Indonesia Dorong Pabrik Pipa Seamless Lokal Tingkatkan TKDN

Dedi S. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 87 dibaca
Bisik.id
Indonesia Dorong Pabrik Pipa Seamless Lokal Tingkatkan TKDN

Gambar atau konten salah?

Jakarta – Industri migas Indonesia masih menghadapi sejumlah pekerjaan rumah, mulai dari ketergantungan impor peralatan hingga keterbatasan teknologi. Kondisi ini membuat Indonesia belum optimal naik ke rantai nilai global.

Hal tersebut muncul dalam kunjungan Ikatan Ahli Fasilitas Produksi Migas Indonesia (IAFMI) ke fasilitas produksi pipa milik Indonesia Seamless Tube (IST) – PT Artas Energi Petrogas di kawasan industri Krakatau Steel, Cilegon. Kunjungan ini juga dihadiri Komunitas Migas Indonesia (KMI).

Gede Pramona, Sekjen IAFMI, menyatakan bahwa penguatan industri penunjang migas perlu didorong, khususnya manufaktur pipa seamless dalam negeri yang saat ini memiliki tingkat komponen dalam negeri (TKDN) sekitar 46 %.

Dalam diskusi tersebut, muncul dorongan agar industri migas tidak hanya bertumpu pada eksploitasi sumber daya, tetapi juga memperkuat kemampuan industri dalam negeri.

Chief Commercial Officer PT Artas Energi Petrogas, Hendrik Kawilarang Luntungan, mengatakan:

"Indonesia tidak bisa terus menjadi pasar bagi industri global. Kita harus menjadi produsen, pemilik teknologi, dan pengendali rantai pasok. Jika tidak sekarang, kita akan terus tertinggal," jelasnya dikutip pada Selasa, 5 Mei 2026.

Sejauh ini, PT Artas Energi Petrogas melalui IST menjadi satu-satunya produsen seamless tube di Indonesia. Perusahaan tersebut telah berkontribusi terhadap devisa melalui substitusi impor dan ekspor ke pasar Asia hingga Timur Tengah.

Produk yang dihasilkan juga telah digunakan dalam proyek kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) dengan standar internasional API 5CT dan API 5L.

IAFMI dan KMI mendorong sejumlah langkah untuk memperkuat industri migas dalam negeri, antara lain menekan impor peralatan, meningkatkan efisiensi biaya, memperkuat TKDN berbasis kualitas, serta mendorong lahirnya industri nasional yang lebih kompetitif.

Namun, tantangan masih cukup besar. Di antaranya ketergantungan impor komponen kritikal, keterbatasan riset dan pengembangan (R&D), regulasi yang dinilai belum kompetitif, hingga kualitas sumber daya manusia (SDM).

Chairman Komunitas Migas Indonesia, S Herry Putranto, menilai perlu ada dukungan kebijakan dan investasi untuk memperkuat industri dalam negeri. Ia berkata:

"PT Artas Energi memiliki sumber daya dan pasar. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk membangun industri sendiri, dengan regulasi yang berpihak kepada kepentingan industri nasional serta investasi teknologi yang serius ditambah kesiapan SDM yang siap bersaing di kancah global," katanya.

Melalui kegiatan ini, pelaku industri juga mendorong pemerintah untuk mempercepat reformasi regulasi, memperkuat rantai pasok dalam negeri, serta membangun ekosistem industri migas yang lebih mandiri.

Indonesia masih perlu mengurangi ketergantungan pada impor, memperkuat manufaktur dalam negeri, dan memperbaiki regulasi agar dapat bersaing di pasar global. Dengan langkah-langkah tersebut, industri migas nasional dapat menempatkan diri lebih kuat dalam rantai nilai global.

industri migasketergantungan impormanufaktur pipa seamlessTKDNregulasi kompetitifinovasi teknologiekosistem industripasar global

Komentar

Memuat komentar...