Indonesia Latih Tenaga Ahli Nickel Bersama China Target 2045

Tika M. · 2 min baca · 3 bulan lalu · 80 dibaca
Bisik.id
Indonesia Latih Tenaga Ahli Nickel Bersama China Target 2045

Gambar atau konten salah?

Indonesia menargetkan menjadi negara maju pada 2045, namun pencapaian itu tidak hanya bergantung pada investasi smelter. Kesiapan sumber daya manusia (SDM) menjadi elemen penting, terutama di sektor nikel yang sedang mengalami percepatan hilirisasi.

Pemerintah menempatkan hilirisasi nikel sebagai strategi utama untuk meningkatkan nilai tambah, ekspor, dan daya saing industri. Meski begitu, pembangunan SDM belum sejalan dengan laju pengembangan fasilitas pengolahan. Kebutuhan tenaga kerja dengan keahlian teknologi proses, seperti High Pressure Acid Leach (HPAL), rekayasa material, dan pengolahan logam, terus meningkat.

Untuk menanggapi tantangan ini, sejumlah program telah diluncurkan. Salah satunya adalah pengembangan talenta teknik yang mengajak mahasiswa Indonesia belajar metalurgi, pertambangan, dan material energi baru. Program ini bertujuan mencetak tenaga ahli yang dapat mendukung industri berbasis teknologi.

Sejumlah 266 mahasiswa Indonesia mengikuti program pendidikan yang merupakan hasil kolaborasi antara pemerintah, GEM Co., Ltd, dan Central South University (CSU) di Tiongkok. GEM adalah perusahaan global yang bergerak di bidang daur ulang material dan rantai pasok baterai, termasuk pengolahan nikel untuk kendaraan listrik.

Fokus utama program ini adalah metalurgi nikel, rekayasa material baterai, teknologi pemrosesan mineral, dan manajemen rantai pasok energi baru. Dalam jangka panjang, program ini menargetkan pencetakan 100 doktor teknik, 1.000 magister teknik, dan 10.000 tenaga teknis untuk mendukung industrialisasi Indonesia.

Target ini sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045, di mana negara diharapkan menjadi salah satu dari lima besar ekonomi dunia. Untuk mencapai visi tersebut, tenaga kerja harus sesuai dengan kebutuhan industri berbasis teknologi.

Di sektor nikel, tantangan SDM semakin terasa. Menurut data USGS 2026, Indonesia memiliki sekitar 44 % cadangan nikel dunia. Posisi ini menempatkan Indonesia sebagai pemain utama dalam rantai pasok global baterai kendaraan listrik. Oleh karena itu, penguatan insinyur lokal menjadi kunci agar Indonesia tidak hanya menjadi basis pengolahan, tetapi juga mampu naik ke industri berbasis teknologi.

Beberapa lulusan program tersebut sudah mulai bekerja di industri, termasuk di Morowali. Salah satunya adalah Evan Wahyu Kristiyanto, yang menjabat sebagai Wakil Manager di departemen HPAL skala industri. Kehadirannya menunjukkan bahwa program ini sudah menghasilkan tenaga kerja yang siap pakai.

Pengamat industri menilai bahwa keberhasilan hilirisasi jangka panjang bergantung pada transfer teknologi yang berjalan di dalam negeri. Ekonom Energi UGM Fahmy Radhi menekankan pentingnya asimilasi teknologi agar hilirisasi berdampak besar pada industrialisasi. Tanpa asimilasi yang tepat, potensi nilai tambah tidak akan maksimal.

Dalam beberapa tahun terakhir, nilai ekspor produk hilirisasi nikel meningkat tajam setelah diberlakukannya larangan ekspor bijih mentah. Tantangan berikutnya adalah memastikan peningkatan tersebut diikuti oleh kualitas SDM nasional yang memadai. Tanpa kualitas SDM, ekspor yang meningkat tidak akan berkelanjutan.

Investasi pada pendidikan teknik dan pengembangan talenta industri dianggap sebagai fondasi penting untuk mencapai target Indonesia Emas 2045. Tanpa investasi tersebut, ambisi negara akan sulit terwujud.

Kesimpulannya, Indonesia sedang menyiapkan tenaga kerja yang kompeten untuk mendukung industri nikel yang semakin maju. Program kolaborasi dengan lembaga internasional dan fokus pada teknologi tinggi menjadi langkah strategis dalam mencapai visi 2045.

Indonesia Emas 2045SDMhilirisasi nikelHPALtalenta teknikGEM Co.rantai pasok baterai

Komentar

Memuat komentar...