan pupuk dalam negeri, khususnya pupuk subsidi, dalam kondisi aman. Tingginya serapan pupuk oleh petani dianggap indikator meningkatnya aktivitas tanam di berbagai daerah.

Jika ada petani yang tidak menemukan pupuk di kios, itu lebih kepada distribusi yang sedang berjalan cepat. Dalam 1-2 hari biasanya sudah tersedia kembali. Artinya pupuk ada dan cukup,” jelasnya.

Ke depan, pemerintah berencana melakukan peremajaan pabrik-pabrik pupuk yang sudah tua untuk meningkatkan efisiensi dan kapasitas produksi nasional. Langkah ini sekaligus memaksimalkan peluang ekspor di tengah tingginya permintaan global.

Dengan kondisi tersebut, Indonesia tidak hanya mampu menjaga ketahanan pupuk nasional, tetapi juga berpotensi memperkuat posisinya sebagai pemasok pupuk di pasar internasional,” pungkasnya.

Keterangan ini menunjukkan bahwa Indonesia berada di posisi strategis untuk memanfaatkan keunggulan produksi urea domestik, sambil tetap menjaga keseimbangan antara kebutuhan dalam negeri dan peluang ekspor.

Pupuk UreaSelat HormuzIndonesiaAustraliaGeopolitikEksporSubsidi

Komentar

Memuat komentar...