Indonesia Siap Hadapi Gangguan Suplai Energi, Jaga APBN
Gambar atau konten salah?
Beberapa negara di kawasan Timur Tengah mulai merasakan dampak perang yang memengaruhi pasokan energi. Filipina telah mengumumkan status darurat energi nasional, sementara Bangladesh menghadapi krisis bahan bakar minyak (BBM). Indonesia, yang belum terpengaruh secara langsung, dipanggil untuk bersiap menghadapi kemungkinan gangguan suplai yang serupa.
Pada hari Rabu di kantor Jakarta Pusat, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa “darurat energi itu bukan di APBN. Darurat energi adalah kalau misalnya suplainya berhenti, itu yang saya takut. Bukan harganya, (tetapi) suplainya nggak ada, ini kan masih ada suplainya. Jadi kalau dibilang darurat, enggak, tetapi kita mesti siap-siap terus ke depan.”
Ia menambahkan bahwa APBN atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara masih mampu menahan kenaikan harga energi. “Saya nggak akan ubah APBN atau subsidi yang ada sampai titik yang mungkin nanti harganya tinggi sekali. Pada saat sekarang, sampai akhir tahun dengan harga sekarang, kita masih tahan APBN, tergantung keputusan pimpinan nantinya, tetapi saya tawarkan, aman,” ujarnya.
Purbaya juga mengingatkan bahwa perubahan harga minyak dan subsidi energi belum waktunya. “Nanti kalau naiknya (tinggi) baru kita hitung lagi berapa. Jadi nggak otomatis tiba-tiba jadi US$ 100, kan kita hitung rata-rata,” jelasnya. Ia menyerahkan keputusan akhir kepada Presiden Prabowo Subianto.
Secara keseluruhan, pemerintah menyiapkan diri untuk potensi gangguan suplai energi tanpa mengubah kebijakan fiskal yang sudah ada, sambil menunggu keputusan presiden terkait penyesuaian harga dan subsidi.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
