Indonesia-Philippines Tandatangani MoU Nikel Strategis

Tika M. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 83 dibaca
Bisik.id
Indonesia-Philippines Tandatangani MoU Nikel Strategis

Gambar atau konten salah?

Jakarta – Indonesia dan Filipina kini menguatkan hubungan strategis di sektor nikel melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) Strategic Nickel Industry Development Cooperation antara Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) dan Philippine Nickel Industry Association (PNIA).

Peristiwa penandatanganan berlangsung di Jakarta, disaksikan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI, Airlangga Hartarto, dan Menteri Perdagangan serta Industri Filipina, Hon. Maria Cristina A. Roque. Kedua pejabat tersebut hadir dalam rangkaian Indonesia-Philippines High Level Business Roundtable.

Airlangga menegaskan, “Kolaborasi ini bukan sekadar kerja sama biasa. Ini adalah fondasi bagi Indonesia-Philippines Nickel Corridor, sebuah platform terstruktur yang menghubungkan kekuatan hilirisasi dan smelter Indonesia dengan pasokan bijih nikel hulu dari Filipina. Ini akan menjadi poros cadangan dan produksi nikel yang tak terpisahkan bagi dunia,” katanya dalam keterangan tertulis pada 08 Mei 2026.

Nickel Corridor dimaksudkan sebagai jalur terstruktur yang menghubungkan proses hilirisasi di Indonesia—dari pertambangan hingga pembuatan produk jadi—dengan pasokan bijih mentah dari Filipina. Dengan cara ini, kedua negara dapat saling melengkapi: Indonesia menyediakan fasilitas pengolahan, sementara Filipina menyalurkan bijih dengan kualitas yang sesuai kebutuhan smelter.

Isi MoU mencakup kerja sama jangka panjang yang bersifat strategis. Poin-poin utama meliputi pertukaran informasi untuk menstabilkan perdagangan nikel di tingkat regional dan global, pengembangan teknologi hilirisasi bersama, pemanfaatan nilai tambah dari produk sampingan industri pengolahan, serta pelatihan sumber daya manusia yang mendukung ekosistem industri nikel berkelanjutan.

Menurut data United States Geological Survey (USGS) 2026, Indonesia dan Filipina secara bersama menguasai 73,6 % produksi nikel global pada 2025. Indonesia menyumbang sekitar 66,7 % atau 2,6 juta ton dan Filipina 6,9 % atau 270.000 ton. Dari sisi cadangan, Indonesia memiliki 44,5 % cadangan nikel dunia atau sebesar 62 juta ton, sementara Filipina 3,4 % atau 4,8 juta ton.

Indonesia saat ini memiliki ekosistem hilirisasi nikel yang sangat masif. Nilai ekspor produk olahan nikel mencapai US$ 9,73 miliar di 2025. Proyeksi investasi hingga US$ 47,36 miliar dan penyerapan 180.600 tenaga kerja diperkirakan tercapai pada 2030.

Smelter-smelter di Indonesia memerlukan pasokan bijih yang stabil dengan rasio silikon terhadap magnesium (Si:Mg) yang tepat. Pasokan ini dapat dipenuhi melalui bijih nikel Filipina yang diolah melalui proses blending.

Dengan adanya koridor ini, Filipina tidak lagi hanya menjadi eksportir bijih mentah. Filipina akan terintegrasi ke rantai nilai regional yang lebih tinggi, sementara Indonesia memperoleh jaminan keamanan pasokan (feedstock security) untuk industri hulu baterai dan baja tahan karat. Hal ini sejalan dengan arahan KTT AECC ke-27 untuk memperkuat rantai pasok kritis di kawasan ASEAN, kata Airlangga.

Airlangga menekankan bahwa nikel merupakan mineral kritis dengan peran sentral dalam transisi energi. Produk turunan nikel dapat diintegrasikan ke dalam strategi ketahanan energi nasional maupun kawasan melalui penguatan penyimpanan energi (energy storage), baik untuk baterai kendaraan listrik maupun baterai penyimpanan energi panel surya.

Dengan demikian, hilirisasi nikel tidak hanya mendukung sektor industri, tetapi juga berkontribusi langsung terhadap bauran energi bersih dan berkelanjutan.

Perjanjian ini menandai langkah konkret Indonesia dan Filipina dalam memperkuat rantai pasok nikel, memperluas nilai tambah, dan memfasilitasi transisi energi di kawasan Asia Tenggara.

NikelIndonesiaFilipinaMoUKoridor Nickelhilirisasipasokan bijihtransisi energi

Komentar

Memuat komentar...